Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
KAI Angkut 2,04 Juta Ton BBM hingga September 2026, Distribusi Energi via Rel Terus Tumbuh

KAI Angkut 2,04 Juta Ton BBM hingga September 2026, Distribusi Energi via Rel Terus Tumbuh

Pelayanan
12 Oktober 2026
by Administrator

Distribusi bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu penopang aktivitas masyarakat dan perekonomian. Di tengah kebutuhan energi yang terus berjalan, kereta api menjadi salah satu moda transportasi yang diandalkan untuk mengangkut BBM dalam jumlah besar ke berbagai wilayah di Jawa dan Sumatra.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat telah mengangkut 2.036.049 ton BBM selama Januari–September 2026. Jumlah ini naik 3,92 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, yang mencapai sekitar 1.959.161 ton. Artinya, ada tambahan sekitar 76.888 ton BBM yang didistribusikan melalui jalur kereta api.

Rata-rata, KAI mengangkut sekitar 7.458 ton BBM per hari selama sembilan bulan tersebut. Angka ini setara dengan sekitar 22,3 persen dari total angkutan barang nonbatu bara KAI yang mencapai 9.148.571 ton pada Januari–September 2026. Secara keseluruhan, angkutan nonbatu bara juga tumbuh 2,6 persen dibandingkan 8.912.566 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan bahwa angkutan BBM memiliki peran penting karena berkaitan langsung dengan kebutuhan energi masyarakat, dunia usaha, sektor pertanian, transportasi, hingga pelayanan publik. Setiap hari, ribuan ton BBM diangkut menggunakan kereta api untuk mendukung distribusi energi dari titik pasok menuju berbagai wilayah konsumsi.

Pengangkutan BBM dilakukan menggunakan gerbong ketel melalui kerja sama dengan Pertamina Group. Layanan ini menghubungkan titik pasok dan terminal BBM dengan sejumlah wilayah distribusi di Jawa dan Sumatra. Produk yang diangkut antara lain Pertalite, Pertamax, dan Bio Solar.

Menurut Anne, kapasitas angkut kereta api memungkinkan BBM dibawa dalam volume besar melalui satu rangkaian perjalanan. Jadwal operasional yang teratur juga mendukung distribusi berulang sesuai kebutuhan pelanggan sekaligus berpotensi mengurangi kebutuhan pergerakan kendaraan angkutan berat di jalan raya.

Peran KAI dalam rantai pasok energi juga berjalan beriringan dengan perubahan penggunaan bahan bakar di sektor transportasi. Sejak 1 Juli 2026, pemerintah mulai menerapkan mandatori Biodiesel B50. Pada saat yang sama, KAI mulai menggunakan B50 secara bertahap pada sarana berbasis diesel, termasuk lokomotif dan kereta pembangkit.

Anne menjelaskan bahwa posisi KAI dalam perubahan energi nasional mencakup dua hal, yakni mendukung distribusi BBM ke berbagai wilayah sekaligus menyesuaikan penggunaan bahan bakar pada sarana operasionalnya. Kedua hal tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam rantai pasok dan penggunaan energi di Indonesia.

Penerapan B50 di lingkungan KAI dilakukan melalui pengujian teknis, pemantauan komponen, evaluasi performa mesin, dan pengendalian kualitas bahan bakar. Keselamatan serta keandalan sarana tetap menjadi perhatian utama. Pemerintah juga menetapkan masa transisi selama tiga bulan sejak Juli 2026 untuk menyesuaikan stok dan penerapan B50 di lapangan.

Dari sisi pencapaian target, realisasi angkutan BBM KAI hingga September 2026 mencapai 2.036.049 ton, sedikit melampaui target kumulatif periode yang sama sebesar 2.035.840 ton.

Anne menilai kebutuhan distribusi energi akan tetap berjalan meskipun komposisi bahan bakar mengalami perubahan. Karena itu, kereta api masih memiliki peran penting dalam mendukung rantai pasok energi melalui layanan angkutan barang berkapasitas besar, terjadwal, dan mengutamakan keselamatan.

Bagikan ke: