Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
41,6 Juta Ton Batu Bara Melaju di Atas Rel, KAI Jaga Arus Logistik Sumatra

41,6 Juta Ton Batu Bara Melaju di Atas Rel, KAI Jaga Arus Logistik Sumatra

Pelayanan
6 Oktober 2026
by Administrator

Puluhan juta ton batu bara terus bergerak dari kawasan produksi menuju berbagai titik distribusi di Sumatra. Di balik besarnya arus komoditas tersebut, perjalanan menggunakan kereta api menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kelancaran logistik batu bara di Indonesia.

Sepanjang Januari–September 2026, sebanyak 41.607.561 ton batu bara diangkut menggunakan layanan KAI di Sumatra. Jumlah tersebut setara sekitar 82 persen dari total 50.756.132 ton angkutan barang yang dilayani selama sembilan bulan pertama 2026.

Besarnya volume tersebut membuat batu bara menjadi komoditas dengan porsi terbesar dalam portofolio angkutan barang KAI. Skala angkutan yang mencapai puluhan juta ton menunjukkan bagaimana jalur rel dapat menjadi bagian dari sistem logistik untuk komoditas dengan volume besar dan pola pengiriman yang rutin.

Angkutan batu bara terkonsentrasi di Sumatra Selatan dan Lampung melalui operasional Divre III Palembang dan Divre IV Tanjungkarang. Hingga September 2026, kedua wilayah tersebut secara keseluruhan membukukan volume angkutan batu bara sebesar 41,61 juta ton.

Skala angkutan tersebut berjalan seiring dengan besarnya aktivitas industri batu bara nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor batu bara Indonesia sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai 201,47 juta ton. Setiap bulannya, volume ekspor berada di kisaran 26,85 juta hingga 29,54 juta ton, dengan Juli mencapai 29,02 juta ton.

Besarnya arus komoditas membuat kebutuhan terhadap sistem logistik yang mampu membawa muatan dalam jumlah besar menjadi semakin penting. Dalam hal ini, kereta api memiliki keunggulan melalui kapasitas angkut dalam satu rangkaian perjalanan serta pola operasi yang dapat disusun secara terjadwal.

Di tengah dinamika industri, sejumlah pelanggan angkutan batu bara juga menunjukkan pertumbuhan volume sepanjang Januari–September 2026. PT Turba Bara Bany Enim mencatat kenaikan dari 911.612 ton pada 2025 menjadi 2.347.582 ton pada 2026 atau tumbuh 157,5 persen.

PT Mustika Indah Permai juga mengalami peningkatan sebesar 32,7 persen, dari 2.721.149 ton menjadi 3.609.664 ton. Sementara itu, volume PT Bukit Bara Alam bertambah sekitar 26 persen, dari 514.316 ton menjadi 647.986 ton.

Pertumbuhan pada sejumlah pelanggan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan kapasitas yang terus berkembang di beberapa koridor angkutan batu bara di Sumatra. Pengelolaan kapasitas pun dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pelanggan, kesiapan sarana dan prasarana, serta aspek keselamatan perjalanan.

Secara keseluruhan, volume batu bara hingga September 2026 tercatat 1,48 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 42.234.185 ton. Pergerakan tersebut menjadi bagian dari dinamika produksi, kebutuhan pelanggan, dan kondisi industri yang terus berubah.

Di luar batu bara, angkutan barang berbasis rel juga terus berkembang untuk berbagai komoditas. Semen dan klinker, peti kemas, BBM, hasil perkebunan, ritel, pupuk, hingga hasil pertanian menjadi bagian dari portofolio angkutan non-batu bara yang terus diperluas.

Peran angkutan barang semakin relevan seiring pertumbuhan aktivitas perdagangan nasional. Sepanjang Januari–Juli 2026, ekspor Indonesia mencapai US$167,03 miliar atau meningkat 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas mencapai US$160,01 miliar atau tumbuh 5,21 persen.

Untuk mendukung pergerakan tersebut, pengelolaan kapasitas lintas, sarana, prasarana, terminal, dan pola operasi terus dilakukan agar kebutuhan industri dapat terlayani dengan tetap mengutamakan keselamatan perjalanan.

Dengan kapasitas besar dan pola pengiriman yang terjadwal, jalur rel memiliki ruang yang semakin luas dalam mendukung pergerakan komoditas nasional. Dari kawasan produksi di Sumatra hingga titik distribusi berikutnya, kereta api terus menjadi bagian dari perjalanan logistik Indonesia.

Bagikan ke: