Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
Konektivitas KITB Batang Makin Terhubung, KAI Dorong Akses Logistik ke Pelabuhan Utama

Konektivitas KITB Batang Makin Terhubung, KAI Dorong Akses Logistik ke Pelabuhan Utama

Pelayanan
22 Agustus 2026
by Administrator

Pergerakan barang dari kawasan industri menuju berbagai destinasi di Pulau Jawa kini punya peluang konektivitas yang semakin beragam. PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI tengah mengkaji penguatan konektivitas angkutan barang dari dan menuju Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) atau Industropolis Batang.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem logistik yang semakin terintegrasi, sehingga barang dari kawasan industri dapat bergerak lebih efisien menuju berbagai titik distribusi hingga pelabuhan utama.

Kajian tersebut melibatkan KAI bersama PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (Perseroda) atau SPJT, Perusahaan Umum Daerah Aneka Usaha Kabupaten Batang atau Perumda Aneka Usaha Batang, serta PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB)/Industropolis Batang.

Bukan cuma soal rel, konektivitas yang dikaji mencakup ekosistem yang lebih luas, mulai dari kawasan industri, dry port, seaport, jaringan kereta api, pergudangan, trucking, hingga pelabuhan utama.

Semakin terkoneksi infrastrukturnya, semakin terbuka pula pilihan bagi pelaku industri untuk mengatur perjalanan barang. Harapannya, distribusi bisa menjadi lebih efisien, fleksibel, sekaligus kompetitif.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan konektivitas logistik menjadi salah satu kunci agar barang dapat bergerak lancar dari pusat produksi menuju pasar domestik maupun internasional.

Kawasan industri membutuhkan jaringan logistik yang mampu menghubungkan pusat produksi dengan pusat distribusi dan pelabuhan secara efisien. KAI melihat kereta api memiliki ruang besar untuk memperkuat jaringan tersebut, terutama untuk pergerakan barang dalam volume besar dan jarak yang semakin panjang.

Pengalaman KAI dalam mengangkut barang dalam skala besar menjadi salah satu modal untuk mendukung peluang tersebut. Sepanjang Januari–Juli 2026, KAI telah mengangkut 38.648.919 ton barang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 31.661.769 ton merupakan batu bara, sedangkan 6.987.150 ton lainnya berasal dari berbagai komoditas nonbatu bara, seperti peti kemas, semen, BBM, komoditas perkebunan, ritel, dan komoditas lainnya.

Pengalaman tersebut membuka peluang bagi KAI untuk ikut mengambil peran dalam mendukung pertumbuhan kawasan industri seperti KITB. Ketika aktivitas produksi meningkat, arus barang pun berpotensi ikut bertambah—dan di sinilah kebutuhan konektivitas menuju terminal, pelabuhan, serta jaringan distribusi menjadi semakin penting.

Mau Kirim Barang ke Mana? Pilihannya Makin Terbuka

Dalam pembahasan awal, sejumlah jalur konektivitas menjadi perhatian, termasuk akses menuju Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Perak/Kalimas di Surabaya, serta Patimban.

Tanjung Priok berpotensi memperkuat akses barang dari KITB menuju jaringan perdagangan internasional. Sementara itu, konektivitas ke Tanjung Perak/Kalimas dapat membuka akses ke jaringan distribusi dan pelayaran di kawasan timur Pulau Jawa.

Patimban juga menjadi salah satu alternatif yang akan dianalisis dengan mempertimbangkan asal dan tujuan barang serta kebutuhan para tenant KITB.

Namun, menentukan moda transportasi tentu bukan sekadar melihat apakah jalurnya tersedia. Jarak, volume, jenis komoditas, frekuensi pengiriman, waktu perjalanan, proses handling, hingga efisiensi keseluruhan rantai logistik akan menjadi bagian dari pertimbangan.

Relasi dengan jarak sekitar 150–200 kilometer ke atas menjadi salah satu rentang yang akan didalami. Sementara untuk tujuan yang lebih dekat, seperti Semarang/Tanjung Emas, pilihan moda akan dibandingkan agar skema distribusi yang digunakan benar-benar efektif dan sesuai kebutuhan.

Dari Pabrik, Naik Kereta, Sampai Pelabuhan

Penguatan konektivitas ini juga mendukung rencana ekosistem logistik Industropolis Batang yang mencakup seaport, dry port, warehouse, container yard, truck parking bay, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Seaport kawasan telah mulai beroperasi sejak 2025. Sementara itu, berdasarkan roadmap awal pengembangan kawasan, dry port diarahkan memasuki tahap operasional secara bertahap pada 2028.

KAI juga melihat integrasi dengan dry port perlu dirancang dengan memperhatikan kondisi teknis di lapangan, termasuk elevasi antara jaringan rel dan area yang direncanakan menjadi dry port.

Karena itu, kajian akan mengeksplorasi berbagai opsi konektivitas, baik melalui akses rel maupun skema intermoda lainnya.

Intinya, infrastruktur yang dibangun nantinya harus benar-benar nyambung dengan kebutuhan operasional, bukan hanya bagus di atas kertas. Skema tersebut juga perlu mampu mengikuti perkembangan volume barang di kawasan seiring pertumbuhan aktivitas industri.

Pembahasan berikutnya akan turut melibatkan KAI Logistik untuk memperkuat pemetaan demand, konsolidasi barang, terminal handling, first mile–last mile, hingga layanan logistik end-to-end.

Seluruh data dan hasil kajian dari KAI, Pelindo, SPJT, Perumda Aneka Usaha Batang, KITB, serta pihak terkait akan dipadukan untuk menemukan model konektivitas yang paling feasible dan sesuai kebutuhan industri.

Ketika kawasan industri, jaringan kereta api, dry port, dan pelabuhan terhubung dalam satu sistem, ruang distribusi barang menjadi semakin luas. KAI siap memberikan kapabilitas perkeretaapian untuk mendukung terbentuknya jaringan logistik yang lebih kuat dan kompetitif.

Bagikan ke: