
KAI Tingkatkan Perlindungan Data Lewat ISO 27001 dan Respons Siber yang Lebih Cepat
Perjalanan dengan layanan digital kini semakin praktis. Mulai dari membeli tiket, memilih jadwal, melakukan pembayaran, hingga proses boarding, seluruhnya dapat dilakukan dengan lebih mudah melalui ekosistem digital KAI. Di balik kemudahan tersebut, PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus memperkuat sistem keamanan informasi untuk memastikan data pelanggan tetap terlindungi.
Penguatan tersebut dilakukan melalui kebijakan pelindungan data, peningkatan keamanan sistem, pengendalian akses, penanganan insiden siber, hingga penyediaan informasi yang transparan mengenai pengelolaan data pelanggan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan bahwa meningkatnya penggunaan layanan digital membuat pengelolaan data menjadi salah satu prioritas perusahaan. Menurutnya, kepercayaan pelanggan dijaga melalui penguatan sistem keamanan, tata kelola yang baik, peningkatan kompetensi pekerja, serta evaluasi berkelanjutan terhadap mekanisme pelindungan data.
Dalam Laporan Keberlanjutan 2025, KAI mengungkapkan bahwa perkembangan teknologi digital juga menghadirkan tantangan berupa risiko keamanan siber, kerentanan perangkat lunak, hingga potensi penyalahgunaan data pribadi. Karena itu, keamanan dan kerahasiaan data pelanggan menjadi bagian penting dalam pengembangan seluruh layanan digital perusahaan.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui Kebijakan Privasi pada aplikasi Access by KAI. Melalui informasi tersebut, pelanggan dapat mengetahui jenis data yang dikelola, tujuan penggunaannya, masa penyimpanan, hingga mekanisme penghapusan data apabila diperlukan.
Langkah tersebut sejalan dengan semangat Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bertema "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur", di mana kedaulatan digital menjadi bagian penting dalam membangun layanan publik yang aman dan terpercaya.
Pemanfaatan teknologi digital juga terus meningkat. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, sebanyak 5.555.034 pelanggan Kereta Api Jarak Jauh telah menggunakan fasilitas Face Recognition Boarding Gate untuk mempercepat proses boarding di stasiun.
Fitur tersebut memungkinkan identitas pelanggan diverifikasi melalui data wajah yang telah terhubung dengan tiket perjalanan. Pelanggan yang telah terdaftar tidak lagi perlu menunjukkan boarding pass, e-boarding pass, maupun KTP saat memasuki area boarding.
Anne menjelaskan bahwa penggunaan Face Recognition sepenuhnya bersifat opsional. Pelanggan yang ingin memanfaatkan layanan tersebut perlu memberikan persetujuan saat registrasi melalui Access by KAI, mesin Check-in Counter, maupun Customer Service di stasiun. Bagi pelanggan yang tidak melakukan registrasi, proses boarding tetap dapat dilakukan melalui mekanisme lain yang tersedia.
Data yang digunakan dalam layanan Face Recognition meliputi nama, Nomor Induk Kependudukan (NIK), dan foto wajah. Sesuai Laporan Keberlanjutan 2025, seluruh data tersebut disimpan pada infrastruktur sistem KAI dan hanya digunakan untuk mendukung operasional Face Recognition Boarding Gate.
Data registrasi Face Recognition disimpan selama satu tahun dan akan terhapus secara otomatis setelah masa penyimpanan berakhir. Pelanggan juga dapat mengajukan penghapusan data lebih awal melalui aplikasi Access by KAI maupun Customer Service di stasiun.
Transformasi digital KAI juga tercermin dari tingginya penggunaan aplikasi Access by KAI. Hingga 30 Juni 2026, aplikasi tersebut telah memiliki 30.449.049 pengguna terdaftar, dengan 9.058.935 pengguna aktif serta total unduhan mencapai 41.011.320 kali.
Selama Semester I 2026, Access by KAI melayani 17.009.374 transaksi tiket Kereta Api Utama dan Kereta Api Lokal atau setara dengan 76,34 persen dari seluruh transaksi melalui kanal penjualan kedua layanan tersebut.
Dari sisi pelanggan, sebanyak 24.544.468 pelanggan memperoleh tiket melalui Access by KAI sepanjang Januari hingga Juni 2026. Jumlah tersebut setara dengan 73,68 persen dari total pelanggan yang membeli tiket melalui seluruh kanal penjualan.
Anne menilai tingginya penggunaan Access by KAI menunjukkan bahwa layanan digital kini telah menjadi bagian penting dari pengalaman perjalanan pelanggan. Aplikasi tersebut tidak hanya digunakan untuk membeli tiket, tetapi juga untuk memperoleh informasi perjalanan, mengubah jadwal, membatalkan tiket, mengakses e-boarding pass, mendaftarkan Face Recognition, hingga memanfaatkan berbagai layanan dalam ekosistem KAI Group.
Seiring semakin luasnya pemanfaatan layanan digital, KAI terus memperkuat keamanan informasi melalui penerapan Sistem Manajemen Keamanan Informasi berstandar internasional ISO 27001. Standar tersebut menjadi acuan dalam mengelola risiko keamanan informasi, mengatur akses data, serta menjaga kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan informasi pelanggan.
Untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman siber, KAI juga membentuk Computer Security Incident Response Team (CSIRT) yang bertugas menangani serta mengoordinasikan respons terhadap insiden keamanan siber.
Selain itu, perusahaan telah menunjuk Data Protection Officer (DPO) yang bertanggung jawab mengawal implementasi kebijakan pelindungan data dan memastikan kepatuhan perusahaan terhadap regulasi yang berlaku. Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, tingkat kematangan tata kelola teknologi informasi KAI telah mencapai sekitar level 3,8.
Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan, KAI juga rutin melakukan vulnerability assessment dan security testing untuk mengidentifikasi potensi kerentanan pada aplikasi maupun infrastruktur digital sebelum berdampak pada pelayanan.
Seluruh pengelolaan data pelanggan dilakukan sesuai Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi serta kebijakan internal perusahaan. KAI juga terus meningkatkan literasi keamanan informasi bagi seluruh pekerja agar pengelolaan data pelanggan dilakukan secara aman, bertanggung jawab, dan sesuai ketentuan.
Anne menegaskan bahwa KAI akan terus mengembangkan teknologi, memperkuat tata kelola, serta meningkatkan kesiapan dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan siber. Bagi KAI, memberikan perjalanan yang nyaman tidak hanya menghadirkan layanan yang mudah digunakan, tetapi juga memastikan setiap data pelanggan terlindungi dengan baik.