
Dari Trem Batavia hingga Whoosh, Teknologi Listrik Bawa Perjalanan Kereta Indonesia Makin Modern
Lebih dari satu abad perjalanan transportasi rel Indonesia telah ditemani perkembangan teknologi listrik. Dimulai dari trem listrik di Batavia pada 1899, perjalanan ini terus berkembang menjadi KRL untuk mobilitas perkotaan, LRT Jabodebek, hingga kereta cepat Whoosh yang membawa teknologi perkeretaapian Indonesia ke level yang semakin modern.
Memasuki HUT ke-81, pengembangan teknologi perkeretaapian terus dilanjutkan melalui perluasan jaringan elektrifikasi dan peningkatan kapasitas layanan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus tumbuh, khususnya di kawasan aglomerasi Jabodetabek.
Salah satu pengembangan yang tengah disiapkan adalah perluasan jaringan KRL. Jalur Bekasi direncanakan diperpanjang dari Cikarang menuju Cikampek, sementara jalur selatan akan dikembangkan hingga Cigombong. Perluasan elektrifikasi ini ditargetkan selesai pada 2028 dan dilakukan secara bertahap untuk mendukung peningkatan kapasitas layanan KRL hingga dua juta pelanggan per hari.
Perjalanan teknologi listrik di Indonesia sendiri memiliki sejarah yang panjang. Semuanya berawal dari hadirnya trem listrik di Batavia yang resmi beroperasi sebagai transportasi umum massal pada 10 April 1899.
Armada trem tersebut didatangkan dari Dyle et Bacalan, Belgia, dan dioperasikan oleh Batavia Elektrische Tram Maatschappij (BETM). Peresmiannya berlangsung di belakang Bataviasche Planten En Dierentuin atau Kebun Binatang Batavia di kawasan Cikini, Menteng, yang juga menjadi lokasi depo trem lengkap dengan fasilitas bengkel dan ruang mesin pembangkit listrik.
Pada masa awalnya, jaringan trem listrik Batavia menghubungkan berbagai kawasan, mulai dari Harmoni, Tanah Abang, Menteng, Kramat, Pasar Senen, Pintu Besi, hingga Stasiun Batavia. Kehadirannya menjadi salah satu tonggak awal pemanfaatan teknologi listrik dalam transportasi berbasis rel di Indonesia.
Perkembangan tersebut kemudian berlanjut ke sistem kereta api. Setelah infrastruktur elektrifikasi dibangun, kereta listrik pertama Indonesia mulai beroperasi pada 6 April 1925 melalui lintas Tanjung Priok–Meester Cornelis atau Jatinegara. Lima tahun kemudian, layanan kereta listrik menuju Batavia–Buitenzorg atau Jakarta–Bogor mulai beroperasi penuh.
Memasuki era setelah kemerdekaan, kereta listrik terus berkembang mengikuti pertumbuhan kota dan kebutuhan perjalanan masyarakat. KRL kemudian menjadi salah satu moda utama transportasi perkotaan, khususnya di wilayah Jabodetabek, dengan peran yang semakin besar dalam mendukung aktivitas masyarakat sehari-hari.
Besarnya kebutuhan tersebut tercermin dari pertumbuhan pelanggan kereta api. Hingga Agustus 2026, KAI Group telah melayani 351.602.397 pelanggan atau meningkat 7,09 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap layanan kereta api, termasuk transportasi berbasis elektrifikasi, terus berkembang.
Perjalanan teknologi listrik kemudian memasuki babak baru pada 2023 melalui hadirnya LRT Jabodebek. Dengan panjang lintasan 44,43 kilometer, layanan ini menggunakan teknologi persinyalan Communication Based Train Control (CBTC) dengan tingkat otomatisasi Grade of Automation 3 (GoA3) tanpa masinis.
Masih pada tahun yang sama, Indonesia memasuki era baru kereta cepat melalui Whoosh. Diresmikan pada 2 Oktober 2023 dan mulai beroperasi secara komersial pada 17 Oktober 2023, Whoosh menggunakan rangkaian CR400AF dengan kecepatan operasi hingga 350 km/jam sekaligus menjadi kereta cepat pertama di Asia Tenggara.
Dari trem listrik yang menjadi bagian dari wajah Batavia, perjalanan teknologi ini terus bergerak hingga menghadirkan KRL, LRT Jabodebek, dan Whoosh. Masing-masing memiliki peran berbeda, mulai dari mendukung perjalanan harian di kawasan perkotaan hingga mempercepat konektivitas antarkota.
Lebih dari sekadar perubahan teknologi, perjalanan panjang ini menunjukkan bagaimana transportasi rel terus beradaptasi mengikuti zaman. Dari sistem trem listrik lebih dari 100 tahun lalu hingga kereta cepat berkecepatan 350 km/jam, inovasi terus menghadirkan pengalaman perjalanan yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Memasuki HUT ke-81, perjalanan tersebut terus dilanjutkan melalui pengembangan elektrifikasi, peningkatan layanan, dan inovasi teknologi. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, listrik menjadi bagian penting dalam menghadirkan mobilitas yang semakin modern, terhubung, dan melayani masyarakat Indonesia.