Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
Menelusuri 10 Terowongan Kereta Api Bersejarah di Indonesia

Menelusuri 10 Terowongan Kereta Api Bersejarah di Indonesia

Umum
21 Oktober 2026
by Administrator

Terowongan kereta api menjadi saksi perkembangan teknologi dan transportasi di Indonesia sejak akhir abad ke-19. Dibangun untuk menembus perbukitan dan menghubungkan berbagai wilayah, terowongan-terowongan bersejarah ini menyimpan cerita tentang tantangan konstruksi, aktivitas ekonomi, hingga kehidupan masyarakat pada masa pembangunannya.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat sejumlah terowongan bersejarah yang tersebar di Jawa dan Sumatera. Pembangunannya berkaitan dengan kebutuhan transportasi untuk mengangkut hasil perkebunan, mendukung kegiatan pertambangan, memperlancar perdagangan, serta menghubungkan kawasan permukiman.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan bahwa terowongan bersejarah memiliki nilai edukasi yang penting untuk dikenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Keberadaannya menggambarkan perkembangan teknik konstruksi pada masa lalu sekaligus memperlihatkan bagaimana kondisi geografis Indonesia memengaruhi pembangunan jaringan kereta api.

Berikut 10 terowongan kereta api bersejarah di Indonesia beserta latar belakang pembangunannya:

1. Terowongan Lampegan – Jawa Barat (1879–1882)

Terletak di kawasan Cianjur, Terowongan Lampegan memiliki panjang historis sekitar 686 meter dan dikenal sebagai terowongan kereta api tertua di Indonesia. Pembangunannya merupakan bagian dari pengembangan jalur kereta api menuju wilayah Priangan yang memiliki medan perbukitan dan menjadi kawasan penting bagi pengangkutan hasil perkebunan.

2. Terowongan Ijo Lama – Jawa Tengah (1885–1886)

Terowongan Ijo Lama memiliki panjang sekitar 580 meter dan berada di kawasan Kebumen. Terowongan ini dibangun sebagai bagian dari pengembangan jalur kereta api di selatan Pulau Jawa, yang harus melintasi perbukitan untuk menghubungkan pusat kegiatan ekonomi dan kawasan permukiman.

3. Terowongan Lembah Anai I – Sumatera Barat (1890–1891)

Terowongan sepanjang sekitar 100 meter ini berada di kawasan pegunungan Lembah Anai. Pembangunannya berkaitan dengan pengembangan jaringan transportasi yang menghubungkan wilayah pedalaman Minangkabau dengan kawasan pesisir.

4. Terowongan Lembah Anai II – Sumatera Barat (1890–1891)

Dengan panjang historis sekitar 200 meter, terowongan ini menjadi bagian dari jalur kereta api Lembah Anai yang memiliki medan curam. Kondisi geografis kawasan tersebut juga mendorong penggunaan teknologi rel bergigi untuk membantu kereta menghadapi tanjakan pegunungan.

5. Terowongan Kupitan – Sumatera Barat (1892–1894)

Terowongan Kupitan memiliki panjang sekitar 600 meter dan berada di lintas Muara Kalaban–Padang Sibusuk. Pembangunannya menjadi bagian dari perluasan jaringan kereta api di Sumatera Barat untuk mendukung pengangkutan komoditas dan menghubungkan berbagai kawasan.

6. Terowongan Lubang Kalam – Sumatera Barat (1892–1894)

Terowongan Lubang Kalam dibangun pada jalur Sawahlunto–Muara Kalaban dengan panjang sekitar 828 meter menurut dokumen nominasi UNESCO. Keberadaannya berkaitan erat dengan sejarah pertambangan batu bara Ombilin. Jalur kereta api tersebut menjadi bagian dari sistem pengangkutan batu bara dari pedalaman Sumatera Barat menuju Pelabuhan Emmahaven, yang kini dikenal sebagai Teluk Bayur, untuk perdagangan internasional.

7. Terowongan Garahan – Jawa Timur (1901–1902)

Terletak di kawasan pegunungan pada lintas Jember–Banyuwangi, Terowongan Garahan memiliki panjang sekitar 113 meter. Terowongan ini menjadi bagian dari pembangunan jaringan kereta api yang menghubungkan wilayah timur Pulau Jawa melalui medan berbukit.

8. Terowongan Mrawan – Jawa Timur (1901–1902)

Terowongan Mrawan memiliki panjang sekitar 690 meter dan berada di kawasan Gunung Gumitir. Pembangunannya dilakukan dari dua arah untuk menembus kawasan pegunungan yang menghubungkan Jember dan Banyuwangi, menjadikannya salah satu contoh tantangan konstruksi pada jalur kereta api di wilayah tersebut.

9. Terowongan Sasaksaat – Jawa Barat (1902–1903)

Dengan panjang sekitar 949 meter, Terowongan Sasaksaat dibangun pada lintas Purwakarta–Padalarang. Catatan sejarah KAI menyebutkan bahwa penggalian dilakukan dari dua sisi bukit. Ketika menghadapi batuan keras, pekerja melakukan pengeboran secara manual karena penggunaan bahan peledak dan mesin dikhawatirkan memengaruhi kestabilan tanah. Penerangan listrik dari dinamo juga digunakan untuk membantu proses pengerjaan.

10. Terowongan Batulawang – Jawa Barat (1914)

Terowongan Batulawang memiliki panjang historis sekitar 281,5 meter dan berada pada bekas jalur kereta api Banjar–Cijulang. Jalur tersebut dibangun untuk menghubungkan kawasan selatan Jawa Barat dengan jaringan transportasi yang lebih luas. Meski lintasnya kini tidak lagi beroperasi, peninggalan tersebut tetap menjadi bagian dari sejarah perkeretaapian di Indonesia.

Pembangunan terowongan-terowongan tersebut berlangsung pada periode perkembangan teknologi perkeretaapian dunia. Di Eropa, Terowongan Gotthard di Swiss, sepanjang sekitar 15 kilometer, mulai beroperasi pada 1882. Sementara itu, Terowongan Simplon dengan panjang sekitar 19,8 kilometer mulai beroperasi pada 1906. Pada periode yang berdekatan, pembangunan terowongan di Indonesia menghadapi tantangan tersendiri, mulai dari medan perbukitan hingga kondisi geografis tropis.

Keterkaitan antara perkeretaapian dan sejarah industri juga terlihat di Sumatera Barat. Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 2019. Kawasan ini mencakup sistem pertambangan, jaringan transportasi kereta api, dan fasilitas pelabuhan yang dikembangkan pada masa kolonial. Sejarahnya juga meliputi pengalaman para pekerja, termasuk buruh paksa, yang menjadi bagian penting dari konteks sosial pada masa itu.

Anne menjelaskan bahwa peninggalan perkeretaapian dapat menjadi sumber pembelajaran lintas bidang, mulai dari teknik sipil dan geologi hingga transportasi, sejarah ekonomi, serta perdagangan internasional. Dokumentasi dan penyampaian informasi yang sesuai konteks dinilai penting agar masyarakat dapat memahami nilai sejarah dan budaya dari setiap peninggalan.

Memasuki 159 tahun perkeretaapian Indonesia pada 2026, terowongan bersejarah menjadi salah satu bagian yang memperlihatkan perjalanan panjang transportasi rel di Tanah Air. Sebagian masih berada pada jaringan aktif, sementara lainnya merupakan peninggalan jalur yang sudah tidak beroperasi. Keduanya menyimpan nilai dokumentasi dan pendidikan bagi generasi sekarang maupun mendatang.

Melalui arsip, dokumentasi, museum, dan kolaborasi dengan berbagai pihak, KAI berharap sejarah perkeretaapian Indonesia dapat terus dipelajari masyarakat. Peninggalan tersebut tidak hanya menceritakan perkembangan teknologi transportasi, tetapi juga menggambarkan hubungan antara pembangunan infrastruktur, kondisi geografis, kegiatan ekonomi, dan kehidupan sosial pada masanya.

Bagikan ke:

Kami menggunakan cookie

Situs ini menggunakan cookie untuk analitik dan meningkatkan pengalaman Anda. Anda dapat menerima atau menolak penggunaan cookie non-esensial. Pelajari Kebijakan Privasi.