
Hari Energi Sedunia, KAI Pangkas Konsumsi Energi 15,39 Persen lewat PLTS dan Digitalisasi
Efisiensi energi kini menjadi bagian dari upaya menghadirkan operasional perkeretaapian yang lebih berkelanjutan. Mulai dari pemanfaatan panel surya untuk mendukung kebutuhan listrik hingga digitalisasi layanan yang mengurangi penggunaan kertas, berbagai langkah dilakukan untuk mengoptimalkan pemakaian sumber daya. Kebiasaan sederhana pelanggan, seperti mengisi ulang air minum menggunakan botol pakai ulang, turut melengkapi upaya tersebut.
Memperingati Hari Energi Sedunia pada 22 Oktober, PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) terus mengembangkan pengelolaan energi dan sumber daya melalui pemanfaatan energi terbarukan, peningkatan efisiensi operasional, serta penyediaan fasilitas yang mendukung kebiasaan ramah lingkungan.
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan KAI 2025, konsumsi energi perusahaan turun dari 11.945.467 gigajoule (GJ) pada 2024 menjadi 10.107.302 GJ pada 2025. Penurunan sebesar 1.838.165 GJ tersebut setara dengan 15,39%. Pada periode yang sama, intensitas energi per pelanggan juga turun sekitar 22,05%, dari 0,0263 GJ menjadi 0,0205 GJ per pelanggan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan bahwa pengelolaan energi perlu berjalan beriringan dengan perkembangan layanan. Pemantauan konsumsi, pemanfaatan teknologi, dan pengembangan sumber energi alternatif menjadi bagian dari upaya perusahaan menggunakan sumber daya secara lebih efisien dan bertanggung jawab.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengoperasikan 113 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di 92 lokasi, dengan total kapasitas terpasang 4.430,65 kilowatt peak (kWp) atau sekitar 4,43 megawatt peak (MWp). Fasilitas ini tersebar di stasiun, balai yasa, kantor, griya karya, depo, dan record center untuk mendukung kebutuhan listrik di lingkungan operasional KAI.
Digitalisasi layanan juga memberikan manfaat dalam mengurangi penggunaan kertas. Selama Semester I 2026, sebanyak 5.555.034 pelanggan KA Jarak Jauh memanfaatkan fasilitas Face Recognition Boarding Gate. Penggunaan teknologi tersebut diperkirakan mengurangi kebutuhan hingga 13.888 rol kertas boarding pass, dengan efisiensi biaya sekitar Rp203,80 juta. Meski demikian, pengurangan kertas merupakan manfaat langsung digitalisasi, sedangkan dampak penghematan energinya perlu dihitung secara terpisah.
Upaya mengurangi sampah plastik turut dilakukan melalui penyediaan 124 unit Water Station di 58 stasiun yang mencakup 70 area pelayanan hingga Juni 2026. Fasilitas isi ulang air minum gratis ini memungkinkan pelanggan mengisi tumbler atau botol pakai ulang selama perjalanan. Berdasarkan estimasi konservatif, jika 10% pelanggan KA Jarak Jauh dan Lokal selama Semester I 2026 mengisi ulang air minum satu kali, potensi pengurangan penggunaan botol plastik sekali pakai mencapai sekitar 2,99 juta botol. Angka tersebut merupakan estimasi potensi, bukan realisasi penggunaan.
Anne menjelaskan bahwa setiap program keberlanjutan perlu dievaluasi menggunakan indikator yang sesuai dengan manfaatnya. Penurunan konsumsi energi, kapasitas PLTS, pengurangan penggunaan kertas, dan potensi pengurangan sampah plastik merupakan indikator berbeda yang dapat memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai upaya perusahaan dalam mengelola sumber daya.
Melalui langkah-langkah tersebut, KAI terus mendorong efisiensi yang terukur sekaligus mengajak pelanggan berpartisipasi dalam kebiasaan yang lebih ramah lingkungan. Pemanfaatan teknologi dan energi terbarukan di lingkungan operasional diharapkan dapat berjalan beriringan dengan perubahan sederhana dalam aktivitas sehari-hari, termasuk menggunakan layanan digital dan membawa botol minum pakai ulang.