
Dari Rel Penghubung Negeri hingga Kereta 350 Km/Jam, Begini Perjalanan 81 Tahun KAI
Delapan dekade perjalanan kereta api menjadi bagian dari cerita panjang mobilitas Indonesia. Dari masa awal kemerdekaan ketika jalur rel menjadi penghubung antarkota dan antarwilayah, hingga hadirnya kereta berteknologi modern, perjalanan tersebut terus bergerak mengikuti kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.
Salah satu tonggak penting terjadi pada 28 September 1945, ketika para pekerja kereta api mengambil alih pengelolaan perkeretaapian dari Jepang setelah Indonesia merdeka. Peristiwa tersebut menjadi awal lahirnya Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) yang kemudian diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia.
Pada masa awal Republik Indonesia, kereta api memiliki peran penting dalam menghubungkan berbagai wilayah. Jalur rel yang membentang di sejumlah daerah menjadi penggerak mobilitas masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi di tengah proses pembangunan bangsa.
Seiring waktu, kebutuhan masyarakat ikut berubah. Dari yang awalnya berfokus pada perjalanan antarkota dan antarwilayah, layanan kereta api berkembang menjadi semakin beragam, mulai dari perjalanan jarak jauh dan lokal hingga transportasi harian masyarakat perkotaan.
Perjalanan teknologi juga menjadi bagian penting dalam evolusi tersebut. Jauh sebelum hadirnya kereta modern saat ini, elektrifikasi perkeretaapian Indonesia telah dimulai pada 6 April 1925 melalui pengoperasian kereta listrik lintas Tanjung Priok–Meester Cornelis atau Jatinegara.
Perkembangan kawasan perkotaan kemudian mendorong KRL menjadi salah satu moda penting untuk mobilitas harian, khususnya di wilayah Jabodetabek. Dengan jumlah perjalanan yang besar setiap harinya, layanan kereta listrik terus berkembang untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin dinamis.
Babak baru transportasi berbasis listrik hadir pada 2023 melalui LRT Jabodebek. Membentang sepanjang 44,43 kilometer, layanan ini menggunakan teknologi persinyalan Communication Based Train Control (CBTC) dengan tingkat otomatisasi Grade of Automation Level 3 (GoA3), sehingga perjalanan dapat dioperasikan secara otomatis dengan tetap berada dalam pengawasan petugas.
Masih pada tahun yang sama, perjalanan kereta Indonesia melaju semakin cepat melalui hadirnya Whoosh. Diresmikan pada 2 Oktober 2023 dan mulai melayani operasional komersial pada 17 Oktober 2023, kereta cepat berbasis listrik ini menggunakan rangkaian CR400AF dengan kecepatan operasi hingga 350 km/jam dan menjadi kereta cepat pertama di Asia Tenggara.
Kehadiran Whoosh memperluas pilihan mobilitas masyarakat sekaligus menunjukkan bagaimana teknologi terus membawa perjalanan kereta api ke level berikutnya. Jika dahulu kereta menjadi penghubung antarkota, kini teknologi memungkinkan perjalanan dilakukan dengan kecepatan yang semakin tinggi dan pengalaman yang semakin modern.
Besarnya peran kereta api juga terlihat dari jumlah masyarakat yang menggunakannya. Sepanjang Januari–Agustus 2026, KAI Group telah melayani 351.602.397 pelanggan, meningkat 7,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 328.311.868 pelanggan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 317,7 juta pelanggan atau 90,29 persen menggunakan layanan publik yang mencakup kereta komuter, kereta lokal, dan layanan penugasan pemerintah. Angka ini menunjukkan bahwa kereta api tidak hanya menjadi pilihan perjalanan, tetapi telah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari.
Pertumbuhan tersebut berasal dari berbagai layanan dalam ekosistem KAI Group, mulai dari KAI Commuter, Kereta