Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
Dari Nagreg hingga Siantar, 10 Stasiun di Ketinggian Ini Punya Cerita Perjalanan Berbeda

Dari Nagreg hingga Siantar, 10 Stasiun di Ketinggian Ini Punya Cerita Perjalanan Berbeda

Umum
11 Oktober 2026
by Administrator

Pernah membayangkan naik kereta api melewati kawasan pegunungan dengan stasiun yang berada ratusan meter di atas permukaan laut? Di Indonesia, ada sejumlah stasiun di Jawa dan Sumatra yang punya karakter geografis unik, tetapi tetap aktif melayani perjalanan masyarakat hingga sekarang.

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat sepuluh stasiun dengan elevasi tinggi yang masih melayani naik dan turun pelanggan. Dari Stasiun Nagreg di Jawa Barat yang berada pada ketinggian 848 meter di atas permukaan laut (mdpl) hingga Stasiun Lubuk Linggau di Sumatra pada 130 mdpl, setiap stasiun memiliki karakter lintasan dan pola perjalanan yang berbeda.

Di Pulau Jawa, lima stasiun dengan elevasi tertinggi dalam daftar ini adalah Nagreg (848 mdpl), Cipeundeuy (772 mdpl), Cimindi (736 mdpl), Cimahi (723 mdpl), dan Garut (717 mdpl). Sementara di Sumatra, terdapat Stasiun Siantar (383,47 mdpl), Baja Linggei (284,20 mdpl), Dolok Merangir (144,56 mdpl), Kayutanam (144 mdpl), dan Lubuk Linggau (130 mdpl).

Vice President of Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan bahwa angka elevasi pada papan nama stasiun menunjukkan beragam karakter geografis yang dilalui kereta api. Perjalanan kereta tidak hanya melewati dataran rendah, tetapi juga kawasan pegunungan dengan kondisi lintasan berbeda. Menariknya, stasiun-stasiun tersebut tetap melayani beragam kebutuhan masyarakat, mulai dari perjalanan harian hingga antarkota.

Nagreg hingga Garut, aktivitas pelanggan beragam

Stasiun Nagreg menjadi stasiun dengan elevasi tertinggi dalam daftar ini. Berada pada ketinggian 848 mdpl, Nagreg mencatat 42.566 aktivitas pelanggan Commuter Line Area II Bandung sepanjang Januari–September 2026, terdiri atas 26.712 pelanggan naik dan 15.854 pelanggan turun.

Berikutnya, Stasiun Cipeundeuy yang berada pada elevasi 772 mdpl mencatat 38.524 aktivitas pelanggan kereta api jarak jauh (KA JJ). Jumlah tersebut terdiri atas 20.009 pelanggan naik dan 18.515 pelanggan turun. Stasiun ini memiliki peran operasional tersendiri karena kereta yang melintas menjalani pemeriksaan sebelum melanjutkan perjalanan di lintasan pegunungan.

Berbeda dengan kedua stasiun tersebut, aktivitas pelanggan di Stasiun Cimindi jauh lebih besar. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, stasiun pada elevasi 736 mdpl ini mencatat 874.522 aktivitas pelanggan Commuter Line, terdiri atas 460.122 gate in dan 414.400 gate out. Cimindi menjadi salah satu titik layanan Commuter Line di kawasan Bandung Raya.

Di ketinggian 723 mdpl, Stasiun Cimahi mencatat total 1.400.263 aktivitas naik-turun pelanggan, tertinggi di antara lima stasiun dengan elevasi tertinggi di Jawa dalam daftar ini. Angka tersebut terdiri atas 298.903 aktivitas pelanggan KA jarak jauh, dengan 154.984 pelanggan naik dan 143.919 pelanggan turun, serta 1.101.360 aktivitas Commuter Line Area II Bandung, yang mencakup 551.062 gate in dan 550.298 gate out.

Sementara itu, Stasiun Garut pada elevasi 717 mdpl mencatat 746.601 aktivitas pelanggan. Jumlah tersebut terdiri atas 330.612 aktivitas pelanggan KA jarak jauh, yakni 169.081 pelanggan naik dan 161.531 pelanggan turun, serta 415.989 aktivitas Commuter Line, dengan 211.551 gate in dan 204.438 gate out. Stasiun Garut kembali melayani perjalanan kereta api setelah lintas Cibatu–Garut direaktivasi dan diresmikan pada 24 Maret 2022.

Dari Sumatra Utara hingga Sumatra Barat

Beralih ke Sumatra, Stasiun Siantar menjadi stasiun dengan elevasi tertinggi dalam daftar ini, yaitu 383,47 mdpl. Sepanjang Januari–September 2026, stasiun ini mencatat 279.492 aktivitas pelanggan, terdiri atas 141.672 pelanggan naik dan 137.820 pelanggan turun. Siantar menjadi salah satu titik utama layanan KA Siantar Ekspres di Sumatra Utara.

Masih di koridor KA Siantar Ekspres, Stasiun Baja Linggei pada elevasi 284,20 mdpl mencatat 5.071 aktivitas pelanggan, terdiri atas 2.714 pelanggan naik dan 2.357 pelanggan turun. Sementara itu, Stasiun Dolok Merangir pada elevasi 144,56 mdpl membukukan 17.344 aktivitas, dengan 9.238 pelanggan naik dan 8.106 pelanggan turun.

Di Sumatra Barat, Stasiun Kayutanam yang berada pada elevasi 144 mdpl mencatat 113.210 aktivitas pelanggan. Jumlah tersebut terdiri atas 54.156 pelanggan naik dan 59.054 pelanggan turun. Selain menjadi salah satu titik layanan KA Lembah Anai, Kayutanam juga memiliki keterkaitan sejarah dengan jalur pegunungan menuju Padang Panjang yang menggunakan sistem rel bergerigi.

Sementara itu, Stasiun Lubuk Linggau berada pada elevasi 130 mdpl dan menjadi stasiun dengan elevasi tertinggi di wilayah Divisi Regional III Palembang. Sepanjang Januari–September 2026, stasiun ini mencatat 380.481 aktivitas pelanggan, terdiri atas 192.460 pelanggan naik dan 188.021 pelanggan turun. Lubuk Linggau melayani perjalanan KA Bukit Serelo dan KA Sindang Marga.

Secara keseluruhan, sepuluh stasiun tersebut mencatat 3.898.074 aktivitas naik-turun pelanggan selama Januari–September 2026. Angkanya menunjukkan bahwa karakter mobilitas di setiap stasiun tidak sama. Cimahi dan Cimindi berkaitan erat dengan aktivitas perjalanan di Bandung Raya, sedangkan Garut dan Lubuk Linggau melayani perjalanan antarkota dan regional. Di sisi lain, Nagreg, Cipeundeuy, Siantar, Baja Linggei, Dolok Merangir, dan Kayutanam melayani masyarakat di lintasan dengan karakter geografis berbeda.

Anne menambahkan bahwa setiap stasiun memiliki cerita tersendiri, mulai dari kondisi geografis dan sejarah hingga pola perjalanan masyarakat. Dari Nagreg pada elevasi 848 meter hingga Lubuk Linggau pada 130 meter di atas permukaan laut, data aktivitas pelanggan memperlihatkan bahwa stasiun-stasiun di lintasan berelevasi tinggi tetap menjadi bagian dari mobilitas masyarakat saat ini.

Bagikan ke: