Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
Dari Merak ke Ketapang, Krueng Mane ke Tanjungkarang, Menyusuri Ujung Jaringan Kereta Api Jawa–Sumatra

Dari Merak ke Ketapang, Krueng Mane ke Tanjungkarang, Menyusuri Ujung Jaringan Kereta Api Jawa–Sumatra

Umum
4 Oktober 2026
by Administrator

Jaringan kereta api Indonesia tidak hanya menghubungkan kota-kota besar, tetapi juga menjangkau berbagai titik di ujung jaringan Jawa dan Sumatra. Di Pulau Jawa, perjalanan kereta api menjangkau Stasiun Merak di sisi barat dan Stasiun Ketapang di ujung timur. Sementara di Sumatra, layanan penumpang aktif menjangkau Krueng Mane di Aceh dan Tanjungkarang di Lampung sebagai salah satu pintu utama perjalanan kereta api di sisi tenggara pulau.

Keempat stasiun tersebut memiliki cerita yang berbeda. Ada yang tumbuh bersama aktivitas pelabuhan, ada yang menjadi penghubung kota dan wilayah pesisir, dan ada pula yang menjadi bagian dari pembangunan jaringan kereta api sejak lebih dari satu abad lalu. Meski sejarahnya berbeda, semuanya masih menjadi bagian dari mobilitas masyarakat hingga kini.

Vice President of Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan bahwa letak geografis dan sejarah setiap stasiun membuat perjalanan kereta api memiliki karakter tersendiri. Keberadaan rel di berbagai wilayah juga memperlihatkan bagaimana jaringan kereta api terus terhubung dengan kehidupan masyarakat dari masa ke masa.

Di barat Pulau Jawa, Stasiun Merak berada dekat dengan Pelabuhan Merak yang menghubungkan Jawa dan Sumatra melalui penyeberangan Selat Sunda. Jejak kereta api menuju Merak telah ada sejak awal abad ke-20 dan hingga kini stasiun tersebut masih melayani perjalanan masyarakat pada lintas Rangkasbitung–Merak. Kedekatan stasiun dengan pelabuhan memungkinkan pelanggan melanjutkan perjalanan menuju Sumatra melalui penyeberangan Merak–Bakauheni.

Beranjak ke ujung timur Jawa, perjalanan kereta api mencapai Stasiun Ketapang di Banyuwangi. Sejarah jaringan kereta api di kawasan ini bermula ketika jalur menuju Banyuwangi dibuka pada 2 Februari 1903. Seiring perkembangan kawasan dan perpindahan aktivitas pelabuhan, jaringan kereta api kemudian menjangkau Ketapang. Kini, Stasiun Ketapang menjadi salah satu akses menuju Banyuwangi sekaligus pintu perjalanan lanjutan ke Bali melalui Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk.

Aktivitas di Stasiun Ketapang pun terus bertumbuh. Sepanjang Januari–September 2026, stasiun ini mencatat 615.161 pergerakan pelanggan naik dan turun, terdiri atas 292.618 pelanggan berangkat dan 322.543 pelanggan tiba. Jumlah tersebut meningkat 8,56 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencatat 566.643 pergerakan.

Berbeda dengan Merak dan Ketapang yang berada di Pulau Jawa, Stasiun Krueng Mane di Aceh menjadi salah satu titik ujung layanan penumpang aktif pada jaringan KA Cut Meutia. Layanan tersebut menghubungkan Krueng Geukueh–Bungkaih–Krueng Mane, sehingga perjalanan kereta api tetap menjadi bagian dari mobilitas masyarakat Aceh sekaligus meneruskan sejarah panjang perkeretaapian di bagian utara Sumatra.

Sementara itu, di sisi tenggara Sumatra, Stasiun Tanjungkarang memiliki sejarah yang erat dengan perkembangan jalur kereta api dan Pelabuhan Panjang. Pembangunannya dimulai pada 1911 dan stasiun tersebut diresmikan pada 30 Juni 1914. Pada masa awal, Tanjungkarang turut melayani pergerakan pegawai dan material dari Pelabuhan Panjang sebelum berkembang menjadi salah satu stasiun utama di Lampung.

Lebih dari satu abad kemudian, aktivitas Stasiun Tanjungkarang tetap kuat. Sepanjang Januari–September 2026, stasiun ini mencatat 562.993 pergerakan pelanggan naik dan turun, terdiri atas 280.094 pelanggan berangkat dan 282.899 pelanggan tiba. Jumlah tersebut tumbuh 13,99 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 493.881 pergerakan.

Dari Merak hingga Ketapang, serta Krueng Mane hingga Tanjungkarang, keberadaan stasiun menunjukkan bahwa perjalanan kereta api bukan hanya soal titik keberangkatan dan kedatangan. Setiap stasiun membawa cerita wilayahnya sendiri dan terus terhubung dengan aktivitas masyarakat, ekonomi, keluarga, hingga pariwisata.

Ke depan, KAI terus mendorong konektivitas kereta api agar manfaatnya dapat dirasakan semakin luas, termasuk melalui titik-titik yang menjadi bagian dari ujung jaringan di berbagai wilayah Indonesia.

Bagikan ke: