
553 Ribu Pelanggan Singgah di Stasiun Ketapang, Jejak Sejarahnya Terus Berlanjut
Lebih dari sekadar tempat naik dan turun kereta, Stasiun Ketapang di Banyuwangi punya cerita panjang yang sudah menemani perjalanan masyarakat sejak lebih dari satu abad lalu. Kini, stasiun di ujung timur Pulau Jawa tersebut semakin ramai dan menjadi salah satu penghubung perjalanan menuju Banyuwangi hingga Pulau Bali.
Sepanjang Januari–Agustus 2026, Stasiun Ketapang mencatat 553.202 aktivitas pelanggan naik dan turun, tumbuh 8,50% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 509.862 aktivitas.
Kalau melihat perjalanannya dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan ini juga cukup terasa. Aktivitas pelanggan yang pada Januari–Agustus 2022 tercatat 277.928 terus meningkat menjadi 388.193 pada 2023, 449.867 pada 2024, dan 509.862 pada 2025. Hingga Agustus 2026, jumlahnya mencapai 553.202 aktivitas atau tumbuh sekitar 99,05% dibandingkan 2022.
VP of Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan perkembangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Stasiun Ketapang yang terus mengikuti perubahan kawasan dan kebutuhan masyarakat.
Cerita Stasiun Ketapang sendiri sudah dimulai sejak awal 1900-an. Saat itu, jaringan kereta api menuju Banyuwangi dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api negara Hindia Belanda. Jalur terakhir Mrawan–Banyuwangi sepanjang 58 kilometer kemudian selesai dan dibuka untuk umum pada 2 Februari 1903, sekaligus menandai beroperasinya Stasiun Banyuwangi sebagai stasiun ujung timur Pulau Jawa.
Pada masa itu, stasiun juga punya peran penting dalam aktivitas perdagangan. Letaknya terhubung dengan Pelabuhan Boom di kawasan Mandar, sehingga kereta api tidak hanya membawa penumpang, tetapi juga mendukung pergerakan barang yang keluar dan masuk Banyuwangi melalui jalur laut.
Aktivitas kereta api pun semakin berkembang. Pada 1926, tercatat ada 12 perjalanan kereta api yang singgah di Stasiun Banyuwangi untuk melayani perjalanan pulang-pergi Kalibaru–Banyuwangi dan Kalisat–Banyuwangi.
Seiring berkembangnya kawasan, pusat konektivitas Banyuwangi kemudian bergeser ke Ketapang. Aktivitas pelabuhan dipindahkan dari Pelabuhan Boom ke kawasan Ketapang sejak 1 Januari 1974. Tidak berhenti di situ, jalur kereta api baru juga dibangun untuk mendukung konektivitas dengan kawasan penyeberangan menuju Bali.
Pada 7 September 1985, jalur Kabat–Banyuwangi Baru resmi dibuka bersamaan dengan beroperasinya Stasiun Banyuwangi Baru. Lokasinya yang lebih dekat dengan Pelabuhan Ketapang membuat pelayanan penumpang secara bertahap berpindah dari Stasiun Banyuwangi Lama.
Stasiun Banyuwangi Lama kemudian resmi dinonaktifkan pada 31 Maret 1988, sementara Stasiun Banyuwangi Baru akhirnya berganti nama menjadi Stasiun Ketapang pada 2019.
Kini, kedekatannya dengan Pelabuhan Ketapang membuat stasiun ini punya posisi strategis bagi masyarakat yang melanjutkan perjalanan ke Bali. Pertumbuhan aktivitas pelanggan yang hampir dua kali lipat dalam lima tahun terakhir juga menunjukkan bahwa peran Stasiun Ketapang terus berkembang sebagai bagian dari konektivitas di ujung timur Pulau Jawa.
Anne menambahkan, perjalanan Stasiun Ketapang memperlihatkan bagaimana sebuah stasiun dapat terus beradaptasi mengikuti perkembangan wilayah. Dari yang dahulu ikut mendukung aktivitas perdagangan melalui Pelabuhan Boom, kini Stasiun Ketapang menjadi bagian dari perjalanan masyarakat menuju Banyuwangi dan Bali.
Lebih dari 120 tahun setelah kereta api pertama kali mencapai Banyuwangi, Stasiun Ketapang masih menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan menjelajahi ujung timur Pulau Jawa.