
KAI Mulai Bangun Hunian di Manggarai, Tinggal Makin Praktis dengan Akses Transportasi Publik
Tinggal di tengah kota dengan akses transportasi publik yang mudah kini semakin dekat dengan kenyataan. KAI resmi memulai pembangunan Hunian Manggarai melalui groundbreaking di kawasan Manggarai, Jakarta, Jumat (21/8). Kehadiran hunian vertikal ini menjadi bagian dari dukungan KAI terhadap Program 3 Juta Rumah sekaligus langkah untuk mengoptimalkan aset perkeretaapian agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Berada di salah satu kawasan dengan mobilitas tinggi di Jakarta, Hunian Manggarai menawarkan konsep tempat tinggal yang praktis dan terhubung dengan transportasi publik. Stasiun Manggarai saat ini melayani sekitar 162 ribu pelanggan setiap hari dengan sekitar 700–750 perjalanan kereta api per hari, termasuk Commuter Line Jabodetabek dan Commuter Line Basoetta.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengatakan, menghadirkan hunian terjangkau di tengah kota membutuhkan kolaborasi berbagai pihak agar masyarakat bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak dengan lebih cepat dan tepat sasaran.
Kita tidak bisa bekerja sendirian. Kolaborasi menjadi penting agar penyediaan rumah bagi masyarakat dapat berjalan lebih cepat. Di Manggarai, KAI bersama para pihak terkait membangun hunian vertikal di tengah kota yang nantinya dapat dimanfaatkan masyarakat dengan harga terjangkau.
Menurut Maruarar, konsep hunian yang dekat dengan transportasi publik seperti di Manggarai juga dapat dikembangkan di lokasi lainnya. Aset KAI di kawasan stasiun yang memiliki lahan dan akses transportasi memadai dinilai memiliki potensi untuk menghadirkan hunian terintegrasi yang semakin dekat dengan aktivitas masyarakat.
Ini kami harapkan dapat diteruskan di tempat lain. Di kawasan stasiun yang memiliki lahan dan akses transportasi yang baik, pengembangan seperti ini dapat kembali dilakukan untuk masyarakat.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan Hunian Manggarai dikembangkan dengan membawa tiga prinsip utama, yaitu layak, terjangkau, dan berkelanjutan.
Layak berarti memenuhi standar keselamatan, kualitas, kenyamanan, dan fungsi hunian. Terjangkau berarti pengembangannya mengikuti kebijakan dan skema pemerintah bagi masyarakat yang menjadi sasaran. Berkelanjutan mencakup pemanfaatan lahan secara efisien, keterhubungan dengan angkutan massal, kepatuhan terhadap lingkungan, serta pengelolaan kawasan dalam jangka panjang.
Konsep tersebut membuat Hunian Manggarai bukan sekadar tempat untuk pulang, tetapi juga bagian dari gaya hidup perkotaan yang lebih praktis. Tinggal di tengah kota dan dekat dengan transportasi publik diharapkan dapat membantu masyarakat menjalani mobilitas sehari-hari dengan lebih mudah.
Bobby mengatakan optimalisasi aset perkeretaapian dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap menempatkan keselamatan dan kelancaran layanan kereta api sebagai prioritas.
Pengembangan hunian di Manggarai diarahkan agar masyarakat dapat tinggal di tengah kota dengan akses yang dekat terhadap transportasi publik. Pada saat yang sama, KAI memastikan optimalisasi aset tetap sejalan dengan keselamatan dan kelancaran operasional kereta api.
Hunian Manggarai akan dikembangkan di atas lahan sekitar 2,2 hektare yang merupakan aset milik KAI. Area tersebut terdiri dari Blok G sekitar 7.000 meter persegi dan Blok F sekitar 1,5 hektare.
Secara keseluruhan, kawasan ini direncanakan memiliki delapan tower hunian vertikal setinggi 24 lantai dengan total 3.784 unit hunian. Sebanyak 1.276 unit direncanakan berada di Blok G, sementara 2.508 unit lainnya berada di Blok F.
Tidak hanya menyediakan tempat tinggal, kawasan ini juga akan dilengkapi 150 unit retail pendukung yang dapat menambah kenyamanan aktivitas sehari-hari penghuni. Sebanyak 72 unit retail direncanakan berada di Blok G dan 78 unit di Blok F.
Untuk Blok G, tiga tower akan menawarkan pilihan hunian mulai dari tipe Studio 28, tipe 36 dengan dua kamar tidur, hingga tipe 45 dengan dua kamar tidur.
Sementara itu, Blok F akan memiliki lima tower dengan pilihan tipe 36, tipe 45, hingga tipe 52 dengan tiga kamar tidur. Beragam pilihan tersebut dihadirkan untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat yang ingin tinggal di tengah kota dengan akses transportasi publik yang mudah.
Pembangunan Hunian Manggarai secara keseluruhan direncanakan berlangsung selama 18 bulan sejak pelaksanaan groundbreaking.
Bobby menegaskan bahwa hunian di tengah kota tersebut diarahkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah sesuai kualifikasi dan ketentuan yang ditetapkan pemerintah.
Kami akan menjaga tata kelolanya agar hunian yang disiapkan di tengah kota ini dapat menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah sesuai kualifikasi yang telah ditetapkan pemerintah.