Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
Makin Banyak Barang Naik Kereta, Angkutan Retail KAI Tumbuh 19,59 Persen

Makin Banyak Barang Naik Kereta, Angkutan Retail KAI Tumbuh 19,59 Persen

Pelayanan
7 Agustus 2026
by Administrator

Distribusi barang melalui jalur kereta api semakin mendapat tempat dalam rantai logistik antarkota. Sepanjang Januari–Juli 2026, volume angkutan retail mencapai 146.617 ton, meningkat 3,59 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 dan 19,59 persen dibandingkan Januari–Juli 2024.

Dalam dua tahun, terdapat tambahan sekitar 24 ribu ton barang yang bergerak melalui jaringan kereta api. Pertumbuhan tersebut memperlihatkan meningkatnya kebutuhan terhadap layanan distribusi yang memiliki jadwal teratur, kapasitas besar, dan dapat terhubung dengan moda transportasi lainnya.

Di balik angka tersebut terdapat berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari distribusi produk usaha dan kebutuhan UMKM hingga perdagangan antarkota. Kelancaran pengiriman menjadi salah satu faktor yang membantu barang berpindah dari pusat produksi menuju pasar dan konsumen.

Layanan angkutan retail berbasis kereta api umumnya mengambil peran pada perjalanan utama atau middle-mile. Barang terlebih dahulu dikonsolidasikan oleh perusahaan logistik, kemudian dibawa melalui jalur kereta api sebelum diteruskan menggunakan jaringan distribusi lain hingga mencapai penerima.

Model tersebut membuat kereta api tidak berdiri sendiri dalam rantai logistik. Pengangkutan melalui jalan tetap dibutuhkan untuk mengambil barang dari titik awal dan mengantarkannya ke tujuan akhir, sementara kereta api dapat menangani perjalanan antarkota dengan kapasitas yang lebih besar dan jadwal yang terukur.

Kebutuhan terhadap sistem distribusi yang semakin efisien juga sejalan dengan agenda nasional. Biaya logistik Indonesia saat ini tercatat sebesar 14,29 persen terhadap PDB, dengan sasaran turun menjadi 12,5 persen pada 2029 dan 8 persen pada 2045.

Target tersebut menunjukkan bahwa efisiensi logistik bukan hanya persoalan perusahaan transportasi, tetapi membutuhkan keterhubungan antara berbagai moda, pelaku usaha, pemerintah, dan pengelola infrastruktur. Setiap moda perlu ditempatkan pada fungsi yang paling sesuai dengan karakter dan kebutuhannya.

Dalam konteks tersebut, kereta api memiliki peluang untuk memperkuat distribusi barang dalam volume besar dan perjalanan antarkota. Integrasi dengan moda jalan dan jaringan logistik lainnya menjadi kunci agar barang tidak hanya cepat berpindah antarwilayah, tetapi juga dapat mencapai pelanggan secara lebih efektif.

Penguatan angkutan barang berbasis rel juga menjadi perhatian dalam perkembangan sistem logistik global. Infrastruktur rel dapat mendukung efisiensi transportasi barang, memperkuat ketahanan rantai pasok, serta menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi tekanan biaya dan emisi dari aktivitas distribusi.

Kebutuhan tersebut semakin terasa ketika rantai pasok global menghadapi perubahan pola perdagangan, ketidakpastian geopolitik, dan tuntutan terhadap distribusi yang lebih berkelanjutan. Bagi dunia usaha, sistem logistik domestik yang kuat dapat membantu menjaga ketersediaan barang sekaligus mengurangi ketergantungan pada kondisi eksternal.

Pengembangan angkutan retail selanjutnya akan diarahkan melalui kolaborasi dengan perusahaan logistik, pelaku usaha, kawasan industri, dan berbagai pemangku kepentingan. Konsolidasi barang, integrasi distribusi, kepastian jadwal, serta pemanfaatan kapasitas kereta api menjadi bagian yang dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan pasar.

Semakin banyak barang yang dapat bergerak secara efisien antarkota, semakin besar pula peluang bagi pelaku usaha untuk memperluas jangkauan pasar. Pertumbuhan volume angkutan retail melalui kereta api pun tidak hanya menjadi indikator peningkatan layanan transportasi barang, tetapi juga bagian dari upaya membangun rantai logistik Indonesia yang lebih terhubung dan kompetitif.

Bagikan ke: