
KAI Tancap Gas di Sektor Logistik, 32,50 Juta Ton Barang Berhasil Dilayani
Di tengah meningkatnya kebutuhan distribusi barang di berbagai wilayah Indonesia, KAI terus memperkuat layanan logistik berbasis rel. Pengembangan kapasitas angkutan, perluasan konektivitas dengan pelabuhan dan kawasan industri, serta integrasi antarmoda menjadi langkah strategis untuk menghadirkan rantai pasok yang semakin efisien dan berdaya saing.
Sepanjang Semester I 2026, KAI berhasil melayani angkutan barang sebanyak 32.498.043 ton. Volume tersebut terdiri atas 26.534.095 ton batu bara atau sekitar 81,65%, serta 5.963.948 ton komoditas nonbatu bara atau sekitar 18,35%.
Komoditas nonbatu bara yang dilayani KAI mencakup petikemas, bahan bakar minyak, semen dan klinker, produk perkebunan, retail, pupuk, baja, serta berbagai kebutuhan industri dan konsumsi masyarakat. Capaian tersebut semakin menegaskan peran kereta api sebagai moda transportasi strategis dalam mendukung distribusi energi, bahan baku industri, produk manufaktur, hingga kebutuhan pokok antardaerah.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, penguatan ekosistem logistik membutuhkan konektivitas yang semakin solid antara pusat produksi, kawasan industri, terminal barang, pelabuhan, pergudangan, hingga titik akhir distribusi.
Kereta api memiliki kapasitas besar, jadwal perjalanan yang terencana, serta kemampuan melayani pengiriman antardaerah secara konsisten. Karena itu, KAI terus mendorong pengembangan layanan berbasis rel agar semakin terhubung dengan pelabuhan, kawasan industri, dry port, hingga layanan first dan last mile.
Untuk memperkuat layanan angkutan batu bara di Sumatra Bagian Selatan, KAI terus melakukan berbagai pengembangan strategis, mulai dari penambahan sarana, peningkatan kapasitas jalur, pengembangan persinyalan elektrik, hingga optimalisasi fasilitas bongkar muat.
Salah satu proyek pengembangan jangka panjang yang menjadi perhatian adalah Terminal Tarahan II yang dirancang memiliki kapasitas tambahan hingga 20 juta ton per tahun. Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok energi nasional melalui dukungan transportasi berbasis rel yang memiliki kapasitas besar dan operasional terjadwal.
Terminal Tarahan II dikembangkan melalui kolaborasi bersama PT Bukit Asam Tbk. (PTBA). Dalam kerja sama tersebut, PTBA diarahkan untuk menangani pengembangan terminal pemuatan, terminal pembongkaran, serta infrastruktur pendukung, sementara KAI menyiapkan sarana operasional dan sistem persinyalan elektrik.
Untuk mendukung operasionalnya, perencanaan sarana dalam proyek tersebut mencakup 22 lokomotif dan 1.200 gerbong yang akan memperkuat kemampuan angkutan batu bara di wilayah Sumatra Bagian Selatan.
Tidak berhenti di sana, KAI juga menyiapkan peningkatan kapasitas angkutan batu bara melalui penguatan infrastruktur rel, penambahan sarana, serta peningkatan fasilitas pembongkaran, termasuk pengembangan kapasitas yang berkaitan dengan Terminal Kramasan dan terminal milik mitra swasta.
Hingga Semester I 2026, penguatan kapasitas tersebut telah didukung dengan kedatangan 1.080 gerbong datar. Sarana tersebut dipersiapkan untuk meningkatkan kemampuan layanan angkutan barang di Sumatra sekaligus mendukung distribusi berbagai komoditas dalam jumlah besar secara lebih optimal.
Investasi angkutan barang harus dibangun sebagai satu kesatuan ekosistem. Penambahan lokomotif dan gerbong perlu berjalan beriringan dengan kesiapan jalur, persinyalan, terminal, fasilitas perawatan, serta kepastian volume dari mitra agar kapasitas yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Selain memperkuat angkutan batu bara, KAI juga terus memperbesar kontribusi komoditas nonbatu bara melalui pengembangan layanan kereta api petikemas reguler non-dedicated di Pulau Jawa.
Melalui skema ini, pelanggan dapat menyesuaikan kebutuhan pengiriman berdasarkan slot kapasitas yang tersedia. Fleksibilitas tersebut membuat penggunaan gerbong menjadi lebih optimal, meningkatkan produktivitas perjalanan, serta memberikan kemudahan bagi pelaku usaha dalam mengatur distribusi barang.
Pada Semester I 2026, volume angkutan petikemas KAI tercatat mencapai sekitar 2,62 juta ton.
KAI juga menghadirkan layanan KA Brumbung Cargo dengan kapasitas hingga 800 ton per rangkaian. Layanan ini menjadi pilihan tambahan bagi pelaku usaha yang membutuhkan solusi distribusi barang berbasis rel dengan kapasitas besar dan jadwal yang lebih terencana.
Ke depan, KAI terus memperluas konektivitas logistik melalui rencana pengembangan hubungan antara Terminal Petikemas Cilacap dengan jaringan kereta api nasional, khususnya menuju Terminal Petikemas Semarang.
Pengembangan tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan layanan pelabuhan, memperkuat arus distribusi ekspor-impor maupun domestik, serta mendorong peralihan sebagian angkutan barang dari jalan raya menuju kereta api.
Integrasi Pelabuhan Cilacap dengan jaringan rel juga menjadi bagian dari upaya memperkuat distribusi komoditas industri di Jawa Tengah dan wilayah sekitarnya. Dalam RJPP KAI 2026–2030, kebutuhan investasi awal untuk pengembangan konektivitas tersebut diindikasikan sekitar Rp3,6 miliar, dengan pelaksanaan yang tetap mempertimbangkan hasil studi kelayakan, kesiapan mitra, serta tahapan pengembangan proyek.
KAI turut menyiapkan pengembangan konektivitas logistik antara fasilitas produksi Krakatau Steel dengan kawasan industri di Jawa Timur. Layanan berbasis rel ini dirancang sebagai proyek percontohan distribusi baja yang mendukung implementasi kebijakan Zero Over Dimension Over Load (Zero ODOL).
Dengan kemampuan membawa komoditas berat dalam jumlah besar dengan standar ukuran dan muatan yang lebih terkontrol, kereta api menjadi salah satu solusi untuk mengurangi tekanan kendaraan berat terhadap jalan raya, meningkatkan keselamatan distribusi, serta memberikan kepastian waktu pengiriman bagi sektor industri.
Dalam RJPP KAI, kebutuhan investasi pengembangan konektivitas tersebut diindikasikan sekitar Rp22 miliar. Nilai tersebut masih mengikuti kajian teknis, kesiapan infrastruktur, komitmen volume, perizinan, serta kesepakatan bersama para mitra.
Selain itu, KAI juga melakukan kajian pengembangan dry port di Kawasan Industri Terpadu Batang sebagai bagian dari strategi membangun ekosistem logistik yang lebih terhubung.
Kajian tersebut mencakup potensi volume angkutan, kebutuhan konektivitas rel, kesiapan terminal, skema operasional, pembiayaan, hingga integrasi dengan pelabuhan.
Indikasi kebutuhan investasi untuk akselerasi dan revitalisasi penyelenggaraan KA logistik diperkirakan sekitar Rp2,5 triliun. Angka tersebut masih berupa estimasi awal yang membutuhkan kajian lanjutan bersama kementerian, lembaga, pengelola kawasan, mitra industri, serta calon penyedia pendanaan.
Pada sektor perkebunan, KAI juga terus membuka peluang pengembangan angkutan Crude Palm Oil (CPO). Kapasitas layanan yang tersedia telah mencapai lebih dari 1,1 juta ton per tahun, dengan potensi peningkatan utilisasi melalui kerja sama bersama produsen, integrasi multimoda, serta optimalisasi sarana yang tersedia.
Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan industri terhadap solusi logistik berkelanjutan, KAI turut menyiapkan layanan green freight. Pengembangan ini diarahkan untuk mendukung perusahaan dalam mengurangi emisi pada rantai pasok melalui pengukuran emisi, operasional yang lebih efisien, pemanfaatan energi rendah emisi, serta layanan angkutan hijau yang dapat diverifikasi dan disertifikasi.
Integrasi logistik nasional harus memberikan manfaat nyata bagi industri dan masyarakat. Distribusi yang semakin efisien dapat membantu menjaga ketersediaan pasokan, meningkatkan kepastian waktu pengiriman, memperluas jangkauan pasar, serta memperkuat daya saing produk Indonesia.
KAI akan menjalankan seluruh pengembangan tersebut secara bertahap dengan tetap memperhatikan aspek kelayakan bisnis, kesiapan infrastruktur, keselamatan, keandalan operasi, kepastian volume, regulasi, serta skema pembiayaan yang sehat.
Dengan kolaborasi bersama pemerintah, Danantara, pengelola pelabuhan, kawasan industri, pemilik barang, dan perusahaan logistik, KAI ingin memperbesar kontribusi kereta api dalam rantai pasok nasional. Tujuannya adalah menghadirkan sistem distribusi yang semakin terintegrasi, berkapasitas besar, terjadwal, efisien, dan rendah emisi.