
KAI Hemat 203,93 Juta Liter Air Sepanjang 2025, Teknologi Daur Ulang Terus Diperkuat
Pengelolaan air menjadi bagian penting dalam upaya KAI meningkatkan efisiensi sumber daya dan menjaga keberlanjutan operasional. Sepanjang 2025, penggunaan air tercatat sebesar 716,30 megaliter, turun 203,93 megaliter atau 22,16 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 920,23 megaliter. Penurunan tersebut setara dengan penghematan sekitar 203,93 juta liter air.
Efisiensi air semakin penting di tengah meningkatnya tekanan terhadap ketersediaan sumber daya akibat perubahan iklim dan kebutuhan yang terus bertambah. Data Food and Agriculture Organization dalam AQUASTAT 2025 yang dipublikasikan UN-Water pada Januari 2026 menunjukkan bahwa ketersediaan air tawar terbarukan per kapita secara global telah menurun 7 persen dalam satu dekade terakhir.
Kondisi serupa juga perlu diantisipasi di Indonesia. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, dengan merujuk analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika pada Dasarian II Juli 2026, menyampaikan bahwa 89,97 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal. Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026, sementara fenomena El Niño berpotensi berlanjut hingga awal 2027.
Dalam operasional perkeretaapian, air digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari sanitasi, toilet, tempat wudu, kebutuhan pekerja dan pelanggan, hingga pencucian sarana. Karena itu, pengurangan konsumsi air perlu dilakukan melalui pengukuran dan pengendalian yang tetap menjaga kebersihan serta kenyamanan pelayanan.
Penurunan penggunaan air pada 2025 terjadi pada seluruh sumber air KAI. Pemanfaatan air permukaan berkurang dari 114,41 megaliter pada 2024 menjadi 47,90 megaliter pada 2025. Penggunaan air tanah juga turun dari 626,25 megaliter menjadi 570,80 megaliter, sedangkan penggunaan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) berkurang dari 179,57 megaliter menjadi 97,60 megaliter.
Selain melalui pengendalian konsumsi, efisiensi air juga didukung oleh penerapan teknologi pengolahan dan penggunaan kembali air. Salah satunya melalui Automatic Train Wash Plant (ATWP) pada LRT Jabodebek yang memungkinkan pencucian sarana dilakukan secara otomatis dengan penggunaan air yang lebih efisien dibandingkan metode konvensional.
ATWP dilengkapi water treatment system yang mengolah air bekas pencucian melalui proses penyaringan. Sistem tersebut memisahkan tanah, pasir, oli, dan gemuk sebelum air digunakan kembali pada siklus pencucian berikutnya. Pada tahap akhir, proses pembilasan menggunakan demineralized water untuk menjaga kualitas kebersihan sarana sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Penggunaan kembali air hasil pencucian membantu mengurangi kebutuhan air baru dalam kegiatan operasional. Pengukuran konsumsi air juga dilakukan secara berkala di kantor pusat, seluruh unit di wilayah operasional, dan entitas anak untuk memantau perubahan pola penggunaan serta menentukan langkah tindak lanjut yang diperlukan.
Efisiensi penggunaan air memberikan manfaat tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi operasional. Berkurangnya penggunaan air dari PDAM dapat menekan biaya pemakaian air, sementara penurunan penggunaan air tanah turut mengurangi konsumsi listrik yang dibutuhkan untuk mengoperasikan pompa.
Penurunan penggunaan air sebesar 203,93 juta liter menunjukkan dampak yang dapat dihasilkan melalui pengendalian di berbagai unit. Ke depan, KAI akan terus memperkuat pengukuran konsumsi, kedisiplinan penggunaan air, serta penerapan teknologi pengolahan dan penggunaan kembali air agar sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih bertanggung jawab.
Evaluasi penggunaan air juga akan dilanjutkan pada fasilitas pelayanan dan operasional, terutama di wilayah yang menghadapi risiko kekeringan atau tekanan terhadap ketersediaan air. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumber daya sekaligus memastikan layanan perkeretaapian tetap bersih, andal, dan efisien.