
Dulu Pegang Karcis, Kini Tinggal Pindai Wajah: Evolusi Cara Naik Kereta Selama 81 Tahun
Dulu, perjalanan dengan kereta api dimulai dengan datang ke stasiun, mengantre di loket, membayar tiket, lalu membawa pulang selembar karcis sebagai teman perjalanan. Kini, proses tersebut bisa dilakukan dari genggaman hingga boarding hanya dengan verifikasi wajah. Dalam 81 tahun perjalanannya, layanan kereta api terus berubah mengikuti cara masyarakat bepergian.
Karcis fisik pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman naik kereta. Informasi perjalanan tercetak pada selembar tiket yang disimpan pelanggan hingga tiba di tujuan, sementara loket stasiun menjadi titik awal interaksi antara pelanggan dan petugas.
Seiring kebutuhan mobilitas yang semakin tinggi, sistem pelayanan tiket terus berkembang. Teknologi mulai digunakan untuk membuat proses pemesanan lebih praktis, terintegrasi, dan sesuai dengan kebiasaan masyarakat yang juga semakin digital.
Salah satu langkah penting hadir pada 9 Januari 2012 melalui pencantuman nama dan nomor identitas pelanggan pada tiket Kereta Api Jarak Jauh dan Menengah. Sistem ini membuat tiket terhubung langsung dengan identitas pelanggan sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan pelayanan dan mengurangi praktik percaloan tiket.
Tak perlu selalu datang ke stasiun, pelanggan kemudian mulai dapat memesan perjalanan melalui kanal elektronik. Pada periode 2012–2014, layanan pemesanan online dan boarding pass elektronik mulai berkembang, mengubah pengalaman perjalanan dari yang sebelumnya serba dilakukan di stasiun menjadi semakin fleksibel.
Transformasi serupa juga hadir pada layanan kereta komuter. Mulai 1 Juli 2013, KAI Commuter menerapkan sistem e-ticketing melalui Kartu Single Trip dan Kartu Multi Trip sebagai pengganti tiket kertas.
Ketika smartphone semakin menjadi bagian dari keseharian, cara memesan tiket pun ikut berubah. Pada 2014, KAI menghadirkan KAI Access sebagai layanan pemesanan tiket berbasis digital, sehingga pelanggan dapat melakukan reservasi tanpa harus bergantung pada loket stasiun.
Perjalanan digital tersebut kemudian berkembang melalui Access by KAI. Platform ini menghadirkan berbagai kebutuhan perjalanan dalam satu aplikasi, mulai dari pembelian tiket, pengecekan jadwal, pemilihan tempat duduk, informasi perjalanan, Trip Planner, hingga berbagai layanan pendukung lainnya.
Hingga 30 Juni 2026, Access by KAI telah memiliki 30.449.049 pengguna terdaftar dengan total unduhan mencapai 41.011.320 kali. Pada Semester I 2026, platform ini mencatat 17.009.374 transaksi tiket KA Jarak Jauh dan KA Lokal atau sekitar 76,34 persen dari total transaksi melalui seluruh kanal penjualan.
Kalau dulu tiket menjadi bukti perjalanan yang harus dibawa, kini prosesnya bahkan bisa semakin simpel. Transformasi layanan berlanjut dari digital ticketing menuju digital boarding melalui Face Recognition Boarding Gate.
Teknologi tersebut memungkinkan pelanggan yang telah melakukan registrasi untuk melakukan proses boarding melalui verifikasi wajah. Tak perlu lagi mencari tiket fisik atau menunjukkan dokumen secara manual, proses keberangkatan dapat dilakukan dengan pengalaman yang lebih praktis.
Face Recognition Boarding mulai diterapkan pada 28 September 2022 dan terus dikembangkan di berbagai stasiun layanan Kereta Api Jarak Jauh. Pada Semester I 2026, teknologi ini telah digunakan oleh 5.555.034 pelanggan KA Jarak Jauh.
Perjalanan dari karcis kertas menuju verifikasi wajah menunjukkan bagaimana teknologi perlahan mengubah pengalaman pelanggan. Dari antre di loket, memegang tiket fisik, memesan lewat kanal digital, hingga boarding dengan wajah, setiap tahap hadir untuk menjawab kebutuhan perjalanan yang terus berkembang.
Selama 81 tahun, transformasi sistem ticketing menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia. Setiap inovasi membawa pengalaman baru, tetapi tujuannya tetap sama: membuat perjalanan masyarakat semakin mudah, nyaman, praktis, dan semakin melayani.