
Boarding Makin Praktis, Face Recognition KAI Dipakai 5,56 Juta Kali Semester I 2026
Sebanyak 5.555.034 pelanggan Kereta Api (KA) Jarak Jauh memanfaatkan fasilitas Face Recognition Boarding Gate sepanjang Semester I 2026, meningkat 53.978 pelanggan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 5.501.056 pelanggan.
Pelanggan yang telah melakukan registrasi cukup mengarahkan wajah ke perangkat pemindai untuk mencocokkan identitas dengan data tiket, tanpa perlu mencetak boarding pass. Kebiasaan bepergian dengan proses boarding berbasis digital ini kini semakin melekat di berbagai stasiun.
Penggunaan teknologi tersebut turut membawa manfaat lingkungan dan efisiensi operasional yang terukur. Dari Januari hingga Juni 2026, penggunaan face recognition mengurangi kebutuhan sekitar 13.888 rol kertas boarding pass, dengan estimasi penghematan biaya mencapai Rp203.800.310.
Bila setiap rol kertas memiliki panjang sekitar 72 meter, total kertas yang berhasil dihemat itu setara hampir 1.000 kilometer bila direntangkan. Berdasarkan simulasi konservatif, jumlah tersebut setara sekitar 4,4 ton kertas, atau kebutuhan bahan baku sekitar 75 pohon.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi digital memberi kemudahan bagi pelanggan sekaligus membantu perusahaan mengelola sumber daya secara lebih efisien. Menurutnya, face recognition membuat proses boarding lebih praktis karena pelanggan cukup melakukan pemindaian wajah, dan ketika digunakan oleh jutaan pelanggan, pengurangan satu lembar cetakan pada setiap perjalanan dapat terakumulasi menjadi penghematan kertas dan biaya yang signifikan.
Manfaat tersebut semakin terasa jika dihitung sejak layanan face recognition mulai diberlakukan pada Januari 2023. Hingga Juni 2026, fasilitas ini telah digunakan oleh 26.964.584 pelanggan KA Jarak Jauh, dengan pengurangan kebutuhan sekitar 67.411 rol kertas boarding pass dan estimasi penghematan mencapai Rp989.263.176. Jika direntangkan, panjang kertas tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 4.853 kilometer.
Secara ekologis, jumlah kumulatif itu diperkirakan setara sekitar 21,36 ton kertas, atau kebutuhan bahan baku sekitar 363 pohon. Anne menuturkan, setiap pelanggan yang memilih boarding secara digital turut berkontribusi pada pengurangan konsumsi material, sekaligus membantu menciptakan alur pelayanan yang lebih cepat, terutama di stasiun dengan volume keberangkatan pelanggan yang tinggi.
Stasiun Gambir tercatat sebagai stasiun dengan jumlah pengguna Face Recognition Boarding Gate tertinggi sepanjang Semester I 2026, mencapai 927.658 pelanggan. Posisi berikutnya ditempati Stasiun Yogyakarta dengan 648.737 pelanggan dan Stasiun Pasarsenen sebanyak 490.450 pelanggan.
Berikut sepuluh stasiun dengan jumlah pengguna face recognition tertinggi pada Semester I 2026:
1. Stasiun Gambir: 927.658 pelanggan
2. Stasiun Yogyakarta: 648.737 pelanggan
3. Stasiun Pasarsenen: 490.450 pelanggan
4. Stasiun Semarang Tawang: 401.361 pelanggan
5. Stasiun Purwokerto: 341.514 pelanggan
6. Stasiun Surabaya Pasar Turi: 327.434 pelanggan
7. Stasiun Surabaya Gubeng: 269.552 pelanggan
8. Stasiun Solo Balapan: 245.957 pelanggan
9. Stasiun Bandung: 245.445 pelanggan
10. Stasiun Semarang Poncol: 221.660 pelanggan
Kesepuluh stasiun tersebut secara keseluruhan mencatat 4.119.768 pengguna, atau sekitar 74,16 persen dari total penggunaan face recognition selama Semester I 2026. Artinya, hampir tiga dari empat penggunaan berlangsung di sepuluh stasiun dengan volume tertinggi, sebuah gambaran yang menjadi bagian dari evaluasi dalam menata kapasitas layanan, perangkat boarding gate, serta pendampingan kepada pelanggan di setiap stasiun.
Saat ini, fasilitas Face Recognition Boarding Gate tersedia di 22 stasiun, yaitu Bandung, Bekasi, Cirebon, Cirebon Prujakan, Gambir, Jember, Kiaracondong, Kutoarjo, Lempuyangan, Medan, Malang, Madiun, Pekalongan, Pasarsenen, Purwokerto, Surabaya Pasar Turi, Surabaya Gubeng, Solo Balapan, Semarang Poncol, Semarang Tawang, Tegal, dan Yogyakarta.
Evaluasi terhadap pemanfaatan face recognition akan terus dilakukan agar penerapan teknologi selaras dengan kebutuhan pelanggan dan karakteristik pelayanan di setiap stasiun. Perluasan kebiasaan boarding digital juga menjadi bagian dari pengelolaan perjalanan yang semakin efisien dan rendah penggunaan kertas.
Anne menutup, jutaan pemindaian wajah menghasilkan dua manfaat sekaligus, yaitu pengalaman boarding yang lebih praktis bagi pelanggan dan pengurangan konsumsi kertas secara berkelanjutan, sebuah nilai strategis dari digitalisasi ketika manfaatnya dapat dirasakan dalam setiap perjalanan.