
Pengembangan Stasiun Sentral Manggarai untuk Peningkatan Layanan di Kawasan Aglomerasi Jabodetabek
Stasiun Manggarai diproyeksikan akan menjadi episentrum baru dari pergerakan masyarakat di kawasan aglomerasi Jabodetabek. Hal tersebut diwujudkan melalui pengembangan Stasiun Manggarai menjadi stasiun sentral pertama dan terbesar di Indonesia.

Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo melakukan peninjauan Stasiun Manggarai saat penerapan SO 5 Stasiun Manggarai, Senin (30/5)
Selain itu, dalam kegiatan presentasi kepada media dan komunitas pecinta KA, Direktur Jenderal Perkeretaapian Zulfikri menjelaskan bahwa terdapat kebutuhan yang mendesak dan perlu segera dituntaskan oleh DJKA melalui pengembangan Stasiun Manggarai. Disebutkan bahwa kondisi Stasiun Manggarai sebelum dikembangkan relatif sangat terbatas untuk melayani perjalanan kereta api (KA) dan lonjakan jumlah penumpang yang cukup signifikan setiap tahunnya.
“Dengan hanya 8 jalur untuk KRL dan 2 jalur untuk KA antarkota, Stasiun Manggarai harus menanggung beban sejumlah 726 perjalanan KA setiap harinya dengan total 1,2 juta penumpang, sehingga menyebabkan penumpukan dan antrian kereta untuk masuk ke Stasiun Manggarai," urai Zulfikri.
Zulfikri optimis melalui pembangunan Stasiun Manggarai ini, permasalahan dalam layanan kereta api komuter di kawasan aglomerasi Jabodetabek perlahan dapat diatasi. Sebab, nantinya Stasiun Manggarai akan memiliki 18 jalur aktif untuk melayani KRL, KA Jarak Jauh, dan KA Bandara. Stasiun ini juga akan dilengkapi dengan area concourse yang luas untuk mendukung mobilitas penumpang. Kendati demikian, Zulfikri menyadari akan ada ketidaknyamanan yang muncul selama proses pembangunan berlangsung.
Terlebih, masih akan ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam penyelesaian Stasiun Manggarai, yaitu setelah switch over (SO) 5, masih ada SO 6 yang akan dilaksanakan pada Oktober 2023, hingga SO 8 yang akan dilaksanakan pada Juli 2025.
“Oleh sebab itu kami berharap rekan-rekan sekalian dapat memahami pembangunan yang sedang berlangsung dan bersabar atas kondisi yang dialami untuk menyambut Stasiun Manggarai yang lebih megah dan nyaman," tandas Zulfikri.
Untuk menunjang operasional Stasiun Manggarai, DJKA akan bersinergi dengan Pemerintah Daerah dan stakeholder terkait penataan lingkungan di sekitar stasiun. Integrasi antarmoda juga akan menjadi fokus utama pengembangan Stasiun Manggarai agar memudahkan mobilitas masyarakat sekaligus meningkatkan ridership yang melintasi stasiun ini. sesuai apa yang disampaikan oleh Zulfikri
"Kami terus berkoordinasi dengan Pemda DKI Jakarta terkait akses dan penataan ruang di sekitar Stasiun Manggarai untuk memaksimalkan fungsi stasiun sebagai kawasan transit oriented development (TOD) di lahan seluas 2,4 hektar ini," sambung Zulfikri.
Hal ini juga didukung oleh Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartantyo yang menambahkan bahwa jajarannya siap mendukung upaya DJKA dalam mengembangkan Stasiun Manggarai.
"Kami akan mengupayakan optimalisasi prasarana termasuk peron pada Stasiun Manggarai untuk menunjang operasional kereta api agar pembangunan dapat berlangsung dengan lancar," ujar Didiek.
Ia juga menyebutkan terkait dengan penambahan kamera CCTV yang diusulkan oleh komunitas, bahwa saat ini pihaknya sudah memiliki kamera dengan teknologi face recognition untuk mengurangi tingkat kejahatan dan pelecehan seksual di stasiun dan kereta api. Selain itu, KAI Group siap mendukung dengan menambah KA feeder untuk KRL Commuterline dan peningkatan serta penambahan kapasitas angkut untuk mengurangi penumpukan penumpang di Stasiun Manggarai serta memastikan bahwa KAI Group memiliki sarana dan sumber daya manusia yang siap untuk menunjang rencana peningkatan tersebut.
"Kami juga akan memaksimalkan operasional Stasiun Matraman yang sudah selesai dibangun oleh rekan-rekan DJKA sebagai alternatif bagi penumpang selain Stasiun Manggarai dan Stasiun Jatinegara," pungkas Didiek.