
210 Juta Pelanggan Naik Commuter Line, Mobilitas Jabodetabek Makin Rendah Karbon
Penggunaan Commuter Line Jabodetabek terus menunjukkan pertumbuhan seiring meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat di kawasan metropolitan. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, jumlah pelanggan mencapai 210.468.029 atau sekitar 210,47 juta pelanggan. Angka ini meningkat 6,39 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencatat 197.833.176 pelanggan.
Tren pertumbuhan tersebut konsisten dalam empat tahun terakhir. Pada Januari–Juli 2023, Commuter Line Jabodetabek melayani 161.004.449 pelanggan. Jumlah tersebut kemudian meningkat menjadi 186.056.667 pelanggan pada periode yang sama tahun 2024, lalu mencapai 197.833.176 pelanggan pada 2025 dan kembali naik menjadi 210.468.029 pelanggan pada 2026.
Jika dibandingkan dengan periode Januari–Juli 2023, jumlah pelanggan tahun ini bertambah 49.463.580 atau meningkat 30,72 persen. Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin pentingnya transportasi massal dalam mendukung aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat di kawasan Jabodetabek.
Tingginya penggunaan Commuter Line juga mencerminkan perannya dalam membantu masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih efisien. Layanan ini menghubungkan kawasan permukiman dengan berbagai pusat kegiatan, mulai dari pekerjaan, pendidikan, perdagangan, layanan kesehatan hingga pelayanan publik.
Dalam satu perjalanan, satu rangkaian kereta dapat mengangkut banyak pelanggan sekaligus. Kondisi tersebut membuat transportasi berbasis rel lebih efisien dalam penggunaan ruang, energi, dan infrastruktur perkotaan dibandingkan perjalanan individual menggunakan kendaraan pribadi.
Konektivitas Commuter Line juga memberikan kepastian perjalanan bagi pekerja dan pelajar serta memperluas akses masyarakat terhadap berbagai peluang ekonomi. Masyarakat yang tinggal di wilayah penyangga dapat tetap terhubung dengan pusat kegiatan di Jakarta dan sekitarnya. Konektivitas ini turut membantu menjaga kelancaran aktivitas masyarakat sekaligus mengurangi tekanan kepadatan lalu lintas di jalan raya.
Manfaat penggunaan Commuter Line tidak hanya terlihat dari sisi mobilitas, tetapi juga dari aspek lingkungan. Berdasarkan ilustrasi dalam Laporan Keberlanjutan KAI 2025, perjalanan Bekasi–Jakarta sejauh 30 kilometer menggunakan kereta api menghasilkan emisi sekitar 2,4 kilogram CO2 per hari. Sementara itu, perjalanan dengan mobil pribadi pada jarak yang sama menghasilkan sekitar 12 kilogram CO2 per hari.
Perbedaan tersebut mencapai 9,6 kilogram CO2. Dengan demikian, penggunaan kereta api dalam ilustrasi tersebut dapat menekan jejak karbon harian sekitar 80 persen dibandingkan penggunaan mobil pribadi.
Laporan yang sama mencatat bahwa kereta api penumpang menghasilkan sekitar 41 gram CO2 per pelanggan per kilometer, sedangkan kendaraan pribadi menghasilkan sekitar 192 gram CO2 per pelanggan per kilometer. Perbedaan tingkat emisi ini memperlihatkan potensi transportasi berbasis rel dalam mendukung pengurangan emisi sektor transportasi dan pembangunan kawasan perkotaan rendah karbon.
Ketika digunakan oleh jutaan masyarakat setiap hari, pilihan transportasi massal dapat memberikan dampak lingkungan yang lebih luas melalui pengurangan emisi perjalanan, efisiensi penggunaan energi, serta berkurangnya tekanan kendaraan di jalan raya.
Untuk memenuhi kebutuhan mobilitas yang terus berkembang, KAI terus memperkuat kapasitas dan kualitas layanan Commuter Line Jabodetabek. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan keandalan sarana, penyempurnaan fasilitas stasiun, pengaturan perjalanan berdasarkan kebutuhan pelanggan, penguatan sistem kelistrikan dan persinyalan, serta integrasi dengan moda transportasi publik lainnya.
Pada 2026, jaringan Commuter Line Jabodetabek melayani 85 stasiun, meningkat dari 71 stasiun pada 2015. Perluasan jaringan tersebut memperkuat akses masyarakat dari wilayah penyangga menuju pusat kegiatan sekaligus mendukung pertumbuhan kawasan permukiman dan pusat ekonomi baru.
Pertumbuhan mobilitas juga terlihat pada Commuter Line Cikarang yang melayani kawasan Bekasi dan lintas timur Jabodetabek. Volume pelanggan pada lintas tersebut meningkat dari 55,66 juta perjalanan pada 2022 menjadi 84,53 juta perjalanan pada 2025. Dalam tiga tahun, jumlah perjalanan bertambah sekitar 28,87 juta atau 51,86 persen.
Pada 2025, Commuter Line Cikarang menyumbang 24,53 persen dari keseluruhan volume pelanggan KRL Jabodetabek. Capaian tersebut menjadikannya lintas dengan volume pelanggan terbesar kedua setelah Commuter Line Bogor. Pertumbuhan ini menunjukkan tingginya kebutuhan perjalanan masyarakat dari Bekasi, Cikarang, dan kawasan timur menuju berbagai pusat aktivitas di Jakarta.
Peningkatan mobilitas tersebut turut memperkuat kebutuhan pengembangan kapasitas di lintas timur. Pengembangan mencakup peningkatan keandalan sarana, kelistrikan, persinyalan, fasilitas stasiun, pengaturan perjalanan pada jam sibuk, serta penyelesaian prasarana yang mendukung pemisahan perjalanan Commuter Line dengan layanan kereta api lainnya.
Pertumbuhan jumlah pelanggan menjadi dasar bagi KAI untuk melanjutkan pengembangan kapasitas secara bertahap dengan tetap mengutamakan keselamatan, keandalan, ketepatan waktu, kenyamanan, dan pengelolaan kepadatan. Penguatan Commuter Line Jabodetabek diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi produktivitas masyarakat, efisiensi perkotaan, serta kualitas lingkungan.
Pengembangan transportasi massal juga menjadi bagian dari dukungan terhadap pembangunan rendah karbon dan upaya menuju target Net Zero Emission Indonesia pada 2060.