
Lokomotif Uap DD 52
Paska tahun 1913, perjalanan kereta api di jalur Priangan mengalami peningkatan. Kondisi jalur pegunungan di Priangan memerlukan lokomotif khusus. Keberadaan lokomotif CC50 tidak cukup kuat sedangkan lokomotif F10 tidak cocok di jalur Priangan yang berkelok. Oleh sebab itu perusahaan kereta api negara, Staatsspoorwegen (SS) berencana menambah lokomotif baru.
Namun tahun 1914-1918 meletus Perang Dunia I, industri lokomotif di Eropa pun terkena imbas. Lambat laun kebutuhan lokomotif di jalur Priangan dirasa kian mendesak. Diputuskanlah membeli lokomotif buatan pabrik Alco dari Amerika Serikat, yakni DD 50 (1916) dan DD 51 (1919). Akan tetapi kecepatan maksimal kedua lokomotif ini hanya 40 km/jam, tidak bisa untuk menarik kereta ekspres.
Maka SS kembali mendatangkan lokomotif rancangan dari Alco yang dibuat dari pabrikan Eropa dengan penyempurnaan. Sepuluh lokomotif DD 52 dengan penomoran awal SS 1250-1260 dipesan dari tiga pabrikan berbeda. DD 5201-5203 (SS 1251-1253) didatangkan dari pabrik Hanomag, Jerman pada tahun 1923. Pabrik Hartmann di Belanda merakit tiga unit DD 5204-5206 (SS 1254-1256) tahun 1924. Selang setahun selepasnya, empat lokomotif DD 5206-5210 (SS 1257-1260) dipesan dari pabrik Werkspoor, Belanda.

Dimensi Lokomotif Uap DD52.(Sumber: De Stoomtractie Op Java En Sumatra)
Mulanya, lokomotif DD52 berdinas di jalur Cicalengka-Cibatu-Tasikmalaya-Banjar. Lokomotif beserta tender dengan panjang 20,792 ini dapat melaju 50 km/jam dengan kekuatan 1.430 ipk. Untuk menunjang operasional, lokomotif DD52 dapat menampung persediaan air 9 m3 dan memiliki penyimpanan batu bara 8,2 ton.
Semasa beroperasi, ternyata lokomotif DD52 mengalami tekanan uap yang tidak seimbang. Untuk mengatasi masalah tersebut, lokomotif DD 5210 dibawa untuk dimodifikasi di Kantor Uji Departemen Material milik SS pada tahun 1926. Salah satu penanganannya ialah memasang cerobong ganda untuk memaksimalkan kinerja mesin. Terbukti, pada kecepatan 45 km/jam semula berkeluatan 1.430 ipk dapat meningkat menjadi 1.700 ipk. Dirasa berhasil, hasil modifikasi lokomotif DD 5210 diplikasikan pada lok DD52 lainnya.
Sekitar akhir tahun 1969, masih terdapat empat lokomotif DD 52 yakni DD5202, DD5203, DD5207, dan DD5208. Keempat lokomotif ini berada di Depo Lokomotif Cibatu. Kondisi lokomotif yang sudah rusak tanpa ada sparepart serta biaya perawatan yang tinggi membuat lokomotif ini dipensiunkan. Hingga tahun 1974, lokomotif DD52 yang akrab disebut “Si Gombar” ini sudah tidak ada yang beroperasi. Dari sepuluh lokomotif DD52 tidak tersisa satu pun.

Lokomotif SS 1258 atau DD 5208 dalam acara peringatan 50 tahun perusahaan SS di Bandung pada tahun 1925. (Sumber: De Stoomtractie Op Java En Sumatra)

Berangkat dari Cibatau, lokomotif DD 5202 menarik rangkaian kereta menuju ke Tasikmalaya pada tahun 1970. (Sumber: Lokomotip Uap)

Lokomotif DD 5202 singgah di Stasiun Cicalengka sembari mengisi air untuk kembali meneruskan perjalanan ke Cibatu tahun 1970. (Sumber: Lokomotip Uap)

Penumpang ramai sesak di kereta yang ditarik lokomotif DD 5208. (Sumber: Lokomotip Uap)
Spesifikasi teknis Lokomotif Uap DD 52
Lokomotif D1410
Perusahaan : Staatssporwegen (SS)
No Seri Lama : SS 1250
Tipe : 1DDh4v
Pabrik : Hanomag (10221-10223)
: Hartmann (4586-4588)
: Werkspoor (538-541)
Mulai Operasi : 1923/1924
No | Spesifikasi (Belanda) | Indonesia | Ukuran | Satuan |
Ketel | ||||
RO (roosteroppervlak) | Permukaan kisi | 4,1 | m2 | |
| VO vlampijpen | Tabung api | 141,1 | m2 | |
| VO vlambuizen | 182,1 | m2 | ||
VO direct (vuurkist) | 12,5 | m2 | ||
VO totaal | 194,6 | m2 | ||
OVO (overhitter) | 64,8 | m2 | ||
Keteldruk | Tekanan boiler | 14 | atm | |
Aantal vlampijpen | Jumlah tabung api | 142/24 | unit | |
Uitw. Dia. Vlampijpen/buizen | 56/127 55/133 | mm | ||
Lengte tussen pijpenplaten | Panjang antara piring pipa | 5750 | mm | |
Type oververhitter | Tipe superheater | Vlambuis | ||
Aantal x dia elementen | Jumlah elemen | 24 x 33 | ||
Keteldiameter | Diameter ketel | 1700 | mm | |
Ketellengte | Panjang ketel | 10713 | mm | |
Ketelhoogte | Ketinggian ketel | 2440 | mm | |
Machine | ||||
Cilinderdiameter HD | Diameter silinder | 450 | mm | |
Cilinderdiameter LD | Diameter silinder | 700 | mm | |
Zuigerslag | Panjang langkah piston | 610 | mm | |
Drijfwieldiameter | Diameter roda penggerak | 1102 | mm | |
Loopwieldiameter | Diameter roda bantu/pengarah | 774 | mm | |
Tenderwieldiameter | Diamater roda tender | 774 | mm | |
Gewichten | ||||
Hoogste Asdruk | Gaya tekan pada gandar | 11,205 | ton | |
Dienstgewicht locomotief | Berat siap lokomotif | 95,81 | ton | |
Adhesiegewicht | Berat adhesi | 87,98 | ton | |
Ledig gewicht | Berat kosong | 86,37 | ton | |
Dienstgewicht tender | Berat siap tender | 40,326 | ton | |
Ledig gewicht tender | Berat kosong tender | 17,405 | ton | |
Totaal diensgewicht | Total berat siap | 136,136 | ton | |
Watervoorraad W | Persediaan air | 9,0 | m3 | |
Kolenberging K | Penyimpanan batubara | 8,2 | Ton | |
Houtberging H | Penyimpanan kayu | 8,3 | m3 | |
Totaal dienstgewicht L+t | Total berat siap / terlayani | 51,8 | ton | |
Totale lengte loc en tender | Panjang total | 20792 | mm | |
Grootste breedte | Lebar terbesar | 2990 | mm | |
Grootste hoogte | Tinggi terbesar | 3720 | mm | |
Kleinste boogstraal | Radius terkecil | 150 | m | |
Aanzet trekkracht T | Kekuatan tarik | 17300 | kg | |
Vermogen N | Indikator daya silinder | 1430 | ipk | |
Dientsnelheid V | Kecepatan layanan | 50 | km/h | |
Sumber :
J.J.G. Oegema,. 1982. De Stoomtractie Op Java En Sumatra, Kluwer Technische Boeken B.V.-Deventer,
A.E. Durrant. 1989. Lokomotip Uap. Rijswijk: Uigeverij Elmar B.V