Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
Lokomotif D52

Lokomotif D52

Sarana
27 Juli 2026
by Administrator

Lokomotif Seri D52 adalah lokomotif uap multifungsi yang dioperasikan oleh Djawatan Kereta Api (DKA). Lokomotif ini merupakan satu-satunya jenis lokomotif uap jalur utama yang dipesan oleh Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan.

Paska kolonialisasi, Pemerintah Indonesia mengambil kebijakan untuk melakukan nasionalisasi perusahaan Belanda di Indonesia, salah satunya adalah Staatsspoorwagen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda. Perusahaan ini berganti nama menjadi Djawatan Kereta Api  (DKA). 

Djawatan Kereta Api mewarisi armada lokomotif, kereta serta gerbong yang berumur tua serta banyak yang rusak akibat perang. Untuk memodernisasi armada sarananya, DKA memesan lokomotif, kereta dan gerbong baru ke berbagai perusahaan di luar negeri. Salah satu lokomotif yang dipesan adalah lokomotif uap D52. Sebanyak 100 lokomotif uap bergandar 2-8-2 ini dipesan oleh Pemerintah Indonesia. Seluruhnya dibuat oleh pabrikan Fried Krupp di Essen, Jerman, mulai tahun 1950.

Fungsi lokomotif D52 di Jawa dititikberatkan sebagai angkutan penumpang dibanding angkutan barang. Sebagian masyarakat bahkan mengidolakan lokomotif ini lantaran kesetiaannya mengantar penumpang ke mana saja. Seperti yang terjadi di lintas Madiun-Kertosono yaitu kereta api KA Rapih Dhoho. Sementara di Sumatera Selatan, lokomotif ini difungsikan sebagai angkutan barang, yaitu untuk menarik rangkaian batu bara.

Lokomotif Seri D52 tersebar di delapan depo lokomotif di Jawa dan Sumatera, yaitu :

  1. Jatinegara (22 unit)

  2. Cirebon (15 unit)

  3. Banjar (enam unit)

  4. Kutoarjo (tiga unit)

  5. Yogyakarta (16 unit)

  6. Madiun (15 unit)

  7. Sidotopo (13 unit)

  8. Kertapati (10 unit)

Sebagian orang membandingkan lokomotif ini dengan lokomotif Baureihe 41 milik perusahaan kereta api Federal Jerman (Deustche Bundesbahn) yang dibuat oleh pabrik yang sama dalam kurun waktu yang sama. Lokomotif D52 memiliki fitur-fitur khas lokomotif buatan Jerman, seperti smoke deflector ukuran kecil, boiler standar, dan beberapa fitur lain. 

D52 boleh dikatakan sebagai lokomotif uap paling modern yang pernah dimiliki Indonesia. Dengan diameter roda penggerak yang besar (1.503 mm), lokomotif ini dirancang agar dapat berlari dengan kecepatan maksimum hingga 90 km/jam, jarang dicapai pada saat itu. Hal ini membuat lokomotif D52 sangat cocok menarik kereta barang dan penumpang cepat di dataran rendah, namun sangat buruk untuk jalur pegunungan (terutama di Jawa Barat), karena kecenderungannya untuk berjalan kencang. 

D52100 di Stasiun Banjar. (Sumber: Lokomotip Uap)

Selain itu, lokomotif ini juga memliki tekanan uap yang sangat tinggi (16 kg/cm3), melebihi lokomotif mallet seperti DD52 sekalipun. Pada awal kedatangannya, lokomotif D52 menggunakan dua jenis bahan bakar. Seri D52001 sampai D52050 menggunakan batu bara, sementara sisanya menggunakan minyak residu. Belakangan, antara tahun 1956 dan 1965, sebanyak 21 lokomotif D52 berbahan bakar batu bara dikonversi menjadi lokomotif berbahan bakar minyak residu. Pengerjaan konversi dilakukan oleh Balai Yasa Madiun yang saat ini telah berubah menjadi PT INKA (Persero). Sebanyak 29 lokomotif tetap tidak dikonversi, sepuluh diantaranya dikirim ke Sumatera. Kini lokomotif D52 hanya tersisa satu, yaitu bernomor D52099 di Museum Transportasi TMII, Jakarta.

Bagikan ke: