Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
Lokomotif Mak Itam

Lokomotif Mak Itam

Sarana
27 Juli 2026
by Administrator

Pembangunan jalur kereta api di Sumatera Barat berhubungan erat dengan emas hitam, batu bara. Adalah H. W. de Greve, seorang ahli geologi  yang menemukan kandungan batu bara di Ombilin, Sawahlunto sekitar tahun 1868. Selanjutnya, menurut penelitian Verbeek pada tahun 1875, diduga terdapat kuang lebih 200 juta ton batu bara di daerah tersebut.

Sejak ditemukan kandungan batu bara, J. L. Cluysenar memimpin sebuah tim yang meneliti bagaimana cara mengangkut batu bara tersebut secara murah ke pantai barat di Sumatera. Hasil laporan terbit pada tahun 1875. Cluysenar mengusulukan pembangunan jalur kereta api dari Muaro Kalaban ke Padang melalui Solok menembus Bukit Barisan.

Usulan Cluysenar ditolak, mengingat kesulitan jalur yang aka dibangun dengan biaya yang tinggi. Tiga tahun berselang, Cluysenar menyarankan pembangunan melewati Lembah Anai menggunakan jalur kereta bergerigi.

Sama seperti pembangunan jalur kereta api di Jawa, mencuat perdebatan siapa yang akan membangun, pemerintah ataukah swasta. Disepakati bahwa pemerintah lah yang akan membangun, perusahaan kereta api pemerintah, Staatsspooregen ter Sumatra’s Westkust (SSS).

Sebagai penarik rangkaian kereta, salah satu lokomotif yang dibeli SSS ialah Lokomotif Uap tipe E10. Kurun tahun 1921-1928 didatangkan 22 lokomotif tipe E10 dengan nomor 4-25 dari Pabrik Esslingen dan SLM. Selanjutnya tahun 1964-1966 kembali didatangakan 20 Lokomotif E10 dari Pabrik Esslingen. Di tahun 1967 dibeli 7 unit lokomotif tipe yang sama dari Pabrik Nippon Sharyo Jepang.

Salah satu Lokomotif tipe E10 yang masih ada ialah Lokomotif Uap E1060. Lokomotif yang disebut Mak Itam ini merupakan buatan Pabrik Esslingen, Jerman yang didatangkan tahun 1966. Lokomotif ini memiliki roda gigi yang bertugas mengait rel bergigi.

Dimensi Lokomotif Uap E10. (Sumber: De Stoomtractie Op Java En Sumatra)

Paska era lokomotif uap berakhir pada 1981, berangsur-angsur lokomotif uap diganti dengan lokomotif diesel pada kurun tahun 1981-1984. Sejak saat itu pula Mak Itam mengakhiri masa tugasnya sebagai penarik kereta api penumpang dan barang dan lebih banyak digunakan untuk kereta api wisata rel bergerigi rute Kayutanam-Padangpanjang-Tabal.

Pada tahun 1998, Mak Itam diboyong ke Museum Kereta Api Ambarawa, Jawa Tengah dalam kondisi rusak. Setelah diperbaiki, lokomotif berkekuatan 750 tenaga kuda itu melayani kereta wisata rute Ambarawa–Jambu. Lokomotif tersebut tidak melalui jalur bergigi menuju Bedono karena roda gigi di bagian bawah lokomotif tidak sesuai dengan lubang-lubang bergigi di atas jalur rel.

Desember 2008, lokomotif uap Mak Itam kembali pulang ke Sawahlunto atas permintaan dari Pemerintah Kota Sawahlunto. Di sana ia dijadikan sebagai penarik kereta api wisata rute Sawahlunto–Muara Kalaban (7 km) untuk melengkapi wisata tambang dan wisata kota tua di Sawahlunto.

Pada tahun 2017, Lokomotif Mak Itam ditetapkan sebagai benda cagar budaya berdasarkan Keputusan Walikota Sawahlunto Nomor: 188.45/327/WAKO-SWL/2017.

Saat ini, Lokomotif Mak berada di Depo Sawahluto dan masih bisa berjalan di emplasemen Sawahlunto Rail and Train Museum. 

Lokomotif tipe E60 melintas di sekitar Air Mancur. (Sumber: Lokomotip Uap 1988)

 

Lokomotif Mak Itam di Depo Sawahlunto tahun 2017. (Sumber: KAI)

Bagikan ke: