
Lokomotif CC 200
Salah satu tantangan Djawatan Kereta Api (DKA) dalam mengelola perkeretaapian di Indonesia adalah merehabilitasi kembali sarana dan prasarana yang sudah banyak rusak. Mengingat keadaan transportasi yang harus diatasi, pemerintah segera mengimpor 100 lokomotif uap D52 dari Pabrikan Krupp Jerman Barat tahun 1950.
Selama masa tunggu kedatangan lokomotif D52 yang telah dipesan pada awal 1950, diputuskan untuk memesan juga lokomotif-lokomotif diesel yang kemampuan dan efisiensinya lebih baik dari lokomotif uap. Sedangkan untuk tujuan jangka panjangnya adalah DKA ingin secara bertahap mengganti lokomotif bertenaga uap dengan lokomotif tenaga diesel. Sempat terjadi perdebatan di antara kalangan DKA, apakah lokomotif diesel yang akan digunakan adalah hidrolik atau elektrik. Masing-masing memiliki keunggulannya sendiri. Setelah dipertimbangkan matang, akhirnya Direktur Jenderal Kereta Api (DKA) yang dipimpin oleh Ir. Moh. Effendi Saleh dan Ir. Otong Kosasih sebagai Kepala Traksi, memutuskan untuk membeli 27 unit lokomotif diesel elektrik dari General Electric di Amerika Serikat sebagai awal dieselisasi lokomotif di lingkungan DKA.
Pada awal pemesanan lokomotif diesel, manajemen DKA sama sekali tidak memiliki pengalaman dengan teknologi diesel. Oleh karena itu beberapa ahli kereta api dari DKA dikirim ke pabriknya di Amerika Serikat untuk lebih mengenal lokomotif diesel elektrik. Selain itu pabrik lokomotif diesel hidrolik Krupp di Jerman Barat juga dikunjungi untuk mendapat pengetahuan luas mengenai teknologi diesel.
Pada Juni 1952 Ir. Effendi Saleh menugaskan Ir. Djoko Soejoto sebagai salah satu insinyur teknik kelistrikan dan Kepala Traksi Balai Yasa Manggarai untuk memulai program dieselisasi DKA.[1] Dalam program dieselisasi itu, Ir. Djoko diberi kewenangan luas untuk mempersiapkan kedatangan lokomotif tipe CC 200[2]. Sekembalinya dari Amerika Serikat, Ali Noor Luddin yang menjadi salah satu dari beberapa ahli kereta api yang dikirim ke luar negeri, bersama Ir. Djoko Soejoto membuka sekolah/ kursus pelatihan diesel pertama di kompleks Balai Yasa Manggarai.
Berhubung masih baru, sebuah rumah dinas di Manggarai Jakarta digunakan menjadi bagunan sekolah (rumah instruksi) dan para siswa menempati sembilan rumah dinas yang lebih kecil disekitarnya sebagai asrama mereka. Sekolah itu dibagi dalam lima bagian, yang secara garis besar terdiri dari teknologi mekanik dan listrik. Ali mengajari bagian mekanik, sementara Djoko bertugas mengajar bagian listrik. Ada pun siswa peserta pendidikan diambil dari para teknisi Balai Yasa Manggarai dan masinis serta pembantu masinis dari dipo lokomotif. Lama kursus adalah dua bulan dan seminggu berdasarkan pada sifat dan tingkatannya.[3] Salah satu masinis dari Dipo Lokomotif Jatinegara bernama Kurdi Wangsa menjadi lulusan pertama dan karena pengalaman dan usianya, ia diangkat sebagai masinis senior oleh Djoko.
Pada akhir September 1952, lokomotif diesel pertama tiba di Pelabuhan Tanjung Priok. Ali bersama Djoko dan beberapa orang dari DKA menyambut kedatangan itu. Kran (crane) terapung Gadjah Laoet dipakai untuk mengangkat lokomotif dari kapal ke atas rel kereta api di dermaga pelabuhan Kemudian, lokomotif GE/ Alco tipe CC 200 bercat kuning-hijau dengan 1600 tenaga kuda itu ditarik oleh lokomotif uap ke Balai Yasa Manggarai. Selama beberapa hari pertama persiapan, lampiran buku manual yang menyertai lokomotif CC 200 dapat dipahami oleh kru bengkel.

Presiden RI Soekarno saat hendak naik ke kabin masinis lokomotif CC 200 02 di Stasiun Gambir dalam Peresmian lokomotif diesel di Indonesia. (Sumber foto: Buku Memoar: Ruby Kiyoka Yamamoto Soejoto & Djoko Soejoto, The Story of Ruby Kiyoka & Djoko Soekoto)
Pada 2 Oktober 1952, untuk pertama kalinya lokomotif diesel dicoba dijalankan keluar dari areal Balai Yasa Manggarai. Ada tiga orang yang menjadi masinis diesel pertama itu, adalah Ali Noor Luddin, Kurdi Wangsa, dan Djoko Soejoto. Ali menjalankan lokomotif dari Balai Yasa menuju Stasiun Manggarai. Dari Manggarai, Djoko menggantikan Ali melanjutkan perjalanan lokomotif sampai Stasiun Tanah Abang tanpa membawa rangkaian. Kemudian Kurdi Wongso mengambilalih kendali lokomotif membawanya kembali ke Manggarai. Dengan demikian, lokomotif diesel pertama telah menyelesaikan rute perjalanan pertamanya sepanjang Balai Yasa-Manggarai-Tanah Abang pp. Ada pun di antara ketiga orang itu hanya Kurdi dan Djoko yang merupakan masinis berlisensi.
Hari-hari berikutnya ujicoba dilakukan dengan menarik rangkaian kereta. Berangsur-angsur beban rangkaian terus ditambah mulai dari satu kereta sampai batas maksimal daya tarik. Kecepatan puncak rangkaian yang ditarik CC 200 dipacu sampai 90 kilometer per jam dan turut diuji sistem pengeremannya. Dalam serangkaian ujicoba tersebut, ternyata tidak butuh waktu lama para kru DKA untuk dapat menguasai seluk-beluk lokomotif diesel. Selain karena operasionalnya lebih mudah dari lokomotif uap, Djoko Soejoto sebagai penanggung jawab dieselisasi lokomotif, memilih orang-orang muda di DKA yang sama sekali tidak tahu dengan teknologi lokomotif uap untuk mengurusi lokomotif diesel. Orang muda dipandang akan lebih cepat belajar dan tidak perlu melepaskan diri dari kebiasaan menangani lokomotif uap.

Ir. Djoko Soejoto ikut mendampingi Presiden RI naik ke kabin masinis lokomotif CC 200 02. (Sumber foto: Buku Memoar: Ruby Kiyoka Yamamoto Soejoto & Djoko Soejoto, The Story of Ruby Kiyoka & Djoko Soekoto)

CC 200 di Balai Yasa Manggarai. (Sumber foto: Buku Memoar: Ruby Kiyoka Yamamoto Soejoto & Djoko Soejoto, The Story of Ruby Kiyoka & Djoko Soekoto)

LAPORAN HARIAN MASINIS mengenai perjalanan peresmian lokomotif diesel CC200 (tampak depan)

LAPORAN HARIAN MASINIS mengenai perjalanan peresmian lokomotif diesel CC200 (tampak belakang)
Sitasi :
[1] Ruby Kiyoka Yamamoto Soejoto & Djoko Soejoto, THE STORY OF RUBY KIYOKA & DJOKO SOEJOTO. Blitar, 2007: Hlm. 66
[2] Tipe lokomotif CC adalah lokomotif baik uap maupun diesel dengan 2 x 3 roda penggerak. Lihat Tim Telagabakti Nusantara, Op. Cit., Hlm. 481. Angka 200 atau yang di belakangnya adalah nomor seri yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang mengoperasikannya seperti DKA dan DSM di Indonesia pasca penyerahan kedaulatan 1950.
[3] M. Gani, Op. Cit. Hlm. 62