Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
B50 Jadi Program Dekarbonisasi Terbesar KAI, Targetkan Reduksi 133.676 Ton CO₂e

B50 Jadi Program Dekarbonisasi Terbesar KAI, Targetkan Reduksi 133.676 Ton CO₂e

Inovasi
7 Oktober 2026
by Administrator

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI memperkuat komitmen keberlanjutan melalui penggunaan biodiesel B50 sebagai program utama dalam roadmap dekarbonisasi perusahaan. Dari total target pengurangan emisi sebesar 166.873 ton CO₂e melalui tiga program dekarbonisasi, transisi bahan bakar dari B35 menuju B50 ditargetkan berkontribusi sebesar 133.676 ton CO₂e atau sekitar 80 persen dari keseluruhan target.

Implementasi B50 mulai dilakukan secara bertahap sejak 1 Juli 2026 pada sarana diesel KAI. Bahan bakar ini mengandung 50 persen biodiesel berbasis nabati dan 50 persen diesel, yang penggunaannya menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus menekan emisi dari operasional kereta api.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, penggunaan B50 menjadi langkah penting dalam upaya perusahaan mengurangi emisi karbon, mengingat bahan bakar merupakan salah satu komponen utama dalam operasional sarana diesel.

“B50 menjadi program dekarbonisasi dengan kontribusi terbesar dalam roadmap KAI, dengan target pengurangan emisi mencapai 133.676 ton CO₂e. Implementasinya dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan sarana, kualitas bahan bakar, keselamatan, dan keandalan operasional,” ujar Anne.

Penggunaan biodiesel ini memiliki peran penting dalam mendukung operasional KAI yang masih mengandalkan bahan bakar untuk lokomotif dan sarana diesel di sejumlah lintas. Berdasarkan data internal KAI per 24 Agustus 2026, realisasi penggunaan BBM subsidi untuk kereta api penumpang mencapai sekitar 129,64 juta liter. Kebutuhan bahan bakar juga mencakup operasional angkutan barang, seperti parcel, peti kemas, klinker, dan semen.

Anne menjelaskan bahwa penerapan B50 tidak sekadar mengganti komposisi bahan bakar, tetapi juga membutuhkan evaluasi teknis agar penggunaannya dapat mendukung operasional kereta api secara optimal. Aspek yang diperhatikan meliputi performa mesin, kualitas pembakaran, sistem penyaringan, pola perawatan, hingga stabilitas operasional sarana.

“Transisi energi di sektor transportasi harus berjalan seiring dengan keandalan layanan. Karena itu, setiap perubahan bahan bakar perlu didukung pengujian dan evaluasi teknis agar manfaat lingkungan dapat berjalan selaras dengan keselamatan dan kesiapan perjalanan,” kata Anne.

Selain penggunaan B50, KAI terus menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari pengembangan perusahaan. Upaya ini berjalan beriringan dengan efisiensi energi, pengurangan emisi, dan optimalisasi penggunaan sumber daya untuk mendukung operasional yang semakin berkelanjutan.

Pemanfaatan biodiesel juga membuka peluang untuk meningkatkan penggunaan energi berbasis nabati dalam sektor transportasi. Dengan penerapan secara bertahap pada sarana diesel, KAI menargetkan pengurangan emisi yang terukur sekaligus menjaga kelancaran perjalanan penumpang dan angkutan barang di berbagai wilayah.

“Arah dekarbonisasi KAI adalah menurunkan emisi melalui program yang memberikan kontribusi nyata terhadap operasional perusahaan. B50 menjadi salah satu program utama yang terus kami evaluasi dari sisi dampak pengurangan emisi, kesiapan teknis, dan efektivitas operasional,” tutup Anne.

Bagikan ke: