Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
KAI Selenggarakan ARCEO 2016

KAI Selenggarakan ARCEO 2016

Berita
20 Oktober 2016
by Administrator

Tahun 2016, Indonesia kembali menjadi tuan rumah pelaksanaan ASEAN Railways CEOs’ Conference (ARCEO). Sebagai satu-satunya perusahaan BUMN operator moda transportasi kereta api di Indonesia, KAI kembali menjadi panitia pelaksana kegiatan pertemuan para pimpinan perusahaan operator kereta api di Asia Tenggara ini. Pelaksanaan kegiatan konferensi ARCEO ke-38 ini mengangkat tema ASEAN’s Railways Connecting ASEAN Economic  Community. Konferensi ARCEO ke-38 ini secara resmi dibuka oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Prasetyo Boeditjahjono, pada Selasa (18/10) di Hotel Royal Ambarrukmo, Yogyakarta. Turut hadir dalam seremoni pembukaan diantaranya Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X; Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti; perwakilan dari BUMN, universitas, pengamat, dan komunitas pencinta kereta api di Indonesia.


Jajaran CEO dan Tamu VIP berfoto bersama saat pembukaan ARCEO

Kegiatan konferensi dipusatkan di Yogyakarta mulai tanggal 17-21 Oktober 2016. Sebanyak tujuh perusahaan operator kereta api di Asia Tenggara yang diwakili oleh total 73 delegasi dan 67 observer dari perusahaan-perusahaan mitra perkeretaapian baik dari dalam dan luar negeri hadir dalam forum rutin tahunan ini. Tujuh perusahaan operator kereta api ASEAN yang hadir yaitu Kereta Api Tanah Melayu Berhad (KTMB) Malaysia, State Railway of Thailand, Vietnam Railway, Royal Railways of Cambodia, Lao Railway Authority Laos, Myanmar Railways, dan KAI. Dari Indonesia, selain KAI, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), PT KCJ, PT KA Pariwisata, dan PT Railink juga turut berpartisipasi dalam konferensi ini.


Direktur Utama KAI Edi Sukmoro memberikan materi dalam Working Group CEO

Dalam konferensi ini, dibahas berbagai aspek teknis, operasi, marketing, pelayanan, teknologi dan perkembangan perkeretaapian di ASEAN. Salah satu tema yang akan menjadi materi diskusi dalam konferensi ini adalah terkait kereta cepat di Indonesia, Thailand, dan Vietnam. Dalam konferensi ini juga akan dibahas tentang tantangan untuk menciptakan konektivitas antarnegara di Asia Tenggara melalui moda CEO’s Conference (ARCEO) ke transportasi kereta api untuk menjawab  tantangan era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Ajang ASEAN Railways -38 yang berlangsung di Yogyakarta  ini di harapkan mampu mewujudkan hal itu. “Intinya, pada masa mendatang (bagaimana) kita membangun ASEAN Railways network secara bersama,” kata ketua panitia ARCEO ke-38 Budi Noviantoro di sela memimpin delegasi ARCEO mengunjungi Museum Kereta Api (KA) di Ambarawa, Kabupaten Semarang. Diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2016 ini bisa menjadi momentum bagi PT Kereta Api Indonesia (KAI) membangun jaringan perkeretaapian, di antara negara-negara ASEAN atau ASEAN Railways Network.


Rombongan Arceo merasakan sensasi KA Wisata Ambarawa

Kereta Api Indonesia akan membantu operasional kereta api di Myanmar, yaitu dengan mengirimkan gerbong kereta yang sudah tua namun masih layak digunakan. "Indonesia memiliki sekitar 600 gerbong kereta yang sudah berusia lebih dari 20 tahun. Ini yang akan kami kirimkan ke Myanmar untuk membantu kereta api di sana," kata Direktur Logistik dan Pengembangan KAI Budi Noviantoro di Yogyakarta. KAI menunggu persetujuan kabinet pemerintahan Myanmar untuk menandatangani nota kesepahaman dalam rangka menjadi operator kereta api di Myanmar. Direktur Logistik dan Pengembangan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Budi Noviantoro mengatakan, saat ini hal tersebut masih dalam tahap proses penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU). “Pihak Myanmar masih tunggu persetujuan kabinetnya,” kata Budi.


Direktur Keuangan KAI Didiek Hartantyo memberikan bendera Arceo pada CEO KTMB sebagai tanda pelaksanaan Arceo berikutnya di Malaysia

Budi mengatakan, moda transportasi kereta api di Myanmar belum berkembang dengan baik. Saat ini, kecepatan kereta api di Myanmar rata-rata adalah 30 kilometer per jam. Jika gerbong bantuan dari Indonesia bisa digunakan di Myanmar, Budi berharap kecepatan kereta di Myanmar bisa ditingkatkan 100 persen menjadi sekitar 60 kilometer per jam. Ia menyebut, bantuan ke Myanmar tersebut merupakan salah satu hasil jangka pendek dari pertemuan perusahaan operator kereta di Asia Tenggara (ARCEO) yang rutin digelar setiap tahun. Negara-negara anggota ASEAN bergantian menjadi tuan rumah setiap tahunnya. Penyelenggaraan konferensi ini merupakan perwujudan persahabatan negara-negara anggota ASEAN, khususnya perusahaan operator perkeretaapian di ASEAN. Dengan diadakannya konferensi ini diharapkan dapat membangun dan meningkatkan kinerja perusahaan operator kereta api di masing-masing negara. (PR KAI)

Bagikan ke: