Kini Ada Monumen Lokomotif dan Air Kran Gratis Di Stasiun Tawang
PT Kereta Api Indonesia (Persero) turut mendukung revitalisasi wilayah Kota Lama di Polder Stasiun Semarang Tawang. KAI bekerjasama dengan pemerintah Kota Semarang meresmikan monumen Lokomotif D 301 59 yang dihiasi dengan Dancing Fountain. Peresmian monumen Lokomotif D 301 59 yang dihiasi Dancing Fountain ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro bersama Wakil Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu yang juga sebagai Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L).
Monumen Lokomotif Menghiasi Halaman Stasiun Tawang Semarang
Perlu diketahui, Polder Stasiun Semarang Tawang merupakan tanah milik KAI yang diperuntukan sebagai polder resapan air untuk mengurangi banjir di wilayah Kota Lama Semarang. Masih dengan fungsi yang sama, untuk mempercantik wilayah Polder Stasiun Semarang Tawang, KAI mempersembahkan sebuah monumen lokomotif untuk melengkapi tampilan kota lama yang lebih eksklusif, mengingat Pemerintah Kota Semarang saat ini masih fokus pada revitalisasi kota lama.
Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro mengatakan pembangunan monument dilatarbelakangi sebagai wujud untuk mengenang beroperasinya lokomotif seri D 301 59 di wilayah kerja perkeretaapian Indonesia mulai tahun 1962. "Pada tahun 1962-1963, sebanyak 80 lokomotif didatangkan dari Pabrik Fried Krupp Jerman oleh DKA (Djawatan Kereta Api) untuk melayani kereta api penumpang maupun kereta api barang di wilayah pulau Jawa," ujar Edi.
Ia menerangkan, lokomotif yang dapat melaju hingga kecepatan 50 km/jam dengan di topang mesin diesel berdaya 340 HP ini, beberapa unit masih beroperasi untuk keperluan dinas langsir di stasiun-stasiun besar di pulau jawa dan kereta api wisata di Museum KA Ambarawa. "Lokomotif yang kini digunakan sebagai monumen, telah beroperasi kurang lebih selama 52 tahun di wilayah kerja perkeretaapian Indonesia," sebutnya.
Tercatat pada bulan April tahun 2014, lokomotif tersebut dinyatakan sudah tidak siap operasi dan mangkrak di emplasemen Depo Lokomotif Semarang Poncol. Melihat hal tersebut, KAI berinisiatif untuk menjadikannya monumen di area kota lama yang juga menjadi salah satu ikon di Kota Semarang lengkap dengan hiasan Dancing Fountain.
Wakil Walikota Semarang dalam sambutannya mengatakan sangat mengapresiasi langkah KAI dalam mempercantik Kawasan Kota Lama Semarang. "Hadirnya Monumen Lokomotif D 301 59 dan Dancing Fountain di Polder Stasiun Semarang Tawang merupakan salah satu langkah yang baik dalam mempercantik Kota Lama Semarang yang saat ini masih terus direvitalisasi. Polder Stasiun Semarang Tawang masih menjadi satu lokasi dengan Kawasan Kota Lama Semarang sehingga monumen tersebut dapat menjadi salah satu ikon di Kota Semarang," jelas Hevearita.
Masih di lokasi yang sama sebagai perwujudan peningkatan kualitas pelayanan dan kepedulian KAI pada kebutuhan penumpang di Stasiun Tawang, kini telah disediakan air minum gratis di peron Stasiun Tawang. Air minum gratis di Stasiun Tawang ini berasal dari sumber air tanah yang diolah menggunakan sistem Refresh Osmosis (RO) melalui 4x penyaringan.
"Sistem penyaringan yang dilengkapi dengan UV untuk mensterilkan dari bakteri yang tidak dibutuhkan untuk tubuh manusia dan telah lolos uji di laboratorium," terang Edi. Menurutnya, kapasitas alat ini mampu menghasilkan 1500 liter air setiap harinya dan diperuntukkan untuk pengguna jasa Kereta Api. Untuk itu, air minum gratis ini dapat dimanfaatkan oleh penumpang yang ada di stasiun tawang.
"Dengan adanya air minum gratis dengan kapasitas 1500 liter diharapkan mampu memudahkan penumpang yang ada di stasiun tawang," tandasnya. Hal tersebut merupakan salah satu wujud pelayanan prima KAI kepada seluruh pelanggan pengguna jasa kereta api. (Public Relations KAI)