KAI Mengikuti Pawai Pembangunan HUT ke-73 RI
PT Kereta Api Indonesia (Persero) turut serta dalam Pawai Pembangunan yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta pada Minggu (26/8). Pawai yang bertemakan Kerja Kita Prestasi Bangsa ini digelar dengan rute Jalan Malioboro sampai dengan Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Pawai Pembanguan ini merupakan acara tahunan yang digelar sebagai bentuk peringatan HUT ke-73 Republik Indonesia. Kegiatan yang dimulai pada pukul 15.00 ini diikuti oleh sekitar 1500 peserta yang berasal dari 45 kelompok.
Bus yang disulap menjadi rangkaian Solo Ekspress
Rombongan peserta KAI diikuti oleh Maskot Si Loko, Masinis, Kondektur, Customer Service, Polsuska, Tiketing, dan pegawai KAI lainnya. Dalam kegiatan ini, KAI menggunakan bus yang disulap menjadi replika KA Solo Ekspress. Tidak hanya bentuk, tetapi juga suara dan bunyi klakson didesain menyerupai kereta sungguhan. Masyarakat menyambut antusias pawai tersebut. Apalagi saat rombongan pawai PT KAI melintas dengan membunyikan semboyan 35 dan Mars KAI disepajang jalan. Kemeriahan ditandai dengan banyaknya masyarakat yang meminta untuk berfoto bersama dengan Maskot KAI.
Si Loko yang menjadi pusat perhatian anak-anak
Dalam pawai tersebut, KAI Daop 6 Yogyakarta sekaligus melakukan Sosialisasi Keselamatan di Perlintasan Kereta Api. Sosialisasi ini dilakukan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat karena tingginya frekuensi kereta api yang melintas khususnya di antara Yogyakarta-Solo. Ada sekitar 171 kereta per hari yang melintas, namun masyarakat dinilai masih abai untuk menaati lalu lintas diperlintasan kereta api. "Masyarakat tidak sadar kalau frekuensi kereta yang melintas itu tinggi. Sekarang perlintasan itu ada peredam, jadi tidak ada suaranya. Lha masyarakat abai, tidak mematuhi rambu karena kereta belum lewat," ujar Manager Humas KAI Daop 6 Yogyakarta Eko Budiyanto. Selain mensosialisasikan keselamatan di perlintasan kereta, KAI juga mengajak masyarakat untuk menggunakan transportasi kereta api agar dapat mengurangi kemacetan. "Saat ini kan jalan padat ya, macet. Transportasi masal adalah solusi kemacetan itu. Kalau mau ke solo daripada naik motor lelah, naik bus kena macet, kan mending naik kereta," lanjut Eko.
Rombongan KAI berada di tengah-tengah kepadatan pengunjung Pawai Pembangunan
Kepala Dinas Pariwisata Aris Riyanta berharap dengan adanya pawai ini masyarakat menjadi semakin solid dan bersatu agar tak mudah terpecah belah dan fokus dalam hal menunjukkan prestasi untuk negeri. "Kita harapkan dengan pawai ini bisa membuat pelajar, mahasiswa, dan masyarakat bisa berinteraksi. Mereka kan bertemu dalam pawai. Kalau sudah berinteraksi, nanti pelajar dan mahasiswa bisa memahami budaya masyakat. Jadi pelajar dan mahasiswa jangan hanya sibuk sendiri, tetapi juga interaksi dengan masyarakat," tutur Aris. Ia juga menjelaskan bahwa Malioboro dipilih sebagai tempat digelarnya pawai ini dikarenakan Malioboro terkenal sebagai ikon kota Yogyakarta. Selain itu, aksesnya juga cukup mudah dan banyak wisatawan asing maupun domestik yang dapat menonton. Terbukti dengan ribuan penonton yang memadati jalan dan ditutupnya jalan Malioboro sampai Titik Nol Killometer Yogyakarta hingga pukul 17.30 WIB. (Public Relations KAI)