Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
KAI Ajak Wartawan Tinjau Jalur Non-Aktif Banjar-Pangandaran-Cijulang

KAI Ajak Wartawan Tinjau Jalur Non-Aktif Banjar-Pangandaran-Cijulang

Berita
22 Maret 2018
by Administrator

PT Kereta Api Indonesia (Persero) kembali melakukan Napak Tilas menelusuri jalur KA non-aktif di daerah Banjar-Pangandaran-Cijulang. Napak Tilas tersebut diikuti oleh jajaran Humas KAI, Aset KAI dan turut serta mengajak para awak media cetak, elektronik dan online. Acara yang berlangsung pada 20-22 Maret 2018 ini juga dihadiri oleh Pengamat Transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setjowarno, komunitas Kereta Anak Bangsa, komunitas Pecinta KA, dan perwakilan Balai Teknik perkeretaapian Jawa Barat.

VP Public Relations KAI Agus Komarudin, menyatakan bahwa tujuan dari Napak Tilas tersebut adalah untuk pengamanan aset sekaligus melihat potensi dibukanya kembali rute tersebut. KAI perlu sigap memantau aset di sepanjang rute tersebut. “Tujuan pengamanan aset karena perkembangan wilayah di Jabar, masyarakat makin tumbuh, perekonomian juga,” tuturnya. Ia berharap seluruh pemangku kepentingan mendukung proses reaktivasi jalur guna meningkatkan kesejahteraan warga. "Ini kawasan wisata, terkait transportasi padat, mudah-mudahan dengan napak tilas, pemda, semua instansi dukung reaktivasi ini," jelasnya. Agus menegaskan bahwa reaktivasi jalur kereta menjadi wewenang Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Daerah. "Sebagai operator, PT KAI siap jika jalur Banjar-Cijulang diaktifkan kembali.

Wartawan melihat sisa-sisa konstruksi Jembatan Cikacepit
Wartawan melihat sisa-sisa konstruksi Jembatan Cikacepit

Pada hari pertama (20/3) Napak Tilas dimulai dari kilometer nol yang kemudian menelusuri bekas halte banjarsari dan kalipucang, terowongan Hendrik, jembatan Cikaceupit yang memiliki panjang 290 meter. Terowongan Hendrik atau lebih dikenal terowongan Warung Bungur panjangnya sekitar 100 meter dan digunakan lalu lintas warga setempat hingga kini. Terowongan ini masih relatif pendek kalau dibandingkan tiga terowongan lain di rute Banjar-Cijulang.  Intrias Herlistiarto pemandu dari Kereta Anak Bangsa mengatakan, dari sisa-sisa peninggalan yang merupakan aset KAI yakni pompa air pengisi kereta uap pada saat itu yang dijadikan sebagai cagar budaya.  Kegiatan malam hari dilanjut dengan diskusi Napak Tilas dengan pemerintah daerah Banjar dan Pangandaran. Hadir pada acara diskusi USP, AP, pengamat transportasi Djoko Setjowarno, Sekda Kabupaten Pangandaran Mahmud beserta jajaran, Kepala Dinas pariwisata kota Banjar, Balai Teknik perkeretaapian Jabar yang diwakili oleh Kasi lalu lintas sarana dan keselamatan Aditya Karsa.

Reaktivasi jalur kereta api yang menghubungkan Stasiun Banjar-Pangandaran sampai dengan Cijulang diyakini bisa menjadi wisata spektakuler. Hal itu karena, jalur kereta sepanjang 82,2 kilometer tersebut merupakan jalur yang menghadirkan panorama eksotis, mulai dari pegunungan hingga pinggir laut. Perjalanan kereta Banjar-Pangandaran-Cijulang juga menghadirkan wisata tersendiri. Salah satunya adalah pemandangan Pantai Karangnini dari atas kereta. Di jalur ini juga ada lima jembatan besar dan empat terowongan, seperti Jembatan Cikacepit dengan panjang 290 meter, Jembatan Cipambokongan (284 meter), Terowongan Philip (281 meter), Terowongan Hendrik (105 meter), dan Terowongan Wilhelmina (1,1 kilometer) sebagai terowongan kereta terpanjang di Indonesia.

Rombongan meninjau bangunan Stasiun Pangandaran yang kini sudah tidak berfungsi
Rombongan meninjau bangunan Stasiun Pangandaran yang kini sudah tidak berfungsi

Mahmud mengatakan, pihaknya berharap pemerintah merealisasikan rencana reaktivasi jalur KA Banjar-Pangandaran yang telah mati 30 tahun. Beroperasinya KA menuju kawasan wisata Pangandaran akan menjadi pilihan masyarakat memilih moda transportasi. "Kami sangat berharap, kereta ke Pangandaran ini diaktifkan kembali. Sehingga ke depan, transportasi menuju Pangandaran lebih lengkap. Masyarakat bisa memilih menggunakan kereta api, mobil, pesawat, atau lewat jalur pelabuhan," jelas dia. Menurutnya reaktivasi jalur akan menambah pilihan akses ke Pangandaran, sehingga lokasi wisata lebih mudah dijangkau dan akan memberikan dampak ekonomi kepada pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

Mahmud menjelaskan, bahwa sebagian besar wisatawan saat ini datang ke Pangandaran melalui jalan raya. Mereka menggunakan mobil pribadi atau bus dengan waktu tempuh sekitar 6 jam. Hanya sebagian kecil pengunjung menggunakan kereta dari Kota Bandung ke Kota Banjar. Perjalanan dilanjutkan menggunakan bus ke Pangandaran selama sekitar 1,5 jam. Jika jalur kereta Banjar-Pangandaran-Cijulang diaktifkan kembali, Bandung-Pangandaran dapat ditempuh dengan waktu 4,5 jam. "Waktu tempuh lebih cepat, biaya perjalanan juga lebih murah. Jadi, dari sisi wisata, reaktivasi jalur kereta Banjar-Cijulang sangat strategis," ucapnya.

Djoko Setijowarno, mengatakan, reaktivasi jalur kereta tidak harus dilakukan di jalur lama. Pembangunan jalur baru dimungkinkan karena jalur yang sudah ada belum tentu sesuai dengan ukuran kereta saat ini. "Itu perlu pembahasan lebih detail untuk menentukan memakai trase lama atau membangun trase baru," ujarnya.

Di hari kedua Napak Tilas (21/3), rombongan menuju ke lokasi Stasiun Cijulang yang merupakan stasiun akhir di Kabupaten Pangandaran. Di sini, sisa-sisa bangunan stastiun sudah mulai hancur pada bagian atap dan dindingnya. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Stasiun Pangandaran yang menjadi satu-satunya dari sekian stasiun rute Banjar-Cijulang yang masih utuh. Hanya saja, kondisinya sudah dipadati oleh bangunan rumah warga. Masyarakat mendirikan bangunan permanen dan semipermanen di lahan sekitar stasiun dan di atas bekas rel. "Pendataan aset telah dilakukan. Namun, tanda yang dipasang banyak dicabut," ujar Agus Komarudin. Dalam kegiatan ini KAI memberikan sosialisasi kepada warga yang mendirikan bangunan di atas lahan KAI. "Jadi, ketika jalur itu diaktifkan kembali, warga sudah memahaminya. Sebab, pada dasarnya lahan itu milik KAI yang sudah lama tak dioperasikan," ujarnya.  Dari sini, rombongan melanjutkan perjalanan menuju terowongan Julia dan Wilhelmina yang merupakan terowongan terpanjang dengan jarak 1.116 meter yang berada di Desa Pamotan Kecamatan Kalipucang.

Sisa-sisa dari Jembatan Cipanerekean yang berada dekat dengan Samudera Hindia
Sisa-sisa dari Jembatan Cipanerekean yang berada dekat dengan Samudera Hindia

Pada hari ketiga (22/3) Napak Tilas menyusuri jalur-jalur eksotis sepanjang Pangandaran diantaranya masih tersisa pilar-pilar jembatan dengan kondisi rusak tapi masi kokoh yang membelah bukit dan muara Cipanarekean. Keberadaan bekas jalur KA poros selatan ini bermakna penting untuk membuka aksesibilitas dan menggerakkan perekonomian di Jabar bagian selatan. (Public Relations KAI)

Bagikan ke: