Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
Sejarah Gedung Lawang Sewu

Sejarah Gedung Lawang Sewu

Non-Stasiun
24 Juli 2026
by Administrator

ISI ARTIKEL

Kantor Pusat Perusahaan Kereta Api Swasta

Lawang Sewu merupakan gedung bersejarah milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang awalnya digunakan sebagai Hoofdkantoor (kantor pusat) perusahaan kereta api swasta Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Perusahaan tersebut membuka jaringan kereta api pertama di Indonesia dengan rute Seamarang-Surakarta-Yogyakarta yang mulai diopersikan pada tahun 1867 (lintas Semarang-Tanggung).

Pada awalnya, administrasi NISM diselengarakan di Stasiun Samarang NISM. Akibat pertumbuhan jaringan yang pesat diikuti bertambahnya kebutuhan ruang kerja sehingga diputuskan membangun kantor administrasi di lokasi baru. Pilihan jatuh pada lahan di pinggir kota dekat kediaman Residen Hindia Belanda, di ujung Selatan Bodjongweg Semarang, di dekat Wilhelmina Plen (sekarang Tugu Muda Semarng).

Bangunan Lawang Sewu didesain oleh arsitek terkenal dari Belanda yaitu Prof. Klinkhamer di Delft dan BJ Oendaag, arsitek di Amsterdam. Kedua arsitek tersebut mendesain Gedung Lawang Sewu serta memimpin pembangunan dari Belanda, dengan membuat semua gambar dan mengirim semua laporan.

Tahapan pembangunan Gedung Lawang Sewu.

Pelaksanaan pembangunan dimulai 27 Februari 1904 dan selesai Juli 1907. Bangunan pertama yang dikerjakan adalah rumah penjaga dan bangunan  percetakan, kemudian dilanjutkan dengan bangunan utama. Setelah dipergunakan beberapa tahun, perluasan kantor dilaksanakan dengan membuat bangunan tambahan di sisi Timur Laut tahun 1916-1918.

Kantor pusat NISM adalah salah satu kantor modern pertama yang didirikan di Indonesia. Dengan menggunakan galeri di luar, bangunan ini sangat cocok untuk iklim tropis. Arsitektur bangunan memiliki karaker yang sangat diperhatikan dan dibedakan. Pada bangunan utama terdapat kaca patri buatan seniman JL. Schouten dari studio ‘t Prinsenhof di Delft. Salah satu ornamen pada kaca patri melukiskan roda terbang yang melambangkan kejayaan perkeretaapian pada masa itu

Nama lawang sewu merupakan julukan dalam Bahasa jawa yang berarti Pintu Seribu sebagai penggambaran karena memiliki jumlah pintu sangat banyak, meski jumlahnya tidak sampai seribu.

Kesibukan di halaman Gedung Lawang Sewu sekitar tahun 1930.

Sekilas Sejarah Gedung Lawang Sewu:

  • Sejak bulan Juli 1907 digunakan sebagai Kantor Pusat Administrasi NIS.

  • Kurun tahun 1942-1945 Lawang Sewu diambil alih oleh Jepang dan digunakan sebagai Kantor Riyuku Sokyoku (Jawatan Transportasi Jepang)

  • Paska kemerdekaan, tahun 1945 menjadi Kantor Eksploitasi Tengah DKARI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia).

  • Pada Tahun 1946 dipergunakan sebagai markas tentara Belanda sehingga kegiatan perkantoran DKARI pindah ke bekas kantor de Zustermaatschappijen (saat ini Kantor PT KAI Daop 4 Semarang)

  • Setelah pengakuan kedaulatan RI tahun 1949 digunakan Kodam IV Diponegoro

  • Tahun 1994 gedung ini diserahkan kembali kepada Perusahaan Kereta Api Perumka, saat ini PT Kereta Api Indonesia (Persero)

  • Pada tahun 2009 dilaksanakan restorasi oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero)

  • 5 Juli 2011 dilakukan peresmian Purna Pugar Cagar Budaya Gedung A Lawang Sewu

Suasana Lawang Sewu sekitar tahun 1940, nampak rel trem milik perusahaan swasta Semarang Juana Stoomtram Maatschappij (SJS).

Para pegawai Riyuku Sokyoku di depan pintu masuk Lawang Sewu sekitar tahun 1942.

Monumen Tugu Muda Semarang yang diresmikan tahun 1953 sebagai monumen peringatan Pertempuran 5 Hari di Semarang, foto tahun 1955. Pada tahun itu Lawang Sewu digunakan sebagai Kantor Kodam IV Diponogoro.

Saat ini Gedung Lawang Sewu dimanfaatkan sebagai museum, Historic Building Lawang Sewu yang menyajikan beragam koleksi dari masa ke masa perkeretaapian di Indonesia. Koleksi yang dipamerkan antara lain: koleksi Alkmaar, mesin Edmonson, Mesin Hitung, Mesin Tik, Replika Lokomotif Uap, Surat Berharga dan lain-lain. Lawang Sewu menyajikan proses pemugaran gedung Lawang Sewu yang terdiri dari foto, video, dan material restorasi. Mendekati pintu keluar, terdapat perpustakaan berisikan buku-buku tentang kereta api.

Selain menjadi tempat wisata sejarah, Gedung Lawang Sewu juga dapat disewa untuk kegiatan Pameran, Ruang Pertemuan, Pemotretan, Shooting, Pesta Pernikahan, Festival, Bazar, Pentas Seni, Workshop, dll.

Bagikan ke: