Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
Penerus Warisan Balai Yasa

Penerus Warisan Balai Yasa

Non-Stasiun
2 Juli 2026
by RIZKYA SELLY ANGGRAENY

ISI ARTIKEL

Kisah Jalur Kereta Api di Sumatera Selatan

Pembangunan jalur kereta api di Sumatera Selatan dilaksanakan oleh perusahaan kereta api negara, Zuid Staatsspoorwegen (ZSS). Proyek pembangunan mulai digarap pada tahun 1911 di dua lokasi berbeda, yakni di Lampung maupun Palembang.

Tanggal 3 Agustus 1914, antara Panjang dan Tanjung Karang sepanjang 12 km diresmikan oleh ZSS. Setahun berselang, tepatnya 1 November 1915 dibuka untuk umum lintas Kertapati-Prabumulih dengan panjang 78 km. Berturut-turut pembangunan dilanjutkan hingga kedua jalur tersebut terhubung.

Untuk pemeliharaan rolling stock kereta api, ZSS membangun dua buah werkplaats atau bengkel kereta api, masing-masing di Tanjung Karang dan Kertapati.

Suasana werkplaats atau bengkel kereta api (kini balai yasa) di Tanjung Karang (kiri) dan Kertapati (kanan) sekitar tahun 1915. (Sumber: Stations en spoorbruggen op Sumatra)

Pembangunan Balai Yasa Lahat

Menjelang akhir tahun 1930, ZSS memiliki lebih dari 500 km jalur kereta api. Menjalankan 26 unit lokomotif, 150 unit kereta, 400 unit gerbong dan 30 unit mobil. Dalam pengelolaan dan pemeliharaan sarana tersebut, bengkel kereta api di Tanjung Karang dan Kertapati kewalahan.

Kedua bengkel tersebut tidak mampu mencukupi produksi dan perbaikan sarana, serta kebutuhan peralatan lain. Dalam hal konstruksi, bangunan dan peralatan kedua bengkel tersebut tidak dirancang untuk tugas yang kian berat. Sehingga sokongan bantuan bengkel kereta api di Manggarai pun didatangkan secara teratur.

Kian waktu, situasi bengkel di Tanjung Karang dan Kertapati dianggap begitu mengerikan. Selain itu, tempat tinggal pegawai sebagian besar merupakan bangunan sementara dengan struktur kayu disertai dinding kayu sehingga sudah tidak layak. 

Solusinya, dibangunlah sebuah bengkel kereta api besar dan modern yang terpusat dengan baik untuk menggantikan peran kedua bengkel yang sudah ada. Tujuannya untuk melakukan pemeliharaan sarana kereta api dengan cara terbaik dan termurah.

Lokasi Hoofdwerkplaatsen atau bengkel besar berada di Lahat. Beberapa alasanya ialah: 1) Lahat akan menjadi hubungan penting yang terletak di tengah jaringan; 2) lokasi yang strategis dengan lahan bangunan yang baik dan koneksi menjangkau ke jalur kereta api; 3) iklim yang sejuk dan kondisi higienis; 4) ketersediaan air yang cukup.

Lokasi Hoofdwerkplaatsen Lahat ditandai lingkaran merah sedang letak Stasiun Lahat ditandai lingkaran biru. (Sumber: De Nieuwe Hoofdwerkplaatsen der Staatsspoorwegen te Lahat I)

Pembangunan komplek bengkel baru dimulai pada akhir tahun 1929. Komplek bengkel berukuran 250 x 375 meter dilengkapi bangunan bengkel, menara air dengan instalasi pemurnian, gedung perkantoran dan administrasi serta beberapa jalur kereta api.

Di area bengkel dibangun dua buah los yang ditata sedemikan rupa untuk pemeliharaan berakala sarana dan peralatan stasiun, depo dll. Sebuah los berukuran 147 x 56 meter guna akomodasi lokomotif dan satunya berukuran 134 x 54 meter untuk akomodasi kereta, gerbong, ketel lokomotif, dan pelelangan. Setiap los terdiri dari lorong utama dengan lebar 28 dan 12 meter, lorong samping memiliki lebar 18 meter dan tinggi 7 meter dengan lebar tenda 5 dan  3 meter di kedua sisi.

Proses pembanguan tanggal 10 Maret 1930. (Sumber: De Nieuwe Hoofdwerkplaatsen der Staatsspoorwegen te Lahat II)

Konstruksi bangunan pada tanggal 17 Juni 1930. (Sumber: De Nieuwe Hoofdwerkplaatsen der Staatsspoorwegen te Lahat II)

Tanggal 28 September 1930, sebagian los sudah mulai berdiri kokoh. (Sumber: De Nieuwe Hoofdwerkplaatsen der Staatsspoorwegen te Lahat II)

Dua buah los di bengkel kereta api Lahat. (Sumber: Tropenmuseum TM-60023976)

Bangunan los merupakan bekas bangunan pabrik Rhein Elbe Union di Cirebon. Bekas tiang-tiang sudah mengalami perkuatan untuk menopang derek lokomotif. Desember 1930 pekerjaan kedua los berhasil dirampungkan, selanjutnya dilakukan perakitan mesin dan derek.

Di los lokomotif terpasang overhead crane elektrik dengan kapasitas 2 x 30 ton yang disertai alat bantu pengangkat 5 ton dengan bentang 17 meter. Di lorong samping dipasang overhead crane elektrik kapasitas angkat  ton. Selain itu dilengkapi pula tiga derek tangan dengan kapasitas angkat 350 kg yang dipasang di kolom.

Sedangkan di los kereta dan gerbong memiliki dua overhead crane 10 ton di lorong utama. Di lorong samping terpasang manual overhead crane kapasitas 3 ton serta tiga track crane dengan troli 2 dan 3 ton di bengkel roda atau boogie. Sementara itu, di antara kedua los terdapat gantry crane dengan bentang 40 meter yang mampu mengangkat beban hingga 15 ton.

Alat atau mesin di Werkplaats te Lahat, terutama alat khusus dibeli baru. Namun kebanyakan menggunakan alat dan mesin bekas yang didatangkan dari Pabrik Rhein Elbe Union di Cirebon, bengkel di Tanjung Karang dan Kertapati. Dimanfaatakan pula mesin dari bengkel kereta api di Purworejo dan Jember, dimana kedua bengkel sudah tidak beroperasi lagi.

Suasana ruang mesin bubut di salah satu los. (Sumber: Tropenmuseum TM-60023977 dan TM-60023978)

Kesibukan perbaikan kereta (kiri) dan gerbong (kanan) semasa bengkel beroperasi. (Sumber: Tropenmuseum TM-60023980 dan TM-60023979)

Semua mesin dilengkapi penggerak tunggal. Mesin derek listrik dan overhead crane memiliki motor DC dengan tngangan 220 volt. Arus searah 220 volt digunakkan pula untuk menggerakan alat-alat lama. Untuk mengatur pasokan listrik dibangun gardu induk dengan sejumlah trafo udara terbuka 30/6 KV. Kebutuhan listrik dipasok dari pembangkit listrik tambang Bukitase di Tanjung Enim.

Bangunan gedung kantor dan administrasi menempari lahan seluas ± 520 m². Bangunan terdiri dari rangka kayu jati dengan rangka pasangan bata, dinding plesteran dinaungi atap dari lembaran asbes-semen yang bergelombang. Beberapa ruang diperuntukkan bagi kepala bengkel, kantor insinyur dan pekerja administrasi. Selain itu terdapat pula ruang tamu dan mesin cetak, ruang pembayaran pekerja, ruang poliklinik rawat jawal dan sejumlah kamar pribadi dan toilet.

Pada akhir April 1931, bengkel di Tanjung Karang akhirnya resmi ditutup. Sebagian pekerjanya dipindahkan ke Lahat. Menyusul akhir Juli 1931 Bengkel Kertapati pun ditutup, seluruh besi dan lokomotif dari bengkel Kertapati dibawa ke Lahat. Akhirnya, pada tanggal 1 Oktober 1931 Bengkel Kereta Api Lahat diresmikan melalui selamatan oleh para pekerjanya.

Tampak bangunan kantor dan administrasi. (Sumber: De Nieuwe Hoofdwerkplaatsen der Staatsspoorwegen te Lahat II)

Kawasan Rumah Dinas

Selain komplek bengkel, ZSS turut membangun rumah-rumah dinas untuk keperluan para pekerja. Area perumahan perkerja tersebut terdiri dari 51 unit rumah untuk pengawas dan administrasi dan 343 tempat tinggal untuk para pekerja.

Area perumahan berlokasi mengelilingi bengkel di sisi barat dan utara. Di sisi utara masih terdapat lahan luas yang direncanakan untuk masa mendatang. Hunian untu pegawai orang Eropa terletak di sepanjang antara bengkel dan rel kereta api.

Fasilitas rumah dinas dibagi berdasarkan kelas pekerja. Misal, rumah pekerja kelas 8-10 disatukan dalam blok masing-amsing 2, 4 dan 11 rumah. Setiap rumah memiliki dapur, kamar mandi, dan ruang pribadi. Kecuali rumah kelas 10 yang memiliki dapur sendiri namun kamar mandi umum yang ditempatkan di bangunan terpisah.

Untuk mengantisipasi gempa, rumah-rumah baru dibuat dari rangka kayu dengan dinding gip yang diplester dengan lantai PC ubin. Atap menggunaan asbes-semen yang bergelombang. Semua rumah memiliki lampu listrik dan sambungan ke pasokan air minum. Selain itu kawasan pemukiman telah dipasang pipa air untuk mencegah kebakaran dan sistem pembuangan kotoran yang lengkap serta air limbah ke Lematang.

Kawasan rumah dinas pegawai, kuat digunakan diperuntukkan bagi pejabat administrasi. (Sumber: Tropenmuseum TM-60023975)

Kondisi rumah dinas kelas 9 (kiri) dan kelas 10 (kanan) untuk para pegawai bengkel kereta api. (Sumber: De Nieuwe Hoofdwerkplaatsen der Staatsspoorwegen te Lahat II)

Menara Air

Salah satu alasan pemilihan lokasi di Lahat adalah ketersediaan air. Keberadaan air menjadi sangat penting bagi kebutuhan bengkel kereta api. Air digunakan untuk mencuci dan membilas, serta mengisi boiler lokomotif. Selain itu air diperlukan bagi operasional pekerja sebagai air minum dan mandi.

Untuk penyediaan air, sebuah menara air dengan tinggi 158,6 meter dibangun. Menara air ini memiiki ruang untuk 6 saringan dengan luas permukaan 1,83 x 1,83 meter. Masing-masing saringan memiliki kapasitas ± 16 m³ air per jam. Guna menyuplai kebutuhan air, stasiun pompa telah dibangun di Lematang. Stasiun pompa ini memompa air sungai ke tangki menara air dengan volume 500 m³.

Disini dilaksanakan pula pengolahan air agar dapat dimanfaatkan sebagai air minum dan mandi. Prosesnya dimulai dari baik air mentah, selanjutnya dialirkan ke bak pencampur dengan menambahkan larutan alumunium sulfat dan kalium permanganat. Lantas dialirkan ke bak koagulasi yang berada di sebelah menara air.  Kemudian zat-azat yang tersuspensi di dalam air diendapkan sekitar empat jam. 

Dari tangki koagulasi air dialirkan melalui sejumlah saringan di menara air. Air dari saringan terkumpul di selokan air bersih untuk dialirkan ke gudang air bersih, di bawag tangka koagulasi sebelah menara. Kemudian larutan kaporit ditambahkan ke air bersih untuk mensterilkan air. Air bersih didistribusikan ke area bengkel dan juga kawasan rumah tinggal di sekitar bengkel.

Gambar teknik menara air. (Sumber: De Nieuwe Hoofdwerkplaatsen der Staatsspoorwegen te Lahat I)

Kondisi menara air, tampak pula bangunan bak koagulasi untuk memproses air bersih. (Sumber: Tropenmuseum TM-60024017)

Paska Tahun 1950

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia dari Belanda, lantas perusahaan kereta api dinasionalisasi oleh pemerintah. Perkeretapian di Sumatera Selatan menjadi bagian dari Eksploitasi Sumatera Selatan dibawah pengelolaan Djawatan Kereta APi (DKA).

Setali tiga uang, peran Bengkel Kereta Api Lahat masih memperbaiki lokomotif uap, kereta dan gerbong. Istilah bengkel kereta api kemudian dirubah menjadi Balai Karya, selanjutnya dikenal sebagai Balai Yasa.

Kurun tahun 1952-1955 pemerintah mendapatkan kucuran dana dari Exim Bank sebesar 3,1 juta dolar. Dari bantuan tersebut digunakan untuk merehabilitasi mesin-mesin untuk enam balai yasa di Jawa dan tiga di Sumatera. Tahun 1957 Balai Yasa Lahat mendapatkan pesawat Luchtdrukhamer valgewicht 200 kg tipe L.h. 5.

Balai Yasa Lahat melayani perbaikan untuk 24 unit lokomotif uap, 71 unit kereta dan 261 gerbong pada tahun 1959. Setahun kemuadian menjadi 22 unit lokomotif uap, 86 unit kereta dan 240 gerbong. Sementara itu, 20  unit lokomotif uap, 79 unit kereta dan 168 gerbong dilayani pada tahun 1961.

Sumber:

  • Djawatan Kereta Api Laporan Tahun 1959-1969-1961, Bandung: Balai Besar

  •  “De Nieuwe Hoofdwerkplaatsen der Staatsspoorwegen te Lahat I” dalam Spoor en Tramwegen edisi 13 September 1932

  • “De Nieuwe Hoofdwerkplaatsen der Staatsspoorwegen te Lahat II” dalam Spoor en Tramwegen edisi 27 September 1932

  • Michiel van Ballegoijen de Jong, Stations en spoorbruggen op Sumatra 1876-1941, Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 2001

  • S. A. Reitsma, Korte Geschiedenis der Nederlandsch Indische Spoor en Tramwegen, Weltevreden: G. Kolff & Co, 1928

Bagikan ke: