
Trem Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) lintas Waruduwur-Luwunggajah-Losari
ISI ARTIKEL
Keresidenan Cirebon
merupakan wilayah pertanian dan perkebunan subur di pesisir Pantai Utara Jawa. Perkebunan yang utama adalah tebu, tersebar luas. Selain itu, banyak industri gula menjamur di wilayah ini.
Pembangunan Jalur Trem
Pada awalnya, jaringan kereta di wilayah Semarang-Cirebon dieksploitasi oleh perusahaan kereta swasta Java Spoorweg Maatschappij (JSM) mulai tahun 1885. Namun akibat kekurangan dana, konsensi tersebut dibeli oleh maskapai Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS). Setelah mengambil alih jaringan kereta api JSM, SCS melakukan penggantian jalur kereta api menjadi jalur trem. Selain itu SCS memperluas pembangunan jalur trem, salah satunya meneruskan pembangunan dari Cirebon menuju Sindang Laut dilanjutkan ke Losari yang dirampungkan tahun 1897.
Sarana Pengangkutan Gula
Keberadaan jalur kereta api milik SCS berkaitan erat dengan pengangkutan gula, seperti halnya lintas Waruduwur-Luwunggajah-Losari. Jalur trem tersebut berada tidak jauh dari pabrik-pabrik gula dan memasuki komplek pabrik serta perkebunan lengkap dengan tempat pembehentian. Mengingat beberapa pembangunan jaringan trem diusulkan oleh pengusaha gula. Sebagai tempat pemberhentian, SCS membangun stasiun, stopplats, dan halte. Berturut-turut tempat pemberhentiannya meliputi Stasiun Cirebon Prujakan, Stoplaat Mundu, Stoplaat Kanci, Halte Sindanglaut (melayani Pabrik Gula Sindanglaut), Halte Karang Suwung (melayani Pabrik Gula Karangsuwung), Stopplaats Jatipiring (melayani Pabrik Gula Jatipiring), Stopplaats Pabuaran (melayani pabrik Arak Pabuaran, hasil tetes gula), Stopplaats Walet (berada di dekat Pabrik Gula Walet), Halte Luwunggajah (diperuntukan bagi Pabrik Gula Luwunggajah), Halte Ciledug (melayani Pabrik Gula Ciledug), dan Stasiun Losari.
Berhenti beroperasi
Pada tahun 1942 Jepang mulai menduduki Indonesia setelah menang atas Sekutu. Pada tahun yang sama, Jepang membongkar jalur trem lintas Waruduwur-Luwunggajah-Losari. Hal ini menandai berakhirnya operasional di lintas tersebut.
Saat ini
Sisa-sisa keberadaan jaringan trem Waruduwur-Luwunggjah-Losari masih bisa ditemui. Peninggalan yang masih tersisa adalah bekas Stasiun Sindanglaut (menjadi rumah warga), jembatan trem di Sungai Cimanis, bekas pondasi jembatan yang mengarah ke Pabrik Gula Sindanglaut, dan sisa rel di dpan Pasar Karang Sembung.

Jalur Trem SCS tahun 1913, lintas Waruduwur-Luwunggajah-Losari berada pada lingkaran berwarna biru. (Sumber: Kitlv.nl)

Rangkaian Trem SCS Melintasi Pabrik Gula Gempol Cirebon (Sumber: Kitlv.nl)

Stasiun Losari SCS Tahun 1930. (Sumber: Kitlv.nl)

Bekas pondasi jembatan yang mengarah ke Pabrik Gula Sindanglaut. (Sumber: Koleksi APA)

Bekas Jembatan di atas Sungai Cimanis. (Sumber: Koleksi APA)

Sisa rel di sekitar Pasar Karang Sembung. (Sumber: Koleksi APA)
Sumber:
ANRI, Memori Serah Jabatan 1921-1930 (Jawa Barat)
Basundoro, Purnawan, Transportasi di Karesidenan
Marihandono, Djoko, Dari Konsensi ke Nasionalisasi Sejarah Kereta Api Cirebon-Semarang,
Kitlv.nl
Officieele Reisgids Der Spoor-en Tramwegen en Aansluitende Automobieldiensten op Java en Madoera, 1935.
Zuhdi, Susanto, Cilacap: Bangkit dan Runtuhnya Suatu Pelabuhan di Jawa (1830-1942)