Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
Sekilas Sejarah Jalur KA Cipatat-Padalarang

Sekilas Sejarah Jalur KA Cipatat-Padalarang

Jawa
30 Juni 2026
by RIZKYA SELLY ANGGRAENY

Adalah perusahaan kereta api negara, Staatssporwegen (SS) yang pertama kali membangun jalur kereta api di wilayah Priangan. Jalur yang dibangun dimulai dari Buitenzorg (Bogor) menuju Bandung melalui Sukabumi-Cianjur. 

Tujuan pembangunan meliputi faktor ekonomi dan militer. Dari segi ekonomi, memperlancar pengangkutan komoditas ekspor perkebunan dari pedalaman Priangan untuk diangkut melalui pelabuhan di Batavia (Jakarta). Kesuburan daerah Priangan menjadi potensi eknomi wilayah tersebut. Sedang dari sudut militer digunakan sebagai sarana pertahanan. Mengingat wilayah Priangan merupakan daerah pedalaman dan pegunungan yang strategis untuk dijadikan banteng pertahanan.

Menurut S. A. Reitsma dalam Korte Geschiedenis der Nederlandsch-Indische Spooer en Tramwegen terbitan tahun 1928, proyek pembangunan jalur kereta api Bogor-Cianjur-Bandung diresmikan secara bertahap. Berurutan yakni, Bogor-Cicurug, Cicurug-Sukabumi, Sukabumi-Cianjur, Cianjur-Bandung dan Bandung-Cicalengka.

Tabel 1. Peresmian Jalur Kereta Api Bogor-Bandung-Cicalengka

No

Lintas

Panjang (km)

Tanggal Peresmian

1

Bogor-Cicurug

27

6 Oktober 1881

2

Cicurug-Sukabumi

31

21 Maret 1882

3

Sukabumi-Cianjur

39

10 Mei 1883

4

Cianjur-Bandung

60

17 Mei 1884

5

Bandung-Cicalengka

27

10 September 1884

(Sumber: Korte Geschiedenis der Nederlandsch-Indische Spooer en Tramwegen)

Awalnya, SS melakukan pengukuran dan pemetaan pembangunan jalur yang dimulai tahun 1878. Pelaksanaan pengukuran serta pemetaan diborongkan kepada pihak ketiga di bawah pengawasan para mandor-mandor Eropa, Cina, dan pribumi. Jalur Cipatat-Padalarang masuk ke dalam seksi Cisokan-Cipadalarang[1] sepanjang 3,5 km yang dirampungkan pada tahun 1880. Setelah diukur dan dipetakan, SS melakukan pembebasan lahan.

Geografis wilayah Priangan sebagian besar berupa pegunungan yang kondisi tanahnya naik turun. Guna meratakan tanah tersebut perlu dilakukan pekerjaan penggalian dan penimbunan. Dalam seksi Cisokan-Cipadalarang, banyaknya tanah yang digali dan ditimbun berjumlah 2,1 juta m³. 

Dalam proses penggalian tanah yang keras digunakan dinamit untuk menghancurkan batu dan cadas. Selain itu, untuk mempermudah penggalian dilakukan penggenangan air dengan cara membuat bendungan dengan petak-petak kecil pada air yang mengalir.

Material yang dibutuhkan selama proses pembangunan seperti pasir dan kapur didapatkan melalui pemasok orang pribumi dan Cina. Sementara itu, batu diperoleh dari dekat sungai yang lokasinya tidak berada jauh dari jalur kereta api.

Sebelum pekerjaan pemasangan rel, dilakukan terlebih dahulu pemasangan kayu sebagai bantalan. Kayu yang digunakan ialah kayu jati yang berasal dari pemborong di Jepara, Perusahaan Dijkman. Rel dan material besi lainnya diimpor dari Eropa, didatangkan melalui pelabuhan di Jakarta. Lebar jalur yang digunakan ialah 1.067 mm. Pemasangan rel di daerah Cipatat harus ditinggikan karena kontur tanah yang landai. Antara Tagogapu dan Padalarang memiliki kemiringan 1/25 dan tikungan sepanjang 150-200 meter.

Sebagai tempat perhentian guna naik-turun penumpang dan barang dibangunlah stasiun dan halte. Di jalur Cianjur-Bandung yang diresmikan pada 17 Mei 1884 dibangun stasiun dan halte yaitu Halte Maleber, Halte Selajambe, Halte Cipeuyem, Halte Cipatat, Halte Tagogapu, Halte Cipadalarang, Halte Cimahi dan Stasiun Bandung.

Perhentian kereta api di lintas Cianjur-Padalarang sekitar tahun 1890. (Sumber: Maps.library.leiden.edu)

Bersumber pada jadwal perjalanan kereta api SS Westerlijnen yang dicetak tahun 1884, awal beroperasi jalur Cipatat-Padalarang terdapat empat perjalanan kereta api yang melintas. Perjalanan tersebut ialah kereta api jurusan Bogor-Cicalengka (pp) dan kereta api dari Cianjur menuju Cicalengka (pp). Pada saat itu kecepatan rata-rata kereta berkisar 25-30 km/jam. Perjalanan dari Bogor ke Cicalengka dapat ditempuh kurang lebih selama 7,5 jam sedangkan Cianjur-Cicalengka sekitar 3,5 jam.

Jadwal perjalanan SS Westerlijnen lintas Bogor-Cicalengka tahun 1884. (Sumber: Spoorwegststion op Java)

Biaya perjalanan kereta api dibedakan berdasarkan kelas. Pada tahun 1900, untuk perjalanan dari Bandung ke Cipatat penumpang kelas 1 (Eropa) merogoh kocek sebesar 1,75 gulden. Dengan rute yang sama, penumpang kelas 2 (timur asing: Cina, Arab) membayar tiket kereta 1,25 gulden, dan tarif penumpang kelas 3 (campuran dan pribumi) cukup mengeluarkan uang 0,47 gulden. Sementara itu dengan rute yang sama, biaya barang per 10 kg adalah 0,09 gulden.

Jadwal perjalanan kereta api lintas Sukabumi-Cianjur-Padalarang tahun 1900. (Sumber: Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aanslutende Automobieldiensten op Java en Maodera)

Proses pembangunan Stasiun Padalarang. (Sumber: Collectie.wereldculturen.nl)

Selepas kemerdekaan Indonesia, perkeretaapian di Jawa dan Sumatera diambil alih oleh bangsa Indonesia. Selanjutnya dibentuklah Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI)[2], cikal bakal PT Kereta Api Indonesia (Persero). Guna meningkatkan fasilitas di stasiun, yakni menentukan fasilitas dan kondisi kebutuhan pengangkutan, pada tahun 1954 Djawatan Kereta Api Indonesia (DKA) melalui Surat Keputusan DDKA Nomor 20493/BB/54 tanggal 16 Maret 1954 mengeluarkan peraturan mengenai kelas stasiun, yang dibagi menjadi beberapa kategori yakni Stasiun Besar, Kelas I, Kelas II, Kelas III A/B, Kelas III C, Kelas IV dan Kelas V.

Sementara itu, kelas stasiun di lintas Cibatu-Padalarang berdasarkan Surat Keputusan DDKA Nomor 20493/BB/54 tanggal 16 Maret 1954 ialah: Stasiun Padalarang masuk kategori Kelas I sedangkan Stasiun Cipatat dan Stasiun Tagogapu stasiun Kelas IV.

Tabel 2. Data Penumpang dan Barang Lintas Cipatat-Padalarang Tahun 1950-1952 

Stasiun

Penumpang Yang Berangkat

Barang Yang Dikirim (Ton)

1950

1951

1952

1950

1951

1952

Cipatat

 

46.802

46.907

42.572

2.531

2.910

1.317

Tagogapu

 

48.167

59.664

47.467

33.361

28.577

22.777

Padalarang

 

388.195

495.961

535.153

18.776

27.376

26.636

(Sumber: Djawatan Kereta Api di Indonesia Statistik Tahunan 1950-1951-1952)

Namun sekitar tahun 2013, jalur Cipatat-Padalarang berhenti operasi. Hal ini menyusul diberhentikannya perjalanan Kereta Cianjuran yang melayani rute Cianjur-Padalarang. Alasan tidak beroperasinya kereta tersebut karena tidak ada lokomotif yang cocok pada rute tersebut. Lokomotif BB yang semula dioperasikan mengalami kerusakan dan kesulitan memperoleh suku cadang. Selain itu infrastruktur pendukung seperti sistem persinyalan tidak lagi memadai.

Sumber:

  • Collectie.wereldculturen.nl

  • Djawatan Kereta Api di Indonesia Statistik Tahunan 1950-1951-1952

  • Michiel van Ballegoijen de Jong, Spoorwegststion op Java, Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 1993

  • Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aanslutende Automobieldiensten op Java en Maodera, 1 Januari 1900

  • Maps.library.leiden.edu 

  • Mulyana, Agus, “Melintasi Pegunungan, Pedataran, Hingga Rawa-rawa: Pembangunan Jalan Kereta Api di Priangan 1878-1924”, Disertasi Program Studi Ilmu Sejarah UI, 2005

  • S. A. Reitsma, Korte Geschiedenis der Nederlandsch-Indische Spoor en Tramwegen, Weltevreden: G. Kolff & Co, 1928

  • Tim Telaga Bakti Nusantara, Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid II, Bandung: Penerbit Angkasa, 1997

Bagikan ke: