
Jalur Kereta Api Purwokerto-Sokaraja
Purwokerto dan Sokaraja merupakan dua daerah bersebelahan di Karesidenan Banyumas yang masuk kekuasaan pemerintah Belanda pada tahun 1830. Pada awalnya, Banyumas merupakan wilayah pedalaman yang terisolasi. J.J Helsdingen dalam Memori Serah Jabatannya mengungkapkan kondisi geografis Banyumas yang dilalui Sungai Serayu, tidak ada jalan antar daerah dan dikelingingi oleh bukit-bukit yang membuat Karesidenan Banyumas menjadi terisolasi. Sebelum era perkembangan transportasi berkembang, Sungai Serayu menjadi lintas transportasi untuk mengangkut hasil perkebunan Banyumas menuju pelabuhan Cilacap.
Pada tahun 1879 Staastspoorwegen (SS) membangun jalur kereta api yang menghubungkan Yogyakarta dengan Cilacap. Pembangunan jaringan kereta di Cilacap merasa diperlukan mengingat disana terdapat pelabuhan potensial bagi perkebunan kopi dan gula di Jawa bagian selatan dan Yogyakarta. Jaringan kereta api Yogyakarta-Cilacap selesai dibangun pada tahun 1887 dengan panjang 187,283 km. Tidak lama setelah itu muncul gagasan perluasan jalur hingga ke pedalaman Banyumas, terutama Purwokerto dan Sokaraja. Hal ini dilandasi pada kondisi industri perkebunan yang meningkat serta adanya pabrik gula di kedua wilayah tersebut. Gagasan tersebut muncul atas usulan para pengusaha gula swata di Banyumas, seperti Pabrik Gula Purwokerto dan Pabrik Gula Kalibogor. Kereta api dianggap menjadi sarana transportasi yang efisien dalam mengangkut hasil industri dari dan keluar Banyumas.
Pada tahun 1895 Pemerintah Belanda menandatanagni nota kesepakatan kerja sama dengan perusahaan swasta Serajoedal Stoomtram Matschappij (SDS) untuk membangun jalur kereta api rute pendek dengan jenis kereta trem di pedalaman Banyumas. Pembangunan dipimpin oleh Mr. F. S. Van Nierop, Voorz A.Van Hobeken, dan Van Cortgene yang berada di Amsterdam serta kepala eksploitasi J.D. Ruys yang berdomisili di Purwokerto. Pembangunan jaringan trem di pedalaman Banyumas dibangun sepanjang Maos-Banjarnegara melalui beberapa tahap. Tahap pertama Maos-Purwokerto, dilanjut Purwokerto-Sokaraja, kemudian Sokaraja-purwareja dibangun pada tahap terakhir.
Pembangunan tahap kedua, yakni Purwokerto-Sokaraja sepanjang 8,6 km diresmikan tanggal 5 Desember 1896. Jalur tersebut dibangun melintasi kawasan pemukiman dan dilaksanakan dengan waktu yang cepat karena didukung oleh jumlah tenaga kerja yang sangat banyak. Tenaga kerja tersebut didatangkan dari daerah Purwokerto, Sokaraja hinga daerah Bagelan dan kedu dengan pembayaran secara harian maupun atas dasar satuan kerja.
Antara lintas Purwokerto-Sokaraja dibangun dua stasiun dan dua halte yakni Stasiun Purwokerto Timur – Halte Pasar Purwokerto – Halte Sangkalputung – Stasiun Sokaraja. Mengingat alasan awal pembangunan jalur kereta api Purwokerto-Sokaraja sebagai sarana angkut komoditi gula, maka pembangunan jalur kereta api dibangun tidak jauh dari pabrik gula. Stasiun Purwokerto dibangun di belakang Pabrik Gula Purwokerto yang mulai beroperasi pada 1893. Sedangkan Stasiun Sokaraja di bangun di sebelah utara (sekitar 500 meter) Pabrik Gula Kalibagor yang sudahi beroperasi sejak tahun 1838. Untuk memudahkan pengangkutan gula, Pabrik Gula Purwokerto dan Pabrik Gula Kalibagor membangun lori ke tempat penanaman tebu dan ke stasiun. Gula hasil produksi Pabrik Gula Kalibagor diangkut menggunakan lori ke Stasiun Sokaraja, begitu pula gula hasil produksi Pabrik Gula Purwokerto diangkut menggunakan lori ke Stasiun Purwokerto. Selanjutnya gula diangkut menggunakan trem SDS menuju Pelabuhan Cilacap untuk selanjutnya dikapalkan menuju Eropa.
Jalur kereta api SDS di pedalaman Banyumas tidak hanya melayani pengangkutan komoditas ekspor melainkan digunakan juga sebagai sarana pengangkutan kebutuhan-kebutuhan pabrik gula yang berasal dari luar Banyumas, bahkan luar negeri seperti bibit, pupuk, batu gamping, mesin, bahan bakar, dan pembungkus gula. Dari satasiun inilah seluruh muatan Pabrik Gula Kalibagor kecuali muatan dari perkebunan ke pabrik diangkut dengan trem. Muatan yang dibawa keluar pedalaman untuk dikespor adalah gula dan sirup tebu. Sedangkan muatan yang dibawa ke pabrik adalah perlengkapan pabrik seperti batu, gamping, mesin, logam, bahan bakar, dan pembungkus gula. Selain itu perlengkapan kebun seperti bibit dan pupuk juga diangkut menuju pabrik.
Selain melayani pengangkutan barang, trem SDS di lintas Purwokerto-Sokaraja juga dimanfaatkan untuk transportasi penumpang. Masyarakat menggunakan kereta api SDS untuk bepergian, seperti kunjungan keluarga, pergi ke pasar, berdagang, dan tujuan lainnya. Data penumpang kereta api SDS di lintas Purwokerto-Sokaraja dapat dilihat pada tabel di bawah.
Pemberhentian | Tahun | ||||
1920 | 1921 | 1922 | 1923 | 1924 | |
Stasiun Purwokerto | 617.010 | 568.170 | 456.236 | 370.813 | 322.235 |
Halte Pasar Purwokerto | 180.133 | 166.371 | 128.681 | 99.529 | 77.289 |
Halte Sangkalputung | 11.690 | 12.437 | 12.692 | 9.330 | 6.654 |
Stasiun Sokaraja | 663.945 | 581.698 | 446.130 | 353.081 | 300.867 |
(Sumber: Purnawan Basundoro, “Transportasi dan Ekonomi di Karesidenan Banyumas Tahun 1830-1940,” Tesis Pascasarjana Program Studi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM ,1999)
Dibukanya jaringan kereta api di pedalaman banyumas membawa keuntungan bagi SDS. Pada tahun 1929, SDS medapatkan keuntungan bersih 813.736, 39 gulden. Selanjutnya pada tahun 1930, 1931, dan 1932 berturut turut adalah 522.832,22 gulden, 370.717,90 gulden, dan 427.583,44 gulden. Penurunan pendapatan SDS dikarenakan terjadi malaise awal tahun 1930. Harga gula turun drastis di pasaran. Pada tahun 1933 Pabrik Gula Purwokerto dan Pabrik Gula Kalibagor ditutup. Hal ini sangat berdampak bagi keuntungan kereta api SDS, karena gula merupakan komoditi terbesar yang diangkut oleh kereta api SDS. Pabrik Gula Kalibagor dibuka kembali pada tahun 1936.
Keberadan trem SDS lintas Purwokerto-Sokaraja berdampak positif pada perkembangan kedua wilayah tersebut terutama di bidang ekonomi. Trem SDS membantu proses pengiriman hasil industri ke Pelabuhan Cilacap dengan waktu tempuh yang lebih cepat dan memudahkan mobilisasi penumpang untuk bepergian di Banyumas. Selain itu dengan adanya lintas trem mempengaruhi pertumbuhan daerah dengan dibangunnya stasiun-stasiun. Stasiun menjadi pusat keramaian dengan intensitas aktivitas yang tinggi. Sokaraja dan Purwokerto tidak lagi menjadi daerah terisolir bahkan karena perkembangan yang Pesat, J. K. Kempees seorang Inspektur SS mengusulkan ibukota Banyumas dipindahkan ke Sokaraja. Pada akhirnya ibukota Banyumas dipindahkan tahun 1936, namun bukan di Sokaraja melainkan di Purwokerto (APP).

Peta jalur trem SDS di wilayah Pedalaman Banyumas tahun 1920-an. Dapat dilihat bahwa pembangunan jalur kereta api SDS tidak jauh dari pabrik-pabrik gula, termasuk Stasiun Purwokerto dan Stasiun Sokaraja. (Sumber: Banjoemas.com)

Stasiun Sokaraja antara tahun 1900-1905. Stasiun yang dahulu terletak di timur Pasar Sokaraja merupakan stasiun tersibuk milik SDS. Proses naik dan turun barang milik Pabrik Gula Kalibagor dilakukan di stasiun ini. Pabrik Gula Kalibagor merupakan pabrik gula pertama dan terbesar di Banyumas. (Sumber: tropenmuseum.nl)

Stasiun Purwokerto Timur. Kini digunakan sebagai pertokoan di Jalan Stasiun Timur, terletak di depan Kantor Daop 5 Purwokerto. (Sumber: Banjoemas.com)

Pabrik Gula Purwokerto dibangun pada tahun 1893. Perusahaan ini dipimpin oleh M. C. Brandes. (Sumber: Banjoemas.com)

Lokomotif uap siap mengangkut gula di depan Pabrik Gula Kalibagor pada tahun 1905. (Sumber: tropenmuseum.nl)
Sumber:
J. J Helsdingen, “Memori Residen Banyumas, 14 Mei 1928 ”Memori Serah Jabatan 1921-1930 (Jawa Tengah), Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia, 1977, hlm. CV.
M. J. van der Pauwert, “Memori Residen Banyumas, 24 Oktober 1925 ” Memori Serah Jabatan 1921-1930 (Jawa Tengah), Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia, 1977, hlm. XCIX.
Nurahmi, Prima Mulyasari, “Modernisasi dan Tata Ruang Kota Purwokerto 1900-1935” dalam Jurnal Patrawidya Volume 15, Desember 2014.
Purnawan Basundoro, “Transportasi dan Ekonomi di Karesidenan Banyumas Tahun 1830-1940,” Tesis Pascasarjana Program Studi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM ,1999.
Tim Telaga Bakti Nusantara, Sejarah Perkeretaapian Indonesia, (Bandung: Percetakan Angkasa, 1997).
Banjoemas.com
Kitlv.nl
Tropenmuseum.nl