
Kereta Api di Madura
Pada abad ke-17 komoditas perdagangan utama di Jawa adalah beras, tembakau, dan garam. Salah satu daerah penghasil garam dengan kualitas yang sangat baik adalah Madura. Sejak pemerintahan lokal, garam sudah menjadi salah satu komoditas penting di Madura. Garam didistribusikan dari Madura melalui Pelabuhan Parindiuan yang terletak di selatan Madura ke pelabuhan-pelabuhan yang berada di Selat Madura seperti Surabaya dan Gresik.
Produksi garam awalnya banyak didominasi oleh orang-orang Cina. Setelah Pemerintah Belanda mengambil alih Madura awal abad ke-20, Pemerintah Belanda mengambil alih produksi garam dari orang-orang cina dan memonopolinya. Kebijakan monopoli garam mampu meningkatkan produksi garam sehingga menjadikan Pulau Madura sebagai produsen utama garam. Hal ini tidak terlepas dari keberhasilan aktivitas pengangkutan garam di Madura. Pengangkutan garam dilakukan oleh perusahaan pelayarana Belanda: Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), armada pengangkutan pabrik garam: Oost-Java Zeetransport (OJZ), dan perusahaan kereta api swasta: Madoera-stoomtram Maatschappij (MSM).

Pengolahan garam di Sumenep tahun 1920. (Sumber: media.kitlv.nl)
MSM merupakan perusahaan kereta api swasta yang beroperasi di Madura melalui Koninklijk Besluit (keputusan kerajaan) tanggal 19 Juli 1897 Nomor 48. Sebelumnya, telah diajukan konsensi pembangunan kereta api di Madura tertanggal 26 September 1896 oleh E. M. Collard. Pendirian perusahaan ini terkait erat dengan usaha pengangkutan komoditas ekspor di Madura, terutama garam.
Pembangunan jalur kereta api di Madura oleh MSM dimulai sejak tahun 1897 dan selesai tahun 1913. Pada awal pembangunannya, MSM mendapatkan modal sebesar f 3.000.000 dari investor. Sampai tahun 1901, jalur kereta api sudah tersambung dari Madura sisi timur ke sisi barat, Kalianget-Kamal. Pembangunan jalur tersebut juga salah satu bentuk optimalisasi Pelabuhan Kalianget dan Pelabuhan Kamal. Kamal sendiri merupakan sebuah kota kecil penting di daerah Madura Barat yang digunakan sebagai tempat transit penumpang yang hendak menyeberangi ke Surabaya.
Peta Jaringan Kereta Api di Madura Tahun 1922.

(Sumber: media.kitlv.nl)
Berikut rincian pembangunan jalur kereta api di Madura:
No | Petak Jalan | Jarak (km) | Tanggal Peresmian |
1 | Kamal – Bangkalan | 18 | 8 Desember 1898 |
2 | Bangkalan – Tunjung | 5 | 15 Maret 1899 |
3 | Tunjung – Kwanyar | 22 | 26 Februari 1900 |
4 | Tunjung – Kapedi | 45 | 20 September 1900 |
5 | Kapedi – Tambangan | 24 | 21 Januari 1900 |
6 | Tambangan – Kalianget | 20 | 17 Febrauari 1900 |
7 | Kwanyar – Balega | 33 | 11 Maret 1901 |
8 | Tanjung – Sampang | 15 | 11 Maret 1901 |
9 | Balega - Sampang | 26 | 1 Juli 1901 |
10 | Kamal – Kwanyar | 16 | 1 September 1913 |
Sumber: Iman Subarkah, Sekilas 125 Tahun Kereta Api Kita 1867-1992
Pada saat itu, perjalanan dari Sumenep ke Kamal menyeberangi Surabaya dapat dilakukan dalam satu hari. MSM melayani perjalanan lintas Surabaya-Kamal lima kali sehari, kamal-Bangkalan lima kali sehari, Kwanyar-Kamal empat kali sehari, Balega-kamal tiga kali sehari, Pamekasan-Kamal-Surabaya dua kali sehari, Maringan-Kamal-Suarabaya satu kali sehari.
Selain melayani penumpang di Madura yang mempunyai kebiasaan melakukan migrasi, MSM melaksanakan kontrak pengangkutan kepada pemerintah untuk pengangkutan garam. Kurun tahun 1902-1908 MSM mendapatkan hak monopoli pengangkutan garam di wilayah Madura dan Jawa Timur.

Penumpang menunggu kereta di Stasiun Kamal tahun 1934. (Sumber: Tropenmuseum.nl)

Industri Garam di Krampon sekitar tahun 1914, terlihat jalur lori sebagai distibusi pengangkutan garam. (Sumber: Tropenmuseum.nl)

Proses bongkar muat garam tahun 1948. (Sumber: Tropenmuseum.nl)
Seiring berkembangnya bisnis pengangkutan milik MSM, perusahaan kereta api swasta ini meningkatkan pelayanan transportasinya. Tahun 1922 MSM membuka pengangkutan melalui jalan raya. Selanjutnya, tahun 1928 MSM membuka pelayanan bus, dimulai dengan 13 bus. Pelayanan pengangkutan bus tersebut melalui daerah Madura selatan dengan rute Kamal-Bangkalan, Balega-Pamekasan, Pamekasa-Kalianget, Sumenep-Tenbaru, dan kamal-Kwanyar sampai tahun 1930, MSM memiliki jalur kereta api sepanjang 224 km dengan mengoperasikan 33 lokomotif uap dan 367 gerbong. Selain itu, MSM mengoperasikan 23 bus, 4 kapal uap, dan 17 perahu.

Jembatan kereta api MSM di atas Sungan Sampang, Madura (Sumber: Tropenmuseum.nl)
Sumber:
Kitlv.nl
Kuntowijoyo, “Social Change In An Agrarian Society: Madura 1850-1940”, Disertasi UGM,
Masykur, M. Ismail, “Kereta Api di Madura Tahun 1896-1929”, Skripsi Universitas Airlangga
National Archief, Inventaris van het archief van de NV Madoera Stoomtrammatschappij, (1896) 1897-1973
Subarkah, Iman, Sekilas 125 Tahun Kereta Api Kita, Bandung, 1992
Syafi’i, Imam, “Persaingan Pengangkutan Garam di Selat Madura Tahun 1924-1957”, dalam Jurnal Sejarah UNM
Tropenmuseum.nl