Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
Jalur Kereta Api Industri Gula Solo-Semarang

Jalur Kereta Api Industri Gula Solo-Semarang

Jawa
29 Juni 2026
by RIZKYA SELLY ANGGRAENY

ISI ARTIKEL

Sekilas Perkembangan Perkebenun Tebu di Vorstenlanden

Sistem tanam paksa (cultuursetelsel) yang mulai diperkenalkan tahun 1830 di Jawa tidak diberlakukan di daerah Vorstenlanden (Yogyakarta-Solo).  Di kedua daerah tersebut berlaku sistem persewaan tanah. Penyewa tanah yang sebagain besar orang Eropa dan Cina menyewa tanah dari para bangsawan yang diberikan oleh raja sebagai bentuk gaji.

Pertengahan abad ke-19, di Solo terjadi peningkatan sewa menyewa tanah baik di wilayah Mangkunegaran maupun Kasunanan. Pada awalnya, sebagian besar lahan yang disewa diperuntukan untuk penanaman kopi. Selain kopi, komoditas ekspor yang mulai banyak ditanam adalah tembakau dan tebu. Kurun tahun 1846-1850, ekspor tebu mampu menyaingi kopi. 

Perusahaan Gula di Solo tahun 1863

Distrik

Jumlah Perusahaan

Luas (ha)

Jumlah Pekerja

Produksi (ton)

Sragen

18

10.145 

3.661

815

Boyolali

11

6.135

4.527

1.358

Klaten

9

8.674

6.523

2.515

Kartasura

3

1.943

1.575

741

Sumber: Waskito Widi Wardojo, Spoor Masa Kolonial

Kereta Api Semarang-Solo

Sejak diberlakukanya sistem tanam paksa di Jawa, produksi gula mengalami peningkatan, terlebih setelah diterapkanya UU Agraria tahun 1870. Gula diangkut dari daerah-daerah pedalaman menuju pelabuhan untuk selanjutnya dikapalkan ke Eropa. Sampai pertengahan abad ke-20, pengangkutan gula di Jawa masih menggunakan gerobak dan cikar yang ditarik hewan (sapi atau kuda) melalui jalan raya. Sejak sebelum adanya industri gula di Solo, daerah Solo-Semarang sudah dihubungkan oleh jalan raya. Jalan ini menjadi penting sebagai penghubung dengan transportasi laut di Pelabuhan Semarang. Di beberapa daerah juga digunakan kapal-kapal kecil (gethek) melalui sungai. 

Untuk memperlancar sistem pengangkutan, Pemerintah Belanda melakukan perbaikan dan pengerasan jalan, serta pembukaan jalan-jalan baru. Namun kebijakan tersebut dirasa masih kurang, mengiangat pengangkutan menggunakan dokar atau gethek memiliki keterbatasan dalam jumlah muatan dan waktu. Pada saat itu, gerobak yang ditarik dua ekor hewan hanya mampu mengangkut muatan antara 300-425 kg dengan kecepatan 15-18 km per jam. Sementara itu, pengangkutan menggunakan kuli hanya mampu mengangkut barang sebesar 31-62 kg dengan maksimal jarak sejauh 18-24 km dalam satu hari. Sehingga, pengangkutan dari Solo ke Semarang membutuhkan waktu 6 hari menggunakan gerobak dan 4 hari menggunakan kuli. Oleh karena itu, dibutuhkan sarana pengangkutan modern yang mampu membawa muatan dalam jumlah besar dengan waktu yang lebih singkat, yaitu kereta api.

Tahun 1840, muncul ide pembanguna jalur kereta api di Jawa. Namun hal ini belum dapat direalisasikan. Mendesaknya kebutuhan pengangkutan menggunakan kereta api, para pengusaha swasta di Semarang menuntut pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta Antara Semarang-Solo-Yogyakarta. Baru pada tahun 1864, pembangunan jalur kereta api pertama di Hindia Belanda dilaksanakan. Pembangunan dilaksanakan oleh perusahaan swasta Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij (NISM) melalui konsensi yang diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda  melalui keputusan pemerintah tanggal 28 Agustus 1862 Nomor 1.

Konsensi yang diberikan NISM untuk membuka jalur kereta api dari Semarang menuju Yogyakarta melalui Solo. NISM mengutus J. P. Bordes, seorang insinyur militer sealigus komisaris NISM sebagai kepala pembangunan. Pembangunan ini menggunakan tenaga upah yang berasal dari Blora, Rembang, Jepara, Grobogan, maupun Salatiga. Selain itu dipekerjakan tukang kayu dan pandai besi untuk pengerjaan pembuatan bantalan dan pembuatan rel yang sebagian besar berasal dari Singen Kidul, Manggar, Grobogan, Purwodadai, Wirasari, Kragenan, dan Salatiga. 

Tanggal 10 Agustus 1867 jalur kereta api Semarang-Tanggung sepanjang 25 km diresmikan. Jalur kereta api selesai dibangun sampai di Solo tanggal 10 Februari 1870 dan Yogyakarta tanggal 1 Januari 1873. Sebagai tempat pemberhentian, NISM membangun halte dan stasiun. Halte merupakan sebuah stasiun kecil yang di dalamnya hanya memiliki satu atau dua ruang, bentuk bangunan pun sederhana. Sedangkan stasiun memiliki fasilitas lebih lengkap dari halte dengan beberapa ruang untuk pelayanan penumpang dan kereta api. Bangunan stasiun memiliki desain yang telah mempertimbangkan aspek gaya arsitektur dengan penggunaan material yang lebih tahan terhadap iklim tropis.

Halte dan stasiun yang dibangun lintas Semarang-Solo tahun 1872 meliputi Stasiun Samarang, Halte Brumbung, Halte  Tanggung, Stasiun Kedungjati, Halte Padas, Halte Telawa, Halte Salem, Halte Kalioso, dan Stasiun Solo (Solo Balapan).

Pembangunan jalur kereta api Semarang-Solo:

Petak Jalan

Panjang (km)

Tanggal Peresmian

Semarang-Tanggung

25

10 Agustus 1867

Tanggung-Kedungjati

9

19 Juli 1968

Semarang-Pelabuhan

20 Juli 1968

Kedungjati-Solo

74

10 Februari 1870

Sumber: Imam Subarkah, Sekilas 125 Tahun Kereta Api Kita 1867-1992

Jalur kereta api Semarang-Solo tahun 1896. (Sumber: media.kitlv.nl)

Tahun 1870, gula yang diangkut dari Solo ke pelabuhan Semarang sebesar 9.039 ton. Selain gula, komoditas ekspor yang diangkut yaitu kopi sebesar  3.248 ton, dan nila (indigo) sebesar 83 ton. Dalam melayani penumpang, di tahun yang sama NISM berhasil menjual karcis kelas 1 sebanyak 844 buah,  kelas 2 sebesar 10.206 buah, dan kelas 3 sejumlah 153.809 buah.

Tanggal 10 Juni 1872 NISM mengelurkan jadwal baru perjalanan kereta api Semarang-Solo-Yogyakarta. Dari jadwal tersebut Semarang-Solo dapat ditepuh dalam waktu sekitar 4 jam dengan dua kali perjalanan yakni pukul 08.20 dan 13.30 (diprioritaskan untuk angkutan barang). Begitu pula sebaliknya, dari Solo-Semarang terdapat dua kali perjalanan yakni pukul 6.50 (diprioritaskan untuk angkutan barang)dan 13.10.

Tarif Penumpang NISM :

Kelas

Biaya Per Km (Gulden)

Tahun 1867

Tahun 1906

Tahun 1920

Kelas 1

0,2

6

10

Kelas 2

0,15

3

6

Kelas 3

0,07

1,5

4

Sumber: Diolah dari G. Ambar Wulan, Peranan dan Perkembangan Kereta Api di Jalur Semarang – Solo Pada Tahun 1864-1870  dan Waskito Widi Wardojo, Spoor Masa Kolonial

Tarif Angkutan barang NISM tahun 1906 :

Kelas

Biaya per 100 kg (Gulden)

Kelas 1

1,4

Kelas 2

1,2

Kelas 3

1

Kelas 4

0,75

Kelas 5

0,50

Sumber: Waskito Widi Wardojo, Spoor Masa Kolonial

Sumber:

  • Ambar, G. Wulan, “Peranan dan Perkembangan Kereta Api di Jalur Semarang – Solo Pada Tahun 1864-1870”, Skripsi UI, 1985

  • Kitlv.nl

  • Subarkah, Imam, Sekilas 125 Tahun Kereta Api Kita 1867-1992, Bandung, 1992

  • Sulistyani, “Harmilyanti, kareteristik Tata Ruang Dalam Bangunan Stasiun Kereta Api di Jalur Semarang-Vorstenlanden Periode 1864-1930”, Tesis Teknik Arsitektur UGM, 2010

  • Widi, Waskito Wardojo, Spoor Masa Kolonial: Dinamika Sosial Ekonomi Masyarakat Vorstenlanden 1864-1930, Solo: Bukutujju, 2013

  • Tim Telaga Bakti, Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid I, Bandung: Angkasa 1997

Bagikan ke: