
Stasiun Tanjung Priok
ISI ARTIKEL
Para pendatang dari luar negeri yang hendak berkunjung ke Batavia (Jakarta), kali pertama pasti menginjakkan kaki di Tanjung Priok. Disana terdapat pelabuhan yang terintegrasi dengan stasiun kereta api.
Stasiun Tanjung Priok Awal
Bisa dikata, semasa zaman Veerenigde Oost-Indie Company (VOC) Kota Batavia adalah pusat segala aktivitas VOC di Asia. Hampir seluruh kapal dari Belanda berlabuh di Batavia, pun sebaliknya komoditas yang hendak dikapalkan ke Balanda diberangkatkan melalui pelabuhan ini.
Guna memperlancar pengangkutan pemerintah membangun pelabuhan yang dekat dengan pusat kota yang dikenal dengan nama Pelabuhan Pasar Ikan. Tepatnya di Teluk Jakarta yang merupakan muara Sungai Ciliwung. Namun pertengahan abad ke-19, Pelabuhan Pasar Ikan dirasa sudah tidak mumpuni lagi. Aktivitas pelabuhan yang kian meningkat terutama paska dibukanya Terusan Seuz (1869). Sehingga kapal dari Eropa ke Asia tidak perlu lagi mengitari Afrika. Selain itu Pelabuhan Sunda Kelapa sudah tidak dapat menampung kapal-kapal uap berukuran besar.
Oleh karena itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda van Lansberge membangun pelabuhan baru di Tanjung Priok yang dimulai pada tahun 1877. Beberapa fasilitas penunjang pelabuhan turut dibangun yakni kanal penghubung antara pelabuhan-kota dan stasiun kereta api.

Posisi Stasiun Tanjung Priok di dermaga pelabuhan ditandai lingkaran kuning sedang Stasiun Batavia NIS (hijau) dan Batavia BOS (biru), peta tahun 1908. Garis merah-putih merupakan jalur kereta kepunyaan SS (tahun 1898 jalur BOS diambilalih SS) sementara itu garis hitam-putih adalah jalur milik NIS. (Sumber: KITLV Overzichtskaart van het bestaande Spoor- en Tramwegnet te Batavia en Omstreken D E 19,1)
Stasiun Tanjung Priok dibangun persis di atas dermaga pelabuhan. Stasiun ini dibuka untuk umum pada 2 November 1885 bersamaan peresmian jalur Tanjung Priok-Batavia. Jalur sepanjag 9 km tersebut dikelola oleh perusahaan kereta api negara, Staatsspoorwegen (SS).
Atap stasiun berbentuk pelana dengan kemiringan sekiyar 30˚- 45˚ disertai ornamen list dari kayu. Dinding menggunakan batu bata dilapisi cat putih. Bangunan stasiun terpengaruh aliran gaya arsitektur neo classic, hal ini ditunjukkan pada bagian pintu masuk memakai unsur lengkungan di atas pintu masuk. Pintu tersebut berjumlah tiga buah yang bermaterial kayu kokoh dan kuat. Bukaan berupa jendela dan ventilasi dibuat lebar dengan tujuan memperlancar sirkulasi udara. Mengingat lokasi stasiun yang berada di daerah pesisir sehingga udara terasa lebih panas.

Tampak muka Stasiun Tanjung Priok sekitaran tahun 1890. Stasiun ini dibuka pada tahun 1885, pada sisi kanan stasiun merpakan kantor pelabuhan. (Sumber: KITLV 19356)
Keberadan stasiun ini berperan sebagai penghubung antara transportasi laut dan darat. Kala itu para pelancong dari Eropa ataupun negeri lain yang berkunjung ke Batavia menggunakan kapal, berhenti di Pelabuhan Tangjung Priok. Selepasnya, mereka berganti moda transportasi kereta api daerah lain yang dituju. Apabila hendak bepergian ke Bogor, penumpang turun di Stasiun Batavia NIS untuk melanjutkan perjalanan. Sedang perjalanan ke Bekasi-Karawang dilayani Stasiun Batavia BOS.
Tercatat pada tahun 1898 terdapat 19 keberangkatan kereta api dari Stasiun Tanjung Priok. Sembilan menuju Stasiun Batavia NIS dan sepuluh menuju Stasiun Batavia BOS. Durasi peralanan dari Stasiun Tanjung Prik ke Batavia NIS atau BOS ialah sekitar 18 menit.

Suasana Stasiun Tanjung Priok yang mulai ramai tahun 1910. Terlihat rel kereta api yang mengarah ke pelabuhan. (Sumber: KITLV 153385) http://hdl.handle.net/1887.1/item:786807

Fasad bangunan Stasiun Tanjung Priok mempunyai kemiripan bentuk awal Stasiun Bandung dan Gubeng. Hanya saja bangunan tengah kedua stasiun tersebut dibangun lebih tinggi dibanding Stasiun Tanjung Priok. (Sumber: KITLV 1405488) http://hdl.handle.net/1887.1/item:853119
Pembangunan Stasiun Baru yang Menawan
Paska pelabuhan baru dibuka, aktivitas perdagangan pun bergeser ke wilayah Tanjung Priok. Bangunan pelabuhan baru yang lebih besar dan memadai ini sangat menunjang geliat aktivitas di pelabuhan. Sampai awal abad ke-20 aktivitas di pelabuhan kian meningkat. Setali tiga uang, hal ini juga berdampak positif bagi Stasiun Tanjung Priok. Stasiun ini ramai penumpang.
Guna mempermudah dan menampung penumpang yang lebih banyak, diusulkan pembangunan stasiun baru. Harian Soerabaijasch Handelsblad edisi 25 Mei 1907 dan Het Niews van den dag voor Nederlandsch Indie edisi 28 Mei 1907 mengabarkan bahwa pada tahun 1908 akan dibuat proposal pembangunan stasiun baru di Tanjung Priok. Stasiun lama akan dialihfungsikan untuk keperluan layanan bangunan penyelidikan (recherche gebouw dienst).
Namun baru tahun 1914 rencana tersebut terealisasi. SS membangun stasiun baru di sebelah Stopplaats Sungai Lagoa. Rancangan stasiun baru ini mengusung konsep pembangunan kota industri, didesain oleh C. W. Koch, Kepala Insinyur SS. Stasiun dibangun di atas pondasi tiang pancang beton bertulang dengan kolom beton bertulang. Konstruksi tersebut dilaksanakan oleh Hollandsche Beton Maatschappij. Sedang pemasangan dinding dan finishing dilakukan di tempat.
Salah satu hal menarik dalam pembangunan ialah pendirian sebuah pabrik batu bata. Pabrik batu bata semen ini dibangun khusus untuk menunjang kebutuhan pembangunan stasiun. Hal ini disebabkan selama proses pembangunan pasokan batu bata tidak mencukupi. Selain itu semua harga bahan bangunan melonjak harganya.

Lokasi Stasiun Tanjung Priok awal ditandai lingkaran kuning sedang bangunan stasiun baru diberi tanda lingkaran merah. (Sumber: KITLV Plan of Batavia 1910 D E 21,8 dan Plan of Batavia 1930 D E 20,4)
Guna menaungi enam buah jalur kereta, dibangun peron raksasa yang memiliki bentang 39,50 m dengan panjang 190 m. Atap peron tersebut dirancang dan dirakit oleh disuplai dinas konstruksi milik SS. Namun produksi rangka atap dan sebagianya disuplai dari pabrik Machinefabriek Braat di Surabaya. Menurut koran De Telegraaf terbitan Selasa, 4 Agustus 1925 bahwa dana keseluruhan pembuatan atap peron sejumlah f 509.800. Dimana dana f 10.300 digunakan untuk biaya perakitan. Sedang dana yang digelontorkan untuk bangunan stasiun, termasuk reklamasi tanah, bahan, serta upah mencapai 1,74 juta gulden. Sementara itu, bekas bangunan stasiun lama diambilalih dinas Post, Telegraaf, en Telephoon (PTT) lantas digunakan sebagai kantor pos.

Fasad Stasiun Tanjung Priok baru, tampak bentuk kubisme sebagai salah satu ciri langgam arsitrektur art deco. (Sumber: KITLV 1402817)
Bangunan stasiun terbesar dan terindah ini memiliki siluet simetris dengan gaya arsitektur modern awal berbentuk simpel dan geometris yang dipengaruhi aliran kubisme. Secara dominan, bentuk bangunan stasiun ini adalah persegi. Hal ini dapat dilihat dari bentuk bangunan secara keseluruhan maupun bukaan berupa pintu dan jendela. Ornamen berlanggam art deco berupa garis-garis vertikal dan horizontal banyak menghiasi Stasiun Tanjung Priok.
Massa bangunan Stasiun Tanjung Priok berbentuk huruf U. Bangunan utama sebagai gerbang masuk stasiun menghadap arah timur laut. Bangunan depan berupa jalan masuk yang terdapat tempat pembelian tiket, selepasnya terdapat ruang hal yang tinggi dan luas. Pada sisi tenggara difungsikan untuk ruang tunggu, tempat makan, dan toliet khusus pelanggan pribumi. Sedang sisi barat laut digunakan untuk penumpang Kelas 1 dan Kelas 2.
Pada sayap bangunan tenggara terdiri dari fasilitas penumpang Kelas 3, pintu keluar, ruang pemesanan bagasi, serta ruang pengambilan dan pengantaran bagasi. Sementara itu, sisi bangunan barat laut difungsikan untuk operasional stasiun.
Lantai satu berisi pintu keluar, tangga, ruang kasir yang terdapat brankas, ruang kepala stasiun, ruang juru tulis, ruang wakil kepala, ruang telegraf, ruang pengawas gerbong, dan tangga. Untuk lantai 2 digunakan sebagai ruang istirahat siang pegawai eropa dan Indonesia, ruang makan, ruang istirahat malam pegawai eropa dan Indonesia, ruang istirahat kondektur eropa dan Indonesia, ruang pengawas kereta, dan ruang pengawas stasiun.

Foto udara Stasiun Tanjung Priok tahun 1928. Tampak atap peron raksasa sepanjang 190 meter. (Sumber: Tropen Museum TM 7082-S-4394-1-19) https://hdl.handle.net/20.500.11840/1244892
Pembukaan Stasiun Tanjung Priok dilaksanakan pada tanggal 6 April 1925, bertepatan dengan perayaan hari jadi SS ke-50. Sebagai kado manis ulang tahun, SS meluncurkan perjalanan Kereta Rel Listrik pertama dengan rute Jatinegara-Tanjung Priok.
Pagi hari, tepatnya pukul sembilan lebih seperempat rangkaian kereta listrik yang sudah dipercantik dengan riasan tanaman hijau dan bunga melaju dari Stasiun Mesteer Cornelis (Jatinegara). Melewati Stasiun Pasar Senen dan Kemayoran menuju Stasiun Tanjung Priok baru. Di aula Stasiun Tanjung Priok ratusan kursi sudah ditata dengan apik.
Sekitar pukul sepuluh pagi, Mr. Van Valkenburg mewakili gubernur jenderal Hindia Belanda membuka acara di depan lima ratusan tamu. Dalam sambutanya, selain ucapan perayaan ke-50 SS Valkenburg mengapresiasi karya dan jernih payah perusahaan SS yang telah mempersiapkan dan pelaksanaan pembangunan stasiun terbesar dan termegah sekaligus peluncuran KRL pertama kali.

Denah lantai satu Stasiun Tanjung Priok. (Sumber: Uitbreiding van de spoorwegen in en om Batavia en Tandjong Priok)
Sejak tahun 1999 Stasiun Tanjung Priok tidak dioperasikan. Stasiun yang sudah berstatus cagar budaya sesuai SK Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No: PM.13/PW.007/MKP/05 ini direnovasi pada tahun 2008-2009. Peresmian stasiun ini beserta pengoperasian jalur Tanjung Priok - Jakarta Kota dilakukan oleh Presiden SBY.
Selepasnya, PT KAI bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang (kini BPK VIII) melaksanakan Ekskavasi Bunker di Stasiun Tanjung Priok tahun 2010 serta Identifikasi Kerusakan dan Studi Teknis Stasiun Tanjung Priok pada tahun 2015.

Fasad bangunan Stasiun Tanjung Priok tahun 2020. (Sumber: Koleksi PT KAI)

Peron Stasiun Tanjung Priok, jalur 2 digunakan untuk operasional perjalanan Kereta Rel Listrik. (Sumber: Koleksi PT KAI)
Daftar Rujukan:
- Danar, Galuh Rahmat. 2013. “Stasiun Kereta Api Tanjung Priok, Jakarta Tahun 1925-1942, Sebuah Kajian Arkeologi Industri”. Skripsi. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
- “De eerste electrische Spoorlijn”. De Indische Courant. 6 April 1925
- “De opening van de E. S. S.”. De Indische Courant. 8 April 1925
- Dirk Teeuwen. “Landing Places of Batavia Sunda Kelapa and Tanjung Priok” dalam http://www.indonesia-dutchcolonialheritage.nl/JakartaTPriok/JakartaBataviaHarbours.pdf. Diakses pada tangal 14 Maret 2022 pukul 11.30 WIB.
- F. O. Wegener Sleeswijk. 1929. “Uitbreiding van de spoorwegen in en om Batavia en Tandjong Priok”. De Ingenieur. No. 2
- “Het nieuwe station te Priok”. De Locomotief. 7 Juli 1925
- “Het oude Priok-station”. Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie. 4 April 1925
- “Kost het nieuwe SS Station te Priok ruim 2 millioen”. De telegraaf. 4 Agustus 1925
- “Nieuw station te Priok”. Soerabaijasch Handelsblad. 25 Mei 1907
- “Station te Tandjong Priok”. Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie. 28 Mei 1907
- Tundjung dan Roviyanti, Rani. 2020. “Dari Sunda Kelapa ke Tanjung Priok”. Alur Sejarah: Jurnal Pendidikan Sejarah. Vol. 3. No. 2
- Widayanti, Rina dan Meyka Widyarsih. 2012. “Analisi Perkembangan Gaya Arsitektur Pada Fasade Bangunan Stasiun Kereta Tanjung Priuk”. Desain & Konstruksi. Nomor 2 Vol. 11