Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
Stasiun Manggarai

Stasiun Manggarai

Stasiun
24 Juli 2026
by Administrator

ISI ARTIKEL

Nama Manggarai di Batavia (Jakarta) acap kali disinggung memiliki kaitan dengan daerah Manggarai di Flores, Nusa Tenggara Timur. Penamaan Manggarai di Jakarta berasal dari orang-orang Manggarai, Flores yang menjadi budak semasa zaman Hindia Belanda. Lambat laun daerah yang masuk Gementee Meester Cornelis ini berkembang menjadi kampung.

Sekilas Kereta Api di Jakarta

Adalah perusahaan kereta api swasta, Nederlandsch Indische Spooweg Maatschappij (NIS) yang kali pertama membangun jaringan kereta di Jakarta. Lintas yang dibangun ialah dari Jakarta menuju Buitenzorg (Bogor).

Peresmian lintas dibagi menjadi tiga tahapan. Awalnya dari Jakarta (kini daerah Stasiun Jakarta Kota) ke Weltevreden (daerah Gambir) dibuka pada 15 September 1871. Selepasnya Weltevreden-Meester Cornelis pada 16 Juni 1872. Terakhir, Meester Cornelis-Bogor diresmikan pada 31 Januari 1873.

Sebagai tempat naik-turun penumpang serta barang, stasiun terdekat dengan daerah Manggarai ialah Stasiun Meester Cornelis. Lokasi stasiun berada di ujung jalur dekat dengan bengkel kereta api (kini Depo Bukit Duri). Stasiun ini dikenal pula dengan sebutan Stasiun Bukit Duri Pasar.

Lokasi Stasiun Meester Cornelis NIS awal ditandai lingkaran kuning, peta tahun 1898. Tampak pula kesibukan di Stasiun Meester Cornelis. (Sumber: KITLV KK 042-03-07/08 dan KITLV 1400451) http://hdl.handle.net/1887.1/item:846665 

Selain NIS, perusahaan swasta Bataviaasche Ooster Spoorweg Maatschappij (BOS) dan perusahaan kereta api negara Staatsspoorwegen (SS) turut mewarnai bisnis angkutan kereta di Jakarta. SS membuka jalur kereta api ke arah barat Jakarta. Antara Jakarta-Duri-Tangerang diresmikan tahun 1899. Selepasnya diteruskan pembangunan ke Rangkasbitung hingga Serang (1900).

Sementara itu, jaringan kereta wilayah Jakarta bagian timur dikembangkan oleh BOS. Jakarta-Bekasi (1887), dilanjut ke Cikarang sampai ke Karawang (1898). Namun akibat masalah finansial, jalur ini dijual ke SS berbarengan peresmian jalur ke Karawang seharga lima juta gulden.

Pada tahun 1907, Stasiun Meester Cornelis NIS tidak lagi difungsikan untuk umum. Pasalnya, di tahun yang sama NIS merampungkan pembangunan stasiun baru Meester Cornelis atau Bukit Duri. Lokasi stasiun baru terletak di utara stasiun awal. Kehadiran stasiun baru ini semakin melancarkan operasional perjalana kereta api, mengingat kereta api sudah tidak lagi berjalan ke jalur cabang.

Stasiun Bukit Duri ditandai lingkaran kuning, peta tahun 1908. Garis hitam merupakan jalur kereta milik NIS sedang garis merah jalur milik Staatsspoorwegen (SS). Pada saat itu jalur dari Tanah Abang ke Kramat mengalami perpotongan di perhentian Cikini yang sejajar dengan Salemba. (Sumber: KITLV KK 012-02-01)

Pembangunan Stasiun Manggarai

Awal abad ke-20 pemerintah telah merancang rencana perbaikan kondisi perkeretaapian di Jakarta. Namun pekretaapian di Jakarta tidak hanya dikelola pemerintah melalui SS, lintas Jakarta-Bogor dioperasikan oleh maskapai swasta yakni NIS. Oleh karena itu SS berkeinginan mengambil alih jalur Jakarta-Bogor milik NIS. Sejatinya usulan ini sudah mencuat tahun 1877 ketika SS hendak membangun jalur Jakarta-Bandung. Namun proses nego yang cukup alot membuat jalur ini baru bisa dibeli SS pada tahun 1913. Dana yang digelontorkan SS sebesar 8,5 juta gulden.

Paska menguasai seluruh kereta api di Jakarta SS lantas melaksanakan penataan perkeretaapian di Jakarta. Manggarai-Meester Cornelis menjadi jalur prioritas yang akan ditata oleh SS. Salah satu proyek di jalur ini adalah membangun kawasan stasiun baru yang diperkirakan dimulai tahun 1914. Sekilas lokasi stasiun baru ini agak terpencil dan terisolasi, nyatanya stasiun ini menjadi pertemuan empat lajur, yakni dari Jakarta, Banten-Tanah Abang, Karawang, dan Bogor.

Pekerjaan besar SS ini menjadi perhatian Gubernur Jenderal Idenburg. Bersama dengan sekertaris jenderal, Mr. Hulshoff Pol serta ajudannya Mr. d’Engelbronner, mereka mengunjung proyek kereta api di Manggarai. Kunjungan yang berlangsung pada 6 Mei 1917 itu diterima dengan baik oleh Inspektur SS, Mr. Damme yang didampingi oleh Mr. Koch selaku kepala insinyur yang bertanggung jawab terhadap proyek di Manggarai serta Mr. Boer, insinyur pengawas. Dimulai pagi hari, Mr. Damme memimpin tur proyek bengkel kereta api, lokasi perumahan pekerja, dan terakhir melongok progress pembangunan stasiun baru. 

Foto udara komplek proyek di Manggarai berupa stasiun, bengkel kereta, dan perumahan pegawai. (Sumber: Tropenmuseum 7082-nf-1356-25)

Bangunan stasiun memiliki ciri dengan karya Ir. J. Van Gendt. Stasiun ini mempuyai lima peron dengan lantai berbahan granit yang dipasok dari Bumiayu. Jalur 4 dan 5 sepanjang 300 meter difungsikan sebagai perhentian kereta api ekspres. Sementara itu, atap kanopi didesain menggunakan material besi. Namun akibat perang, besi dari Eropa terkendala untuk didatangkan. Alhasil dipilih material penggati kayu sepanjang 50 meter.

Stasiun Manggarai resmi beroperasi pada 1 Mei 1918. Hari itu bertepatan dengan pemberlakuan jadwal baru SS serta kali pertama kereta ekspres tujuan Jogja dibuka. Berawal dari Stasiun Koningsplein (Gambir) melewati jalur ganda ke Stasiun Manggarai, dilanjut ke Stasiun Meester Cornelis (Jatinegara) hingga ke Karawang.

Pada saat pembukaan, manajemen SS mengundang para awak media untuk manjajal kereta ekspres sampai ke Karawang. Tepat pukul tujuh pagi, kereta berangkat dipimpin oleh Mr. Damme selaku Inspektur SS. Tak lama berselang, kereta melintas Stasiun Manggarai. Para penumpang dan jurnalis terkesima dengan karya bangunan baru Stasiun Manggarai. Selama perjalanan, SS menyuguhkan minuman segar, sandwich, serta cerutu dan rokok yang wangi.

Proses pembangunan Stasiun Manggarai, tampak konstruksi atap peron kayu sepanjang 50 meter tengah dikerjakan. (Sumber: KITLV 34558) http://hdl.handle.net/1887.1/item:726397

Bangunan muka Stasiun Manggarai. (Sumber: KITLV 34559) http://hdl.handle.net/1887.1/item:724185

Saksi Bisu Pemindahan Ibu Kota

Maret 1942 Pemerintah Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Otomatis seluruh Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang, termasuk perkeretaapian. Di Jawa perkeretaapian dijadikan satu di bawah wadah Rikuyu Sokyoku (Urusan Angkutan Darat). Di bawah kendali Rikuyu Sokyoku diprioritaskan guna keperluan militer.

Proklamasi kemerdekaan oleh Bung Karno dan Bung Hatta membakar semangat seluruh masyarakat, tak terkecuali insan kereta api. Para pegawai kereta api yang kebanyakan masih muda lantas sigap melakukan pengambilalihan perkeretaapian dari tangan Jepang. Alhasil pada awal September stasiun serta balai yasa di Manggarai berhasil dikuasi oleh insan kereta api.

Pengambilalihan meluas ke berbagai daerah. Di Bandung, selang dua hari keberhasilan menguasai kantor pusat dibentuklah Djawatan Kereta Api Indonesia (DKARI). Tak lama DKARI manjalankan tugasnya, salah satunya misi rahasia dari Presiden Soekarno untuk memindahkan ibu kota ke Yogyakarta menggunakan kereta api. Pemindahan bukan tanpa alasan, kedatangan Inggris yang ditunggangi sekutu membuat Jakarta sebagai ibu kota sudah tidak kondusif.

Tanpa membuang waktu, DKARI di Jakarta menyiapkan segala keperluan Kereta Luar Biasa (KLB) pemindahan ibu kota di Balai Yasa Manggarai. Seluruh sarana dan prasarana dirancang di bengkel ini. Dengan fokus dan hati-hati pegawai balai yasa memeriksa, memperbaiki serta merawat delapan unit kereta sebagai rangkaian KLB.

Untuk mensukseskan perjalanan rahasia KLB, pimpinan DKARI melakukan siasat gerakan tipu daya langsir. Tujuannya agar patroli pasukan Belanda tidak curiga ketika nanti rangkaian KLB melaju. Tanggal 3 Januari 1946 di Stasiun Manggarai menjadi komando koordinasi antara Stasiun Jatinegara dan Gambir. Beberapa gerbong kosong dijalankan dari Stasiun Jatinegara ke Gambir melalui Manggarai.

Selain itu, dibuat barikade dari gerbong dan kereta di jalur satu Stasiun Manggarai. Siasat ini diatur oleh Soewignyo dari dinas lalu lintas supaya menutupi pandangan pasukan Belanda yang tengah berjaga. Seorang pekerja Stasiun Manggarai, Mirta Soewanda mempersiapkan koper-koper untuk presiden beserta rombongan.

Sore tatkala matahari mulai condong ke ufuk barat, lokomotif uap C2849 masuk ke Balai Yasa Manggarai tanpa penerangan. Tak perlu lama lokomoif tersebut digandengkan dengan delapan kereta yang sudah dirangkai guna persiapan KLB.

Tepat pukul enam, rangkai meluncur pelan-pelan dari balai yasa menuju Stasiun Manggarai. Dalam gelap gulita serta sunyi rangkaian kereta perlahan melaju ke pegangsaan, di belakang rumah Bung Karno.

Dengan berhati-hati dan mencoba tetap tenang, Sapi-ie seorang pelayan kereta api turun membantu rombongan memasuki kereta. Salah satunya Sapi-ie menolong Ibu Fatmawati yang tengah menggendong putranya, Guntur. Gelap malam nan sunyi kian membuat suasana semakin mencekam. Terlebih hati berdebar, was-was, dan ketakutan kepergok pasukan Belanda. Meski dalam situasi yang kalut seluruh penumpang berhasil naik.

Karikatur rombongan KLB tengah bersiap naik kereta di belakang rumah Bung Karno Jl. Pegangsaan Timur No. 56. (Sumber: Mosaik Perjuangan Kereta Api 1945: Pemerintah RI Hijrah)

Selepasnya rangkaian kereta diberangkatkan kembali mengarah ke Stasiun Manggarai secara melalui jalur 6. Sebab jalur 5 telah ditempatkan barikade rangkaian kereta dan gerbong kosong untuk mengelabui pasukan yang berada di peron stasiun. Selama melintas Stasiun Manggarai, laju rangkaian kereta hanya 5km/jam. 

Meski dalam suasana campur aduk bahkan seakan dentang jam berhenti. Rangkaian rombongan berhasil melintasi Stasiun Manggarai. Setali tiga uang, memasuki Stasiun Jatinegara kereta melaju perlahan. Baru selepas Stasiun Bekasi rangakai kereta dipacu dengan cepat menuju Yogyakarta.

Kesibukan Stasiun Manggarai pada tahun 1951. (Sumber: NVBS)

Saat ini Stasiun Manggarai menjadi stasiun dengan lalu lintas kereta api tersibuk di Indonesia. Stasiun ini dilalui kereta jarak jauh yang hendak singgah ataupun dari Stasiun Gambir. Sebagai perhentian, Stasiun Manggarai melayani penumpang KRL (Kereta Rel Listrik) tujuan Jakarta Kota, Bogor, Tanah Abang, dan Bekasi. Kereta Api Bandara pun sudah dapat dilayani melalui stasiun ini.

Stasiun Manggarai yang diresmikan tahun 1918 ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang terdaftar di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dengan nomor registrasi RNCB.19990112.04.000470 berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: PM.13/PW.007/MKP/05 serta Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 011/M/1999 dan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tahun 1993.

Daftar Rujukan:

Koran dan Majalah

  • “De Staatsspoorwerken”. De Locomotief. 26 Mei 1917

  • “De Reorganisatie der Westerlijnen”. Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie. 1 Mei 1918

  • “Langs nieuwe banen”. Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie. 1 Mei 1918

  • “Spoorwegtoestanden in en om Batavia”. De Sumatra Post. 6 Mei 1918

  • Sleeswijk, F. O. Wegener. 1929. “Uitbreiding van de spoorwegen in en om Batavia en Tandjong Priok” De ingenieur. Vol. 5. No. 02

Buku

  • Boekoe Peringatan Dari Staatsspoor en Tramwegen di Hindia Belanda 1875-1925. 1925. Weltevreden: Topogrfische Inrichting

  • Purbohadisaputro. Mosaik Perjuangan Kereta Api 1945: Pemerintah RI Hijrah

  • S. A. Reitsma. 1928. Korte Geschiedenis der Nederlandsch Indische Spoor en Tramwegen. Weltevreden: G. Kolff & Co

Bagikan ke: