
Stasiun Cimahi
ISI ARTIKEL
Kisah Halte Cimahi
Stasiun Cimahi awalnya merupakan sebuah halte yang dibuka pada tanggal 17 Mei 1884 bersamaan peresmian jalur kereta api Cianjur – Bandung oleh perusahaan kereta api Negara Staatssporwegen (SS). Jalur tersebut merupakan bagian dari pembangunan jaringan kereta api pertama di tanah Priangan yang meliputi Buitenzorg (Bogor) - Bandung - Cicalengka. Pembangunan berdasarkan Undang-undang 6 Juni 1878 Staatblad nomor 201. Jalur sepanjang 181 kilometer tersebut dibangun menggunakan lebar jalur 1067 mm.
Tabel 1. Tahap Pembangunan Jalur Kereta Api Bogor-Bandung-Cicalengka
No | Lintas | Panjang (km) | Tahun Dibuka |
1 | Bogor - Cicurug | 24 | 5 Oktober 1881 |
2 | Cicurug - Sukabumi | 27 | 21 Maret 1882 |
3 | Sukabumi - Cianjur | 31 | 10 Mei 1883 |
4 | Cianjur - Bandung | 39 | 17 Mei 1884 |
5 | Bandung - Cicalengka | 60 | 10 September 1884 |
Sumber: Majalah Djawatan Kereta Api, Edisi Juni 1957
Tujuan pembangunan jaringan kereta api di Priangan terkait kepentingan ekonomi menghubungkan wilayah subur Priangan dengan pelabuhan di Batavia (Jakarta). Keberadaan jalur kereta api di Priangan juga untuk keperluan militer guna melegitimasi kekuasaan Belanda di Hindia Belanda (Indonesia). Selain itu, sebagai sebuah perusahaan negara SS memiliki kewajiban mensejahterakan masyarakat dengan membuka daerah yang terisolasi.
Bersumber pada jadwal perjalanan kereta api SS Westerlijnen yang dicetak tahun 1884, ada empat kereta api yang berhenti di Halte Cimahi. Kereta api tersebut ialah kereta api jurusan Bogor - Cicalengka (pp) dan kereta api dari Cianjur menuju Cicalengka (pp). Pada saat itu kecepatan rata-rata kereta berkisar 25-30 km/jam. Perjalanan dari Bogor ke Cicalengka dapat ditempuh kurang lebih selama 7,5 jam sedangkan Cianjur-Cicalengka sekitar 3,5 jam.
Biaya perjalanan kereta api dibedakan berdasarkan kelas. Pada tahun 1900, untuk perjalanan dari Bogor ke Cimahi penumpang kelas 1 (Eropa) merogoh kocek sebesar 11 gulden. Dengan rute yang sama, penumpang kelas 2 (timur asing: Cina, Arab) membayar tiket kereta 7 gulden, dan tarif penumpang kelas 3 (campuran dan pribumi) cukup mengeluarkan uang 2,96 gulden. Sementara itu biaya barang per 10 kg adalah 0,44 gulden.

Letak Stasiun Cimahi ditandai lingkaran berwarna biru, berdasarkan peta tahun 1905. (Sumber: Maps.library.leiden.edu)
Renovasi Stasiun Cimahi
Awal tahun 1900-an Halte Cimahi di renovasi, didirikan bangunan baru untuk menampung penumpang yang lebih banyak. Diduga hal ini berkaitan dengan terpilihnya Cimahi sebagai pusat militer Belanda di daerah pedalaman. Pada saat itu SS juga melaksanakan pembangunan jalur kereta api dari Karawang ke Padalarang sehingga perjalanan kereta api dari Jakarta menuju Cimahi dapat melalui jalur utara dengan waktu tempuh yang lebih cepat.
Infrasturktur pendukung sebagai kota militer pun berangsur-angsur dibangun. Cimahi menjadi Kota Militer yang penting setelah Bandung digadang-gadang sebagai ibu kota baru pengganti Jakarta, Cimahi didaulat menjadi kawasan pertahanan guna melindungi Bandung.
Bangunan baru Stasiun Cimahi akan dioperasikan pada pertengahan atau akhir Februari tahun 1905. Hal tersebut dimuat dalam surat kabar Het Niews van den dag voor Nederlandsch Indie yang terbit pada 2 Februari 1905.
Bangunan Stasiun Cimahi merupakan bangunan berlantai satu dengan denah bangunan simetris dan orientasi arah hadap ke utara. Pada bagian muka/fasad bangunan terdapat 2 gable/ 2 area entrance sehingga tampak seperti dua bangunan kembar. Bangunan memiliki dinding yang tebal ±30 cm (satu bata), langit-langit yang tinggi dan lantai tegel sehingga menghasilkan penghawaan yang adem pada bangunan. Model atap bangunan pelana dengan teritis sebagai bentuk adaptasi untuk melindungi bangunan dari tampias hujan dan matahari langsung.

Suasana Stasiun Cimahi pada tahun 1907. (Sumber: KITLV 1405853)
Bagian entrance bangunan dengan 3 bukaan tanpa pintu berukuran tinggi dan pada bagian atasnya masing-masing terdapat ventilasi dengan ornamen sulur dari material besi. Selain itu, pada bagian entrance juga terdapat kanopi dengan konsol besi motif sulur. Berdasarkan deskripsi yang disebutkan di atas, diketahui bangunan Stasiun Cimahi merupakan bangunan berlanggam vernakular Belanda dengan ciri-ciri penggunaan gable, banyak bukaan/ventilasi berukuran lebar dan tinggi. Di sisi timur stasiun dibangun dua gudang yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan bagasi. Salah satu gudang diperuntukkan khusus untuk kepentingan militer.
Paska dibangun stasiun baru, kereta api yang melintasi Stasiun Cimahi pun melonjak lima kali lipat. Berdasarkan panduan perjalan resmi kereta api, trem dan mobil yang keluar tahun 1926, terdapat 22 kereta api yang berhenti di Stasiun Cimahi. Keseluruhan kereta tersebut meliputi rute Cimahi-Bandung (satu pp), Bandung-Purwakarta (satu pp), Bandung-Padalarang (tiga pp), dan Bandung-Cikampek (enam pp).

Tampak fasade Stasiun Cimahi sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV 27606)

Rombongan penumpang sedang menanti kereta di Stasiun Cimahi tahun 1924. (Sumber: KITLV 79112l)

Pasukan Belanda sedang beristirahat di Stasiun Cimahi selepas melakukan latihan militer tahun 1947. (Sumber: Tropenmuseum.nl)
Sumber:
Bandung Sebagai Ibukota Belanda
Kitlv.nl
Maps.library.leiden.nl
Melintasi Pegunungan, Pedataran, hingga Rawa-rawa: Pembangunan Jalan Kereta Api di Priangan 1878-1924
Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aansluitende Automobildiensten op Java Madoera 1900
Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aansluitende Automobildiensten op Java Madoera 1926
Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid I
Sunda: Sejarah, Budaya, dan Politik