
Sejarah Stasiun Jakarta Kota
ISI ARTIKEL
Dua Stasiun di Batavia
Sebelum Stasiun Jakarta Kota (Jakk) dibangun, di kawasan kota lama Batavia (Jakarta) terdapat dua stasiun besar kereta api. Kedua stasiun tersebut adalah Stasiun Batavia NISM, milik maskapai kereta api swasta Nederlandsch Indische Spoorweg Maatchappij dan Stasiun Batavia BOSM milik Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschappij. Stasiun Batavia NISM yang dikenal pula dengan Stasiun Batavia Noord melayani rute Batavia-Buitenzorg (Jakarta-Bogor). Sementara itu, Stasiun Batavia BOSM atau Stasiun Batavia Zuid mengoperasikan kereta api lintas Jakarta-Bekasi-Karawang.

Lokasi Stasiun Batavia Noord ditandai lingkaran hijau sedang Stasiun Batavia Zuid lingkaran merah, peta tahun 1897. Kuat dugaan penamaan noord-zuid (utara-selatan) mengacu pada letak stasiun. (Sumber: Maps.library.leiden.edu)
Kedua stasiun yang berjarak 200 meter ini tidak terhubung satu sama lain, sehingga penumpang yang hendak berpindah rute harus berjalan kaki. Selain menyusahkan para penumpang kereta api, stasiun yang berdekatan juga dianggap membahayakan bagi perjalanan kereta api pada persimpangan jalur, mengingat teknologi keselamatan pada saat itu belum handal.
Dalam perkembangannya, kedua operasional kereta api di Jakarta dikelola oleh perusahaan kereta api negara, Staatssporwegen (SS). Tahun 1898 SS membeli seluruh jaringan milik BOSM dan jaringan kereta api milik NISM tahun 1913. Selepas SS menguasai seluruh jaringan kereta di Jakarta, maka diadakan penataan ulang terhadap sistem angkutan kereta api, salah satunya adalah mendirikan stasiun baru di Jakarta yang terintegrasi.

Bangunan Stasiun Batavia Noord yang dibangun NISM, potret tahun 1900.
(Sumber: KITLV 19196)

Kesibukan penumpang Stasiun Batavia Zuid, stasiun ini mulanya milik BOSM. (Sumber: Spoorwegstation op Java)
Integrasi Stasiun: Pembangunan Stasiun Terpadu
Lokasi stasiun baru yang hendak dibangun ialah menempati Stasiun Batavia Zuid, sehingga pada tahun 1923 stasiun ini ditutup. Sedang Stasiun Batavia Noord tetap beroperasi sebagai stasiun sementara yang melayani penumpang dan barang sampai stasiun baru selesai. Khusus pengangkutan barang, dibangun stasiun barang di Heemradenplain di sebelah utara Stasiun Batavia Noord.
Mulanya, Kepala Insinyur SS yakni Ir. C. W. Koch diberi tugas untuk merancang stasiun baru tersebut. Koch mendesain sebuah stasiun dengan fasad memanjang dengan pintu masuk yang monumental di bagian tengah. Di salah satu sudut bangunan didirikan sebuah menara jam. Namun rencana tersebut urung direalisasikan karena alasan ekonomi dan tidak disetujui.

Desain awal Stasiun Batavia yang dirancang oleh Ir. C. W. Koch. (Sumber: Spoorwegstation op Java)
Kemudian, seorang arsitektur kenamaan, Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels dari biro arsitek Algemeen Inginieurs en Architectenbureau (AIA) mengambil alih peran merancang stasiun terminus dengan 12 jalur tersebut. Ghijsels pun mencoba membuat beberapa variasi desain pintu masuk utama pada tampak depan bangunan. Lantas, diputuskan desain stasiun berupa sebuah bangunan lebar, fasad yang rendah dengan sisi tengahnya terdapat sebuah atap besi melengkup yang megah. Pada Juni 1927, Ghijsels merampungkan desainnya. Selanjutnya Stasiun Batavia Zuid dirobohkan.

Pembangunan peron pada 13 Oktober 1928, terlihat konstruksi sayap selatan bangunan. (Sumber: Colonialarchitecture.nl)

Pekerjaan bagian fasad bangunan tanggal 10 November 1928. (Sumber: Colonialarchitecture.nl)

Proses konstruksi bagian pintu masuk yang berbentuk melengkung, April 1929. (Sumber: Colonialarchitecture.nl)

Rangka melengkung yang menetup peron, pintu sisi selatan dan utara dibuat menyerupai pintu masuk namun didesain lebih kecil. (Sumber: Colonialarchitecture.nl)

Pelaksanaan pembangunan mendekati rampung, bentuk bangunan sudah terlihat. Potret September 1929. (Sumber: Colonialarchitecture.nl)
Konstruksi pembangunan stasiun baru dikerjakan oleh kontraktor Hollandse Beton Maatschappij. Dua tahun berselang, tepatnya pada 8 Oktober 1929 Stasiun Batavia Benedenstad diresmikan. Sebuah upacara selamatan dilakukan pada pagi hari, pegawai pribumi sejumlah 500 orang berkumpul di Stasiun Batavia Nord. Untuk memeriahkan pembukaan, sebuah perayaan digelar dengan menghadirkan pertunjukan wayang dan beberapa penari ronggeng.
Pukul empat sore, dilakukan penguburan dua kepala kerbau di depan pintu masuk stasiun. Tujuannya supaya operasional stasiun terhindari dari marabahaya. Malam hari pukul sembilan, para pejabat dari Bandung maupun Jakarta yang didamingi pasangannya melakukan pesta. Mereka berdansa riang gembira diiring oleh dua pemain orkestra yang piawai memainkan musik. Kemeriahan pembukaan stasiun baru ini diberitakan surat kabar Bataviaasch Nieuwsblaad edisi 14 Oktober 1929.
Sementara itu, Koran Javabode yang terbit pada 17 Oktober 1929 menuliskan “Stasiun Jakarta berdiri layaknya sebuah monument yang disaksikan kepada kita dan penerus kita terkait apa yang harus dipahami mengenai ekonomi. Bangunan ini akan menjadi stasiun yang mengesankan dan dipandang sebagai salah satu stasiun tercantik di timur”.
Bangunan Stasiun Benedenstad terdiri dari dua lantai. Di lantai bawah, hall tengah sebagai pintu masuk utama pada sisi kanan dan kiri terdapat loket penjualan tiket. Di ujung hall terdapat pula dua buah anak tangga sebagai akses ke lantai dua. Ruangan di bagian selatan digunakan untuk beberapa kantor, tempat makan, dan ruang tunggu penumpang Kelas 1 dan Kelas 2. Sementara itu, sayap selatan bangunan dimanfaatkan untuk toilet, pintu keluar, dan Kantor Telegraf. Sedang sisi utara bangunan dipergunakan untuk gudang, tempat makan serta ruang tunggu penumpang Kelas 3. Sayap utara bangunan dipakai untuk toilet, pintu keluar utara, dan beberapa gudang.
Lantai atas dimanfaatkan sebagai kantor inspeksi yang mulai digunakan pada September 1929. Sebelumnya, kantor-kantor tersebut tersebar. Seperti kantor inspeksi Jalan dan Bangunan serta Traksi dan Peralatan awalnya terletak di Bukit Duri. Untuk kantor inspeksi Lalu Lintas dan Niaga sebelumnya berada di seberang Stasiun Kemayoran. Selanjutnya, pada Oktober 1935 Kantor Eksploitasi Barat yang mulanya berlokasi di Bandung turut di pindahkan ke Stasiun Jakarta Kota. Oleh karena itu beberapa ruangan di lantai bawah diubah menjad ruang kantor.
Stasiun ini memiliki desain bergaya Art Deco yang sedang trend sejak awal abad ke-20, Ghijsels menambahkan ornamen yang begitu detail pada bagian jendela dan pintu stasiun. Hasilnya, Stasiun Batavia-Benedenstad menjadi stasiun SS yang begitu megah dan terkesan terbuka kepada lingkungan sekitar. Stasiun ini juga menjadi karya Ghijsels paling monumental yang fungsinya tidak berubah sampai saat ini.
Stasiun Jakarta Kota telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang terdaftar di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dengan nomor registrasi RNCB.20050425.02.000582 berdasarkan Surat Keputusan Menteri No PM.13/PW.007/MKP/05 dan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No 475 Tahun 1993.

Bangunan baru Stasiun Jakarta Kota. (Sumber: KITLV 1400450)

Potret Stasiun Jakarta Kota tahun 1930-an. (Sumber: KITLV 84200)