
Sekilas Sejarah Stasiun Cirebon
Keberadaan kereta api di Karesidenan Cirebon erat kaitannya dengan manjamurnya pabrik gula di sepanjang pantai utara Jawa dari Semarang hingga Cirebon. Pengangkutan menggunakan sarana transportasi tradisional berupa pedati sudah tidak mampu lagi untuk mengangkut hasil produksi yang semakin meningkat.
Jaringan kereta api yang melintasi Karesidenan Cirebon dibangun oleh dua maskapai kereta api, yakni Staatssporwegen (SS) dan Samarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS). SS merupakan sebuah perusahaan kereta api negara sedangkan SCS perusahaan milik swasta.
Pada tanggal 3 Juni 1912 SS meresmikan operasional lintas kereta api Cikampek - Cirebon sepanjang 137 km. Bersamaan itu pula SS membuka untuk umum Stasiun Cirebon. Stasiun ini dirancang oleh arsitek Pieter Adriaan Jacobus Moojen.
Sebagai stasiun penghubung, Stasiun Cirebon merupakan stasiun satu sisi dimana emplasemen berada satu sisi dengan bangunan gedung. Gaya arsitektur bangunannya merupakan perpaduan dari ciri art deco dengan pengaruh arsitektur lokal. Gaya pengaruh art deco ditunjukkan dalam bentuk fasad atau tampak bangunan yang simetris dengan bagian tengah sebagai pusat dibangun lebih tinggi dan terletak tegak lurus terhadap jalan masuk.
Pada awal peresmiannya, pintu masuk stasiun berupa empat pintu melengkung yang dihiasi list dinding. Di pintu paling kiri digunakan sebagi loket penumpang sedangkan pintu paling kanan untuk bagasi. Hal ini dapat dilihat pada bagian depan menara, tepatnya diatas pintu pada awal pembukaan dipasang tulisan “KAARTJES” (karcis) di sebelah kiri dan “BAGAGE” (bagasi) di sebelah kanan.
Di bagian hall stasiun berupa ruang dengan langit-langit tinggi, sehingga berkesan luas. Pencahayaan didapatkan melalui deretan jendela kaca persegi yang terbuat dari kaca patri warna-warni yang dijumpai di atas fasad stasiun. Sebenarnya, ketika dalam proses pembangunan, sang arsitek berencana membuat gambar-gambar dari ubin yang menggambarkan kepulauan, namun rencana ini tidak dapat terlaksana. Sementara itu, emplasemen dan peron dinaungi atap lebar yang dibangun menggunakan rangka atap baja.
Saat ini Stasiun Cirebon merupakan Stasiun Besar A yang ramai dikunjung penumpang guna bepergian ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Jogja maupun Surabaya. Stasiun yang berada di ketinggian +4 mdpl ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang terdaftar di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dengan nomor registrasi RNCB.20100622.02.000798 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Nomor PM.58/PW.007/MKP/2010.

Jalur kereta api SS ditandai garis hitam-putih sedangkan jalur SCS digambarkan garis merah-putih. Stasiun SCS di Cirebon ialah Stasiun Cirebon Prujakan, peta tahun 1922. (Sumber: KITLV)

Fasad Stasiun Cirebon tahun 1912, di atas pintu ujung kiri terdapat tulisan “KAARTJES” sedangkan ujung kanan “BAGAGE”. (Sumber: Spoorwegstation op Java)

Suasana peron Stasiun Cirebon tahun 1913. Nampak lokomotif hendak memutar arah menggunakan turn table. (Sumber: KITLV)
Sumber:
Kitlv.nl
Majalah DKA Edisi Juni 1957
Marihandono, Djoko. Pembangunan Jalur Kereta Api dan Trem di Cirebon.
Michiel van Ballegoijen de Jong. Spoorwegstation op Java. Amsterdam: De Bataafschee Leeuw. 1993