Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
Sejarah Stasiun Kudus

Sejarah Stasiun Kudus

Stasiun
1 Juli 2026
by RIZKYA SELLY ANGGRAENY

ISI ARTIKEL

Sekilas Tram SJS

Perusahaan trem swasta, Samarang-Joana Stoomram Maatschappij (SJS) membuka jaringan trem di Kota Semarang lintas Semarang-Jomblang. Jalur sepanjang 4,4 km tersebut dibuka secara umum pada tanggal 1 Desember 1882 dengan lebar jalur 1.067 mm. Semula, lebar jalur yang akan digunakan ialah 914 mm.

Berbicara seputar trem, karateristik trem berbeda dengan kereta api. Trem memiliki lokomotif dan gerbong berukuran lebih kecil, kecepatan lebih rendah, kapasitas pengangkutan yang lebih kecil, dan jarak tempuh yang lebih dekat. Selain itu pembukaan jalur trem cukup diputuskan oleh kepala pemerintah setempat (residen), berbeda dengan jalur kereta api yang diputuskan oleh pemerintah pusat baik di Den haag maupun Jakarta.

Lebih lanjut, SJS meneruskan pembangunan jalur trem ke Juana. Pembangunan jalur Semarang-Juana berdasarkan Keputusan Gubernur tanggal 18 Maret 1881 Nomor 5. Proyek pembangunan jalur sepanjang 87,2 km terbagi menjadi lima seksi, yakni Semarang-Genuk, Genuk-Demak, Demak-Kudus. Kudus-Pati, dan Pati-Joana.

Tabel 1. Peresmian Jalur Semarang-Juana

No

Lintas

Panjang (km)

Peresmian

1

Semarang-Genuk

6,1

2 Juli 1883

2

Genuk-Demak

19,7

27 September 1883

3

Demak-Kudus

26,4

15 Maret 1884

4

Kudus-Pati

21,2

19 April 1884

5

Pati-Joana

13,8

19 April 1884

Sumber: Gedengkboek der Samarang-Joana Stoomram Maatschappij 1907

Ada hal menarik semasa pelaksanaan pembangunan. Mencuat rumor penculikan anak-anak kecil yang diperuntukan sebagai tumbal pembukaan jalur baru. Sehingga ketika menjelang malam, para orangtua melarang anaknya untuk keluar rumah. Rumor tersebut mulai lenyap pada permulaan abad ke-20.

Seksi tiga antara Demak-Kudus sepanjang 26,4 km diresmikan pada tanggal 19 April 1884. Bersamaan itu pula dibuka untuk umum Stasiun Kudus. Sebagai tempat perhentian guna naik-turun penumpang dan barang, di kota-kota besar SJS selalu mengupayakan penempatan stasiun sedekat mungkin dengan pasar. Selain stasiun, SJS membangun pula sebuah depo guna perawatan sarana kereta api. Bangunan Depo Stasiun Kudus memiliki satu jalur yang dilengkapi dengan ruang kerja dan gudang.

Lokasi Stasiun Kudus berada di pusat Kota Kudus, tidak jauh dengan Alun-alun Kota Kudus. Letak stasiun ini juga bersebelahan dengan sekolah khusus orang eropa. Stasiun Kudus ini juga berdekatan dengan Pabrik Gula Rendeng. Hal ini berkaitan dengan tujuan pembangunan jalur trem pada saat itu guna pengangkutan komoditas ekspor, utamanya gula. Sehingga jalur trem diupayakan melimtasi atau berdekatan dengan industri gula. 

 

Perpindahan Stasiun Kudus

Awalnya, Stasiun Kudus merupakan bangunan sederhana yang terbuat dari bahan kayu. Stasiun terdiri dari ruang tunggu terbuka serta bangunan kantor guna operasional stasiun. Sejalan dengan perkembangan Kota Kudus dilakukan penataan kota, salah satunya jalur trem dan Stasiun Kudus. Alhasil, SJS memindahkan jalur trem serta membangun stasiun baru di Wergu pada tahun 1919.

Perbandingan lokasi Stasiun Kudus awal dan lokasi baru, dilihat pada peta tahun 1915 dan 1946. Lokasi Stasiun Kudus ditandai lingkaran kuning. Nampak pula jalur trem yang semula melintas tengah kota bergeser ke sebelah kanan. (Sumber: Maps.library.leiden.edu)

Cetak biru awal bangunan Stasiun Kudus dan Depo Kudus. (Gedenkboek der Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij 1907)

Usulan pembangunan stasiun baru di Kudus kiranya sudah lama mencuat. Koran Bataviaasch Niewsblad terbitan 5 Agustus 1915 mewartakan mengenai pengambilalihan beberapa bidang tanah di Kudus guna keperluan pembangunan stasiun baru di Kudus milik perusahaan SJS.

Bangunan stasiun baru merupakan stasiun pulau dengan empat jalur yang memiliki kanopi besi besar. Pada kanopi besi dihiasi dengan kaca berwarna kuning. Besar kemungkinan karena letaknya di Wergu, stasiun ini populer pula dengan julukan Stasiun Wergu.

Bersumber pada jadwal perjalanan kereta api Officieele Reisgids voor Spoor en Tramwegen op Java yang dicetak tahun 1900, terdapat delapan trem yang berhenti di Stasiun Kudus. Trem tersebut ialah trem jurusan Semarang-Juana (2 pp), Semarang-Kudus (pp) dan trem dari Kudus menuju Juana (pp). Pada saat itu kecepatan rata-rata trem berkisar 25-30 km/jam. Perjalanan dari Kudus ke Semarang dapat ditempuh kurang lebih selama 3 jam sedangkan Kudus- Juana sekitar 2 jam. 

Biaya perjalanan trem dibedakan berdasarkan kelas. Pada tahun 1900, untuk perjalanan dari Kudus ke Semarang penumpang kelas 1 (Eropa) merogoh kocek sebesar 2 gulden. Dengan rute yang sama, penumpang kelas 2 (timur asing: Cina, Arab) membayar tiket kereta 1 gulden, dan tarif penumpang kelas 3 (campuran dan pribumi) cukup mengeluarkan uang 0,5 gulden. Sementara itu biaya barang per 10 kg adalah 0,15 gulden.

Barang yang banyak diangkut trem SJS ialah komoditi ekspor, utamanya gula. Dalam laporannya tahun 1930, Residen Semarang, P. J. Bijleveld mewartakan pada musim pengiriman gula dari pabrik ke pelabuhan angkutan barang trem milik SJS sangat sibuk. Selain gula, barang yang banyak diangkut ialah garam, tabak, dan kopi.

Jadwal perjalanan beserta tarif trem Semarang-Joana tahun 1900. (Sumber: Officieele Reisgids voor Spoor en Tramwegen op Java yang dicetak tahun 1900)

Suasana Stasiun Kudus sekitar tahun 1936

Paska kemerdekaan, Stasiun Kudus menjadi stasiun teramai di lintas Tenggang-Juana-Pecangan Kayu. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penumpang dan barang kurun tahun 1950-1952. Meski mengalami penurunan penumpang, stasiun ini masih memiliki jumlah penumpang terbanyak.

Tabel 2. Perbandingan Jumlah Penumpang dan Barang Tahun 1905-1952

Stasiun

Penumpang

Barang (ton)

1950

1951

1952

1950

1951

1952

Kudus

729.087

451.798

377.258

11.090

13.163

10.787

Demak

319.985

216.553

210.709

2.418

1.807

194

Juana

232.775

330.255

340.725

11.235

15.424

15.165

Sumber: Djawatan Kereta Api di Indonesia Statistik Tahunan 1950-1951-1952

Guna menentukan fasilitas dan kondisi kebutuhan pengangkutan di stasiun, Djawatan Kereta Api (cikal bakal PT KAI) mengklasifikasikan kelas stasiun. Klasifikasi stasiun ditetapkan melalui Surat Keputusan DDKA No. 20493/BB/54 tanggal 16 Maret 1954 tentang klasifikasi stasiun menjadi 6 kelas, yakni Stasiun Besar, Stasiun Kelas 1, Stasiun Kelas 2, Stasiun Kelas 3, Stasiun Kelas 4, dan Stasiun Kelas 5. Berdasarkan SK tersebut, Stasiun Kudus masuk dalam kategori stasiun kelas 2.

Tahun 1980-an Stasiun Kudus berhenti beroperasi akibat mulai turunnya jumlah penumpang dan kalah pamor dengan kendaraan darat lainnya. Setelah tidak beroperasi, lahan Stasiun Kudus disewa oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kudus dan disulap menjadi pasar pada tahun 1993. Pasar ini digunakan pemerintah guna merelokasi pedagang di Pasar Johar dan menampung para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang merebak di pusat kota.

Keadaan Stasiun Kudus tahun 1900. (Spoorwegststion op Java)

Baru pada tahun 1996 pasar para pedagang mulai menempati pasar di Stasiun Kudus. Dalam perkembangannya Pemda Kudus memperluas daerah pasar sampai tiga kali lipat luas stasiun. Pasar ini pun menampung pedagang-pedagang sepeda dan mebel dari Pasar Bitingan dan pedagang  unggas dari Pasar Kliwon yang jumlahnya tidak sedikit.

Pasar Tradisonal Wergu di Stasiun Kudus. (Sumber: Kaskus.co.id)

Sumber:

  • Bataviaasch Niewsblad, terbitan 5 Agustus 1915

  • Djawatan Kereta Api di Indonesia Statistik Tahunan 1950-1951-1952

  • Gedenkboek der Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij 1907

  • Liem Thian Joe, Riwayat Semarang 1416-1931, Semarang: Boekhandel Ho Kim Yoe, 1933

  • Maps.library.leiden.edu

  • Marihandono, Djoko dkk, Dari Konsensi ke Nasionalisai: Sejarah Kereta Api Cirebon-Semarang, Bandung: PT KAI, 2016

  • Memori Residen Semarang (P. J. Bijlevid), 2 Juni 1930

  • Michiel van Ballegoijen de Jong, Spoorwegststion op Java, Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 1993

  • Officieele Reisgids der Spoor en Tramwegen en Aanslutende Automobieldiensten op Java en Maodera, 1 Januari 1900

  • Romdlani, Nurul, “Pengelolaan dan Pemanfaatan Tanah Perusahaan Kereta Api di Wergu Wetan Kabupaten Kudus Tahun 1965-1998”, Skripsi Ilmu Sejarah UGM, 2012

Bagikan ke: