Pesan tiket perjalananmu kini lebih mudah di KAI.

Pesan Sekarang!
KAI Logo
Riwayat Stasiun Solo Balapan

Riwayat Stasiun Solo Balapan

Stasiun
2 Juli 2026
by RIZKYA SELLY ANGGRAENY

ISI ARTIKEL

Stasiun Solo Balapan dibangun oleh perusahaan kereta api swasta Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Perusahaan inilah yang kali pertama membangun jalur kereta api di Indonesia dengan lintas Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta). Tujuan pembangunan jalur kereta api tersebut bertalian dengan kepentingan ekonomi dan militer. 

Pembangunan Stasiun

Lokasi Stasiun Solo Balapan menempati lahan milik Pangerang Mangkunegoro IV. Tempat ini dulunya berdekatan dengan arena balapan, salah satunya untuk pacuan kuda. Kuat dugaan embel-embel “balapan” melekat pada nama stasiun ini.

Pada tahun 1866, lahan tersebut diratakan dan ditinggikan guna mencegah air menggenang ketika memasuki musim penghujan. Untuk pelaksanaan pekerjaan perkeretaapian di Solo, dikerahkan lebih dari  1.200 tenaga kerja upahan.[1]

Pada akhir tahun 1866, bangunan rumah kepala stasiun telah rampung namun pembangunan stasiun masih terus berlanjut.[2] Medio tahun 1867 pekerjaan interior bangunan stasiun tengah dipersiapkan. Setahun berselang, bangunan stasiun yang cukup sederhana mendekati selesai, menyisakan pekerjaan pembangunan hall.[3] 

De Jonge dalam Staatssporwegen op Java menyatakan, stasiun-stasiun pertama milik NIS sangat sederhana dan kecil. Seringnya terbuat dari bambu dan kayu, bangunan lebih besar terbuat dari batu yang terkadang disertai dengan bangunan hall. Sebabnya, NIS merupakan perusahaan swasta yang mengutamakan kepentingan ekonomi. Fokus utamanya ialah pengangkutan gula.

Meski belum rampung seutuhnya, Stasiun Solo Balapan dibuka untuk umum pada tanggal 10 Februari 1870.[4] Berbarengan dengan peresmian jalur kereta api dari Kedungjati menuju ke Solo. Penghujung tahun, NIS masih melanjutkan beberapa bangunan untuk layanan operasi.[5]

Peta lokasi Stasiun Solo Balapan tahun 1873.  (Sumber: KITLV)

Awal beroperasi, stasiun ini melayani empat perjalanan kereta api. Dua kereta api tujuan Semarang (Kereta Nomor 1 dan 3) serta sisanya kereta api dari arah Semarang (Kereta Nomor 2 dan 4). Kala itu kereta api belum menggunakan nama seperti sekarang melainkan hanya melalui penomoran. Perjalanan kereta api dari Semarang ke Solo atau sebaliknya dapat ditempuh sekitar tiga setengah sampai empat jam.

Kereta api melayani angkutan barang dan penumpang. Barang-barang dari pedalaman dikirim ke pelabuhan di Semarang. Sebagian besar merupakan komoditas hasil perkebunan dan pertanian. Tercatat, pada tahun 1870 NISM mengangkut hasil perkebunan berupa 9.039 ton gula, 3.248 ton kopi, 273 ton tembakau, dan 83 ton indigo. Sedang hasil pertanian meliputi 12 ton padi, 9 ton kapuk, 5 ton beras. Berbagai barang lain yang turut diangkut adalah batu, kayu, kulit, dan berbagai barang lain.[6]

Sementara itu, barang yang diangkut dari pelabuhan ke daerah pedalaman antara lain kain, minuman, daging, mebel, tepung, minyak tanah, dan lain-lain. Tahun 1870 keseluruhan barang yang dibawa sebesar 1.824 ton.

Penumpang kereta api terbagi menjadi tiga golongan, yakni Kelas 1, Kelas 2, dan Kelas 3. Pada tahun 1873, Stasiun Solo Balapan melayani 97.154 penumpang kereta api. Rinciannya meliputi Kelas 1 sejumlah 1.366 orang, Kelas 2 sebesar 5.276 orang, dan Kelas 3 sebanyak 90.512 orang.[7]

Tiket Kelas 1 lebih mahal dibanding Kelas 2 maupun Kelas 3. Dengan trayek yang sama, misal antara Solo-Semarang pada tahun 1898 harga tiket Kelas 1 sebesar 6,5 gulden. Sedang tiket Kelas 2 seharga. Sementara itu penumpang Kelas 3 hanya cukup merogoh kocek 1,6 gulden.[8]

Jadwal perjalanan kereta api Semarang-Solo pp tahun 1870. (Sumber: De Locomotief edisi 25 Februari 1870)

Perbaikan Kondisi Perkeretaapian di Solo

Tak lama berselang, di Kota Solo dibangun dua stasiun kereta api baru. Adalah Stasiun Purwosari milik NISM yang dibuka tahun 1872 dan Stasiun Solo Jebres (1884) yang dikelola oleh perusahaan kereta api negara, Staatsspoorwegen (SS). Pada tahun 1911, NISM mengakuisisi jalur trem rute Solo-Boyolali milik Solosche Tramweg Maatschappij (STM).

Dalam perkembangannya, jumlah penumpang serta tonase barang yang diangkut stasiun-stasiun di Solo kian meningkat. Aktivitas perkeretaapian pun semakin komplek dan ramai. Beberapa rumah dinas di sekitar stasiun dianggap pula sudah tidak memadai lagi. Sehingga dirasa dilakukan perluasan dan renovasi stasiun.

Paska pengalihan jalur trem STM, NISM berencana mendirikan bangunan baru di Stasiun Solo Balapan. Akan tetapi SS keberatan. Pihak NISM dan SS pun sepakat bertemu menyelesaikan permasalahan perkeretaapian di Solo. Kepala Eksploitasi SS, Mr. Weijerman beserta Kepala Inspeksi SS berangkat menuju Solo menemui pejabat NISM. Pertemuan yang berlangsung pada Rabu, 2 April 1913 menghasilkan kesepakatan bahwa NISM dan SS akan membangun stasiun besar di Solo yang digunakan bersama.[9]

Stasiun baru yang sangat besar ini rencananya dibangun di antara Stasiun Solo Balapan dan Stasiun Purwosari. Nantinya, Stasiun Solo Balapan hanya akan difungsikan sebagai tempat pengiriman barang dan stasiun langsir. Sedang atap Stasiun Purwosari akan digunakan untuk stasiun baru yang akan dibangun di daerah Maguwo.[10]

Namun rencana pembangunan stasiun terpadu kian tenggelam. Salah satu alasannya berkaitan dengan penataan tata ruang Kota Mangkunegaran. Lokasi bekas pacuan kuda di belakang Stasiun Solo Balapan dialihfungsikan sebagai perumahan bagi orang Eropa yang dikenal dengan Villa Park pada Maret 1920.[11] Stasiun Solo Balapan kian sangat strategis berdekatan dengan perumahan elit. Bahkan keberadannya dianggap menambah wibawa Stasiun Solo Balapan.

Akhrinya NISM melakukan renovasi dengan memperluas dan memodernisasi Stasiun Solo Balapan. Bangunan stasiun berbentuk memanjang dengan hall berada di tengah yang berfungsi sebagai pelayanan karcis dan bagasi. Sementara itu sayap bangunan sisi barat digunakan untuk ruang kepala stasiun, kantor telegram dan ruang tunggu Kelas 1 dan 2 beserta restoran. Sedang sayap sisi timur terdapat gudang dan ruang tunggu penumpang Kelas 3. 

Bangunan hall Stasiun Solo Balapan. (Sumber: Harmoni Dalam Perbedaan: Bank Indonesia Dalam Dinamika Ekonomi Solo Raya)

Menariknya, di ujung peron sisi timur terdapat stasiun transit milik SS, yakni Stasiun Kraton (Sko). Perhentian ini memiliki lima buah ruangan yang masing-masing difungsikan sebagai: ruang tunggu, tempat pembelian karcis, kantor kepala stasiun dan telegram, serta ruang pengambilan dan penumpukan barang.

Seperti telah disebut diatas, NISM melayani pengangkutan kereta dari Semarang-Solo-Yogyakarta. Sedang SS, mengadakan perjalan dari Solo ke Surabaya. Meski antara Jakarta-Surabaya sudah terhubung jalur kereta api awal tahun 1890-an namun harus bergonta-ganti kereta. Berangkat dari Jakarte ke Bogor menggunakan kereta NISM, lanjut ke Bandung-Maos-Yogyakarta menaiki kereta SS. Kemudian, antara Yogyakarta-Solo menumpang kereta NISM. Kemudian dari Solo menuju Surabaya menggunakan kereta SS.

Adanya stasiun transit milik SS di kawasan Stasiun Stasiun Solo Balapan memudahkan perpindahan penumpang kereta api. Hal ini juga bentuk kerja sama kedua pihak antara SS dan NISM.

 

Buah Karya Arsitek Kenamaan, Ir. Thomas Karsten

Kurun tahun 1917-1920, kraton milik Pangeran Mangkunegaran VII diperluas dan dimodifikasi. Penanggung jawabnya ialah arsitek tersohor, Herman Thomas Karsten.[12] Stasiun Balapan pun tak luput mendapat sentuhan Karsten.

Melalui biro arsitektur Karsten en Schouten, Karsten merancang sebuah bangunan baru di depan Stasiun Solo Balapan. Gedung hall berukuran 15 x 15 meter dengan bangunan sayap tersebut bergaya asritektur Indo Eropa, yakni perpaduan antara arsitektur modern Eropa dan arsitektur setempat.[13]  Gaya arsitektur lokal termuat dari atap bangunan utama yang menggunakan model rumah joglo.

Awal Januari 1926 pembangunan dimulai. Di bawah pengawasan Mr. Abbing, bangunan baru dirampungkan selama setahun dengan menelan biaya seratus ribu gulden. Bangunan hall difungsikan sebagai loket bersama antara NISM dan SS. Total terdapat delapan buah loket, enam untuk harian serta dua sebagai loket tambahan yang digunakan ketika jam sibuk. Sementara itu, bangunan sayap sisi barat digunakan tempat bagasi dan ruang pengiriman barang.[14]

Bangunan loket hasil rancangan Thomas Karsten, potret tahun 1927. Tampak atap berbentuk joglo. (Sumber: Spoorwegstations op Java)

Lantai di kedua bangunan menggunakan ubin yang dipasok dari Pabrik Kitri. Sedang atap menggunakan konstruksi bermaterial besi dan ditutup oleh seng. Keberadaan bangunan baru ini mempermudah penumpang dalam membeli tiket kereta SS maupun NISM. Sebelumnya, loket NISM dan SS berada di tempat berbeda dengan jarak yang cukup jauh sehingga penumpang sering terlambat. Mulai awal Januari 1927 pelayanan tiket SS di Stasiun Kraton pun ditutup.[15]

Dalam perkembangannya, Stasiun Solo Balapan semakin ramai. Dalam kunjunganya ke Stasiun Solo Balapan tahun 1928, Gubernur Jenderal Hindia Belanda de Graeff menyatakan bahwa Stasiun Solo Balapan sebagai stasiun paling strategis di Solo. [16]

 

Masa Perang Kemerdekaan

Salah satu amanah Proklamasi 17 Agustus 1945 ialah pemindahan kekuasaan akan dilaksanakan secepatnya. Dalam bidang perkeretaapian, tentrara serta para pegawai kereta yang didominasi pemuda sigap melaksanakan pengambilalihan sarana dan prasarana kereta api.

Di Jawa Tengah, pengambilalihan berpusat di Kantor Eksploitasi Tengah yang beradi di Gedung Lawang Sewu. Bulan September 1945 Lawang Sewu berhasil dikuasi oleh pegawai kereta serta tentara Indonesia.

Pengambilan kekuasaan perkeretaapian di Stasiun Solo Balapan dan sekitarnya direalisasikan oleh beberapa pemuda kereta api. Mereka adalah Joko Sulaiman, Mr. Sudikman, Haryono, dan Harwanto yang saling bertemu membahas perebutan perkeretaapian.

Esok paginya, mereka memasuki kantor guna menjelaskan kepada tentara Jepang dengan tujuan mengambilalih. Di luar, anggota pemuda bersiap sedia dengan membawa senjata bermacam-macam. Tanpa ada insiden, rupanya pengambilalihan stasiun dan dipo berjalan lancar.[17] Selanjutnya atas persetujuan pegawai dipo dijalankan kereta api menuju ke Salam. Dikarenakan di sana pasukan Jepang menyimpang barang-barang keperluan perang yang lengkap.

Di Semarang, terjadi pertempuran antara para pejuang dengan sisi pasukan Jepang yang meletus pada14 Oktober. Lima hari berselang pertempuran selesai namun tak berlangsung lama pasukan sekutu datang. Untuk menghindari dari serbuan pasukan seketu, Kantor Eksploitasi Tengah diungsikan ke Stasiun Kedungjati.

Selanjutnya, kantor kembali diungsikan pada maret 1946. Beserta segenap para pegawai, Kantor Eksploitasi Tengah dipindahkan ke Solo. Karena keterbatasan area, beberapa dinas disebar di beberapa tempat. Beberapa ruangan di Stasiun Solo Balapan dialihfungsikan untuk kepentingan Dinas Lalu Lintas dan sebagian dari Kantor Keuangan. Dinas Persediaan menempati salah satu gudang di Stasiun Solo Balapan. Dua tahun selepasanya, didirikan bangunan semi permanen di emplasemen stasiun untuk keperluan Dinas Jalan dan Bangunan serta Dinas Traksi.[18]


 

Superskrip:

[1] Java Bode, 25 April 1866

[2] De Locomotief, 726 Desember 1866

[3] Java Bode, 22 Februari 1868

[4] Reitsma, Korte Geschidenis SS

[5] Bataviaasch Handelsblad, 28 Desember 1870

[6] Peranan dan Perkembangan KA di Jalur Semarang-Solo 47-48

[7] Verslag van den Raad van Beheer der NISM 1873

[8] Officieele Reisgids 1898, hal. 30

[9] “Het Station te Solo”, Het Nieuws van den Dag, edisi 4 April 1913

[10] “De Stationsplannen te Solo”

[11] “De Solosche Races”, Bataviaasche Nieuwsblad edisi 22 april 1920

[12] Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia, hal. 44

[13] Arsitektur Gaya “Indo Eropa” Tahun 1920-an di Indonesia, hal. 85

[14] “Een Stationsverbetering”, De Indisch Courant edisi 6 Desember 1926

[15] “De Stations te Solo”, De Indisch Courant edisi 31 Desember 1927

[16] Nalika Tanah Jawa Sinabukan Ril, hal. 337

[17] Pengambilalihan Kekuasaan Kereta Api di Lingkungan Jawa Tengah, hal 51

[18] Mosaik Perjuangan Kereta Ap IVi: Perjuangan KA Jawa Tengah

Bagikan ke: