
Kisah Stasiun Padang
Perusahaan kereta api negara Staatssporwegen ter Sumatra Westkust (SSS) membangun jalur kereta api di Sumatera guna pengangkutan batu bara. Jalur yang dibangun ialah dari Padang ke Sawahlunto melalui Padang panjang, berdasar Undang-undang 6 Juli 1887 Lembaran Negara Nomor 163.
Tahap awal, SSS membangun jalur Puluaer-Padang Panjang. Proyek ini dipimpin oleh J. W. Ijzerman, seorang insinyur jalan kereta api. Dalam pelaksanaan pembangunan melibatkan tenaga kerja yang berasal dari orang-orang Minang, Nias, Jawa dan Cina.
Pada tanggal 1 Juli 1891 diresmikan jalur jalur Puluaer-Padang Panjang sepanjang 71 km. Gubernur O. M de Munnick beserta rombongan menaiki kereta api dari Stasiun Padang, bersamaan ini dibuka untuk umum Stasiun Padang.[1] Pada tanggal 1 Oktober 1892 dibangun persimpangan jalur dari Padang ke Pelabuhan Teluk Bayur sepanjang 7 km.
Stasiun padang awalnya merupakan sebuah bangunan sederhana dengan penutup peron berbahan besi. Halaman depan stasiun merupakan area yang luas guna tempat parkir cikar maupun dokar. Tidakjauh dari stasiun, SSS membangun balai yasa untuk perbaikan sarana kereta api.
Tahun 1900 terdapat empat perjalanan kereta Padang-Padang Pajang, pun sebaliknya. Penumpang kereta api dibagi menjadi Kelas 1 (orang asing) dan Kelas 2 (pribumi). Selain batu bara, barang yang diangkut berupa komoditi ekspor seperti kopi, kayu manis dan kopra.
Stasiun Padang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan Surat Keputusan Walikota Padang Nomor 03 Tahun 1998.

Tampak peron Stasiun Padang tahun 1915. (Sumber: KITLV 402225)

Kesibukan kusir delman menanti penumpang di Stasiun Padang tahun 1935. (Sumber: KITLV 52707)
Sitasi:
[1] Abrar, “Angkutan Kereta Api dan Perkembangan Ekonomi Sumatera Barat 1887-1940”, Tesis Sejarah UI, 1996, hal. 38