
Kisah Stasiun Semarang Tawang
ISI ARTIKEL
Stasiun Pertama: Samarang
Semarang dapat dikatakan sebagai kota kereta api penting, sebagai kota tempat kelahiran kereta api di Indonesia. Kehadiran kereta api ditandai dengan pencangkulan pertama pembangunan oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda, Mr. L. A. J Baron sloet Van den Belee pada tahun 1864. Pembangunan jalur kereta api dengan lebar sepur 1435 mm ini dilaksanakan oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), lintas Tanggung-Kemijen berhasil dirampungkan pada 10 Agustus 1867. Selanjutnya, NISM melanjutkan pembangunan jalur kereta api ke daerah Vorstenlanden (Yogyakarta dan Surakarta) dan selesai tahun 1872.

Stasiun Samarang NIS, stasiun pertama di Indonesia. (Sumber: KITLB 19197)
Pengangkutan kereta api oleh NISM lintas Semarang-Solo-Yogya ramai pengguna, terutama diperuntukan bagi angkutan gula. Bisnis angkutan barang dari hasil panen perkebunan di wilayah Vorstenlanden memberi pemasukan berlebih untuk NISM. Kegiatan administrasi kantor pusat [1] NISM di stasiun pun semakin sibuk. Stasiun Samarang menjadi lebih ramai dengan jadwal kedatangan dan keberangkatan kereta api. Karena selain untuk kereta api barang, Stasiun Samarang sejak awal juga melayani penumpang antar kota. Sayangnya Stasiun Samarang dulu dibangun di bekas tanah rawa. Genangan banjir sering melanda areal stasiun apabila terjadi pasang air laut.
Pembangunan Stasiun Baru: Semarang Tawang
Untuk mengatasi permasalahan di Stasiun Samarang, direksi NISM sepakat memindahkan kantor pusat dan memisahkan pelayanan penumpang dan barang melalui dua stasiun. Kantor Pusat NISM yang baru dipilih pada lokasi sebidang tanah luas yang waktu itu masih di pinggir kota. Untuk meningkatkan pelayanan serta menampung jumlah penumpang lebih banyak, NISM membangun sebuah stasiun baru: Stasiun Tawang. Stasiun ini nantinya diperuntukan bagi angkutan penumpang sedangakan Stasiun Samarang[2] kemudian dikhususkan sebagai stasiun bongkar muat barang.

Letak Stasiun Samarang NIS ditandai lingkarang berwarna hijau sedangkan rencana lokasi Stasiun Tawang ditandai lingkaran berwarna biru, peta tahun 1914. (Sumber: Colonialarchitecture.eu)
Stasiun Tawang dirancang oleh arsitek Belanda Sloth-Blauwboer dan diresmikan pada tanggal 1 Juni 1914. Sebelumnya, pada tahun 1911 dilakukan peletakan batu pertama oleh Anna Wilhelmina van Lennep, putri Kepala Teknisi di NISM. Lokasi Stasiun Tawang cukup strategis, terletak di sebelah utara kawasan Kota Lama Semarang yang pada saat itu mejadi pusat perdagangan di Semarang. Kendati berlokasi strategis, wilayah di utara Kota Lama Semarang masih berupa rawa dengan tanah yang labil. Untuk mengatasi hal tersebut, sebelum dilaksanakan pembangunan dilakukan pemadatan tanah menggunakan lempengan pelat beton selama berbulan-bulan.
Bangunan stasiun didirikan menggunakan konstruksi beton bertulang. Bentuk bangunan stasiun memanjang sekitar 168/175 meter, terdiri atas bagian utama di tengah sebagai vocal point yang dibuat lebih tinggi. Bangunan utama tersebut memiliki kubah besar berbentuk persegi yang atapnya ditutup dengan lapisan tembaga. Di dalam bangunan utama stasiun merupakan hall dengan langit-langit tinggi yang di sangga oleh empat kolom utama, sepintas mirip dengan bagian tengah pendopo joglo (rumah adat Jawa).
Interior hall dihiasi relief perunggu karya pemahat Willem Brouwer dari Leiderdorp. Di dalam hall terdapat tiga buah konter loket guna penumpang membeli tiket kereta api. NIS juga menyediakan sebuah kios besar yang menjual koran dan buku Disekeliling atap kubah terdapat jendela yang memberikan pencahayaan untuk hall, sehingga memperkuat kesan megah pada ruangan. Selain itu, jendela pada sekeliling kubah digunakan juga sebagai ventilasi udara. Pencahayaan juga didapatkan dari jendela pada fasad bangunan utama yang terpasang kaca dari perusahaan J. H. Schouten di Den Haag.

Stasiun Semarang Tawang sekitar Tahun 1910-1920. (Sumber: Tropenmuseum.nl)
Sementara itu, di kedua sisi bangunan utama terdapat konstruksi besi berbentuk pelana buatan Werkspoor, Amsterdam. Atap bangunan tersebut ditutupi dengan genteng buatan Stoom Pannen fabriek van Echt. Sayap bangunan bagian kanan merupakan ruang tunggu kelas satu, ruang kepala stasiun, ruang sinyal serta ruang operasional. Sedangkan sayap kiri digunakan sebagai ruang tunggu kelas dua dan tiga yang pada masa kolonial diperuntukan bagi pribumi. Di ruang tunggu penumpang

Peron Stasiun Tawang sekitar tahun 1920-1940. (Sumber: Tropenmuseum.nl)

Tampak samping Stasiun Semarang Tawang tahun 1927. (Sumber: KITLV 34583)

Suasana ruang tunggu di Stasiun Tawang sekitar tahun 1910-1920. (Sumber: Tropenmuseum.nl)

Rangkaian kereta api tengah menunggu penumpang di Stasiun Tawang pada Mei 1939. (Sumber: NVBS)
Sumber:
Colonialarchitecture.eu
Het Nieuwe NIS Station te Semarang dalam Bataviasche Niuwesblad, 2 Juni 1914
Jong, Michiel van Ballegoijen de. Spoorwegstations op Java. De Bataafsche Leeuw, 1993
Kitlv.nl
Purbohadisaputro. Mosaik Perjuangan Kereta Api 1945, Jilid II. Jakarta: Purbohadisaputro, 1991
Tim Telaga Bakti Nusantara. Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid I, Bandung: Asosiasi Perkeretaapian Indonesia, 1997
Tropenmuseum.nl
[1] Kantor Pusat NISM dibangun pada 27 Februari 1904 dan berhasil dirampungkan pada Juli 1907. Bangunan ini didesain oleh arsitek terkenal dari Belanda yaitu Prof. Klinkhamer, BJ Oendaag. Kini, bangunan ini dikenal dengan Lawang Sewu.
[2] Pada peta tahun 1922, lokasi Stasiun Samarang tertulis sebagai Goederen Station (stasiun barang). Stasiun ini dikenal juga dengan Stasiun Spoorlan yang diperuntukan sebagai stasiun barang, lihat Purbohadisaputro dalam Mosaik Perjuangan Kereta Api 1945 Jilid IV: Perjuangan KA JAwa Tengah