
Kereta Api Padang-Sawahlunto
ISI ARTIKEL
Sekilas Kondisi Sumatera Barat
Wilayah Sumatera Barat atau tersohor pula dengan alam Minangkabau terletak di belahan barat bagian tengah Pulau Sumatera. Daerah ini berupa dataran tinggi yang membentang antara Bukit Barisan bagian tengah yang membujur dari utara ke selatan serta dataran rendah yang menghadap ke arah Samudera Hidia di sepanjang Pantai Barat.
Sumatera Barat merupakan daerah yang subur. Potensi ekonomi daerah ini meliputi pertanian dan perkebunan. Meliputi padi, kopi, kayu manis, gambir, tembakau, dan kopra. Hasil komoditi ini dianggkut menggunakan alat transportasi yang masih sederhana.
Semula, pengangkutan di wilayah Sumatera Barat menggunakan tenaga penggerak dari manusia dan kuda, seperti dokar dan pedati. Alat transportasi tersebut dirasa tidak efektif. Pada saat itu, dengan berjalan kaki dari Agam menuju Padang membutuhkan waktu tempuh lima atau enam hari.
Emas Hitam Sawahlunto
Pembangunan jalur kereta api di Sumatera Barat berhubungan erat dengan emas hitam, batu bara. Adalah H. W. de Greve, seorang ahli geologi yang menemukan kandungan batu bara di Ombilin, Sawahlunto sekitar tahun 1868. Selanjutnya, menurut penelitian Verbeek pada tahun 1875, diduga terdapat kuang lebih 200 juta ton batu bara di daerah tersebut.
Sejak ditemukan kandungan batu bara, J. L. Cluysenar memimpin sebuah tim yang meneliti bagaimana cara mengangkut batu bara tersebut secara murah ke pantai barat di Sumatera. Hasil laporan terbit pada tahun 1875. Cluysenar mengusulukan pembangunan jalur kereta api dari Muaro Kalaban ke Padang melalui Solok menembus Bukit Barisan.
Usulan Cluysenar ditolak, mengingat kesulitan jalur yang aka dibangun dengan biaya yang tinggi. Tiga tahun berselang, Cluysenar menyarankan pembangunan melewati Lembah Anai menggunakan jalur kereta bergigi.
Sama seperti pembangunan jalur kereta api di Jawa, mencuat perdebatan siapa yang akan membangun, pemerintah ataukah swasta. Disepakati bahwa pemerintahlah yang akan membangun, perusahaan kereta api pemerintah, Staatsspooregen ter Sumatra’s Westkust (SSS).
Lintas Padang-Bukittinggi
Adalah J. W. Ijzerman, staff insinyur jalan kereta api di Jawa yang memimpin proyek pembangunan jalur kereta api di Sumatera Barat. Jalur awal yang dibangun ialah Padang-Bukittinggi yang terbagi ke dalam empat bagian. Pertama dari Bukit Putus ke Duku, kedua Duku-Kayu Tanam, ketiga dari Kayu Tanam hingga Padang Panjang, dan Keempat dimulai di Padang Panjang menuju Bukittinggi.
Mulai dari Kayu Tanam dipergunakan rel bergigi karena jalur mulai menanjak. Pada tanggal 1 Juli 1891 jalur Padang-Padang Panjang berhasil dirampungkan. Sebelum digunakan secara umum, Gubernur O. M. de Munnick dan rombongan meresmikannya dengan menaiki kereta api berangkat dari Stasiun Padang ke Padang Panjang.
Empat bulan kemudian, tepatnya 1 November 1891 jalur Padang Panjang-Bukittinggi sepajang 19 km diresmikan. Total keseluruhan pembangunan Padang-Bukittinggi mencapai 18,3 juta gulden.
Selama proses pembangunan, tenaga kerja yang digunakan merupakan tenaga upah yang berasal dari orang-orang Minang, Nias, Jawa, dan Cina.

Kesibukan di Stasiun Padang sekitar tahun 1910. (Sumber: media-kitlv.nl)
Lintas Padang Panjang-Muaro Kalaban
Jalur yang kemudian digarap SSS ialah dari Padang Panjang menuju Muaro Kalaban. Jalur tersebut dibagi menjadi tiga bagian yaitu Padang Panjang-Kacang, dari Kacang menuju Solok, dan dari Solok hingga Muaro Kalaban.
Jalur Padang Panjang-Solok sepanjang 53 km diresmikan pada 1 Juli 1892. Antara Kubu Puding dan Batu Tabal digunakan pula jalur bergigi. Sedang jalur sepanjang 23 km dari Solok menuju Muaro Kalaban dibuka untuk umum pada 1 Oktober 1892.

Para pegawai SSS berpose di Stasiun Padang Panjang sekitar tahun 1890-an. (Sumber: media-kitlv.nl)
Lintas Muaro Kalaban-Sawahlunto
Pembangunan selanjutnya, guna mencapai lokasi tambang di Sawahlunto dibangun jalur kereta api dari Muaro Kalaban ke Sawahlunto. Jalur dengan Panjang 4 km tersebut diresmikan pada tanggal 1 Januari 1894.

Potret Stasiun Sawahlunto sekitar tahun 1890-an. (Sumber: media-kitlv.nl)
Lokomotif “Mak Itam”
Sebagai penarik rangkaian kereta, salah satu lokomotif yang dibeli SSS ialah Lokomotif Uap tipe E10. Kurun tahun 1921-1928 didatangkan 22 lokomotif tipe E10 dengan nomor 4-25 dari Pabrik Esslingen dan SLM. Selanjutnya tahun 1964-1966 kembali didatangakan 20 Lokomotif E10 dari Pabrik Esslingen. Di tahun 1967 dibeli 7 unit lokomotif tipe yang sama dari Pabrik Nippon Sharyo Jepang.
Salah satu Lokomotif tipe E10 yang masih ada ialah Lokomotif Uap E1060. Lokomotif yang disebut Mak Itam ini merupakan buatan Pabrik Esslingen, Jerman yang didatangkan tahun 1966. Lokomotif ini memiliki roda gigi yang bertugas mengait rel bergigi.

Dimensi Lokomotif Uap E10. (Sumber: De Stoomtractie Op Java En Sumatra)
Paska era lokomotif uap berakhir pada 1981, berangsur-angsur lokomotif uap diganti dengan lokomotif diesel pada kurun tahun 1981-1984. Sejak saat itu pula Mak Itam mengakhiri masa tugasnya sebagai penarik kereta api penumpang dan barang dan lebih banyak digunakan untuk kereta api wisata rel bergerigi rute Kayutanam-Padangpanjang-Tabal.
Pada tahun 1998, Mak Itam diboyong ke Museum Kereta Api Ambarawa, Jawa Tengah dalam kondisi rusak. Setelah diperbaiki, lokomotif berkekuatan 750 tenaga kuda itu melayani kereta wisata rute Ambarawa–Jambu. Lokomotif tersebut tidak melalui jalur bergigi menuju Bedono karena roda gigi di bagian bawah lokomotif tidak sesuai dengan lubang-lubang bergigi di atas jalur rel.
Desember 2008, lokomotif uap Mak Itam kembali pulang ke Sawahlunto atas permintaan dari Pemerintah Kota Sawahlunto. Di sana ia dijadikan sebagai penarik kereta api wisata rute Sawahlunto–Muara Kalaban (7 km) untuk melengkapi wisata tambang dan wisata kota tua di Sawahlunto.
Pada tahun 2017, Lokomotif Mak Itam ditetapkan sebagai benda cagar budaya berdasarkan Keputusan Walikota Sawahlunto Nomor: 188.45/327/WAKO-SWL/2017.
Saat ini, Lokomotif Mak berada di Depo Sawahluto dan masih bisa berjalan di emplasemen Sawahlunto Rail and Train Museum. Namun kondisi pipa api lokomotif ini terdapat beberapa kebocoran sehingga perlu dilaksanakan perwatan dan perbaikan agar maksimal dijalankan kembali.

Lokomotif “Mak Itam” melewati tanjakan daerah Kayutanam setelah kembali dari Padang Panjang untuk mengambil batu bara di Sawahlunto pada 24 Januari 1978. (Sumber: koleksi Rob Dickinson)

Lokomotif Mak Itam di Depo Sawahlunto tahun 2017. (Sumber: Koleksi PBA)
Lokomotif Diesel BB 204
Guna meningkatkan pengangkutan di Sumatera Barat, Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) mendatangkan Lokomotif Diesel BB 204. Lokomotif Pabrikan Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik (SLM) ini merupakan satu-satunya buatan Eropa yang khusus dioperasikan di jalur bergigi di Sumatera Barat.
Lokomotif BB 204 didatangkan sejumlah 17 unit yang terbagi menjadi tiga tahap, yakni tahun 1981, 1982, dan 1984. Sampai akhir tahun 2011, masih ada tujuh unit lokomotif BB 204 yang siap operasi. Namun akibat batu bara di Sawahlunto habis sehingga kereta api bergigi tidak dioperasikan lagi.
Kini, beberapa lokomotif diesel BB 204 yang masih ada yakni BB 2049305 dan BB 2049306 yang berada di ex Depo Solok. Pada tahun 2019, kedua lokomotif ini diusulkan untuk dikirim ke Balai Yasa Yogyakarta guna dilakukan perbaikan untuk selanjutnya dimanfaatkan sebagai lokomotif penarik kereta wisata di Ambarawa.

Dimensi Lokomotif BB 204. (Sumber: Lokomotif & Kereta Rel Diesel di Indonesia)

Lokomotif BB 2049305 dan BB 2049305 di eks Depo Solok tahun 2017. (Sumber: Koleksi PBA)
Sawahlunto Rail and Train Museum
Menjelang akhir tahun 2000, produksi batubara di Sawahlunto semakin berkurang. Secara otomatis aktivitas dan keberadaan kereta api di Sumatera Barat juga terimbas.
Sebagai upaya melestarikan Stasiun Sawahlunto, PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan pemerintahan Kota Sawahlunto bekerja sama memanfaatkan Stasiun Sawahlunto sebagai museum. Museum Sawahlunto diresmikan tanggal 17 Desember 2005 oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Salah satu koleksi Museum Sawahlunto yang terkenal adalah Lokomotif Uap bergigi E1060 atau lebih dikenal dengan sebutan “Mak Itam”.
Sawahlunto Rail and Train Museum masuk ke dalam Area A Warisan Budaya Duni (WBD), menjadi salah satu bagian dari Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto, Unesco. Museum yang awalnya stasiun ini juga sudah tercatat sebagai bangunan cagar budaya melalui Surat Keputusan Walikota Sawahlunto Nomor: 188.45/59/WAKO-SWL/2019 dan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 345/M/2014.

Suasana Sawahlunto Rail and Train Museum tahun 2017. (Sumber: Koleksi PBA)
Sumber:
Abrar, Angkutan Kereta Api dan Perkembangan Ekonomi Sumatra Barat 1887-1940, Tesis Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2001
Hartono, Lokomotif & Kereta Rel Diesel di Indonesia, Depok: PT Ilalalng Sakti Komunikasi, 2012
J.J.G. Oegema, De Stoomtractie Op Java En Sumatra, Kluwer Technische Boeken B.V.-Deventer, 1982
S. A. Reitsma, Korte Geschiednis der Nederlandsch Indsich Spoor en Tramwegen, Weltevreden: G. Kolff & Co, 1928