
Kuliner Khas Jadi Daya Tarik, KAI Catat 2,1 Juta Pelanggan di Tiga Layanan Kereta
Kuliner khas daerah bisa menjadi alasan menarik untuk menjelajahi berbagai kota, mulai dari berburu timlo di Solo, lumpia di Semarang, mendoan di Purwokerto, hingga empal gentong di Cirebon. Perjalanan menggunakan kereta api memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati kekayaan kuliner sekaligus mengenal budaya dan kehidupan lokal di setiap destinasi.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat KA Joglosemarkerto, KA Lodaya, dan KA Ranggajati melayani 2.114.131 pelanggan sepanjang Januari–September 2026. Jumlah tersebut meningkat 10,46% dibandingkan periode yang sama pada 2025, yaitu sebanyak 1.913.930 pelanggan.
Vice President of Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan bahwa perjalanan kuliner menjadi salah satu cara menyenangkan untuk mengenal karakter suatu daerah. Melalui makanan khas, masyarakat dapat menemukan cerita mengenai tradisi, kebiasaan keluarga, hingga resep yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Berdasarkan data KAI, KA Joglosemarkerto mencatat 1.104.419 pelanggan, meningkat 9,73% dibandingkan 1.006.467 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Layanan melingkar ini menghubungkan sejumlah kota, yaitu Solo, Yogyakarta, Purwokerto, Tegal, dan Semarang, yang masing-masing memiliki kekayaan kuliner khas.
Di Solo, pelanggan dapat menikmati timlo, nasi liwet, selat Solo, dan serabi. Perjalanan ke Yogyakarta menawarkan pilihan gudeg dan bakpia, sementara Semarang dikenal dengan lumpia, tahu gimbal, dan bandeng presto. Adapun Purwokerto memiliki mendoan hangat yang menjadi salah satu hidangan favorit masyarakat setempat.
Sementara itu, KA Lodaya yang melayani relasi Bandung–Solo Balapan pulang-pergi mencatat 506.637 pelanggan, tumbuh 7,54% dibandingkan 471.094 pelanggan pada 2025. Rute ini menghubungkan dua kota dengan karakter kuliner yang berbeda. Bandung menawarkan beragam hidangan seperti batagor, mi kocok, dan surabi, sedangkan Solo memiliki pilihan makanan tradisional yang menjadi bagian dari identitas daerahnya.
Pertumbuhan pelanggan juga tercatat pada KA Ranggajati yang melayani relasi Cirebon–Jember pulang-pergi melalui Surabaya Gubeng. Sepanjang Januari–September 2026, layanan ini melayani 503.075 pelanggan, meningkat 15,29% dibandingkan 436.369 pelanggan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Cirebon dikenal dengan empal gentong, nasi jamblang, dan tahu gejrot. Perjalanan menuju Jawa Timur juga membuka kesempatan bagi pelanggan untuk menikmati kuliner khas Surabaya, seperti rawon dan rujak cingur, serta suwar-suwir dan pecel pincuk di Jember.
Anne menjelaskan bahwa pertumbuhan jumlah pelanggan pada ketiga layanan tersebut mencerminkan beragam kebutuhan perjalanan, mulai dari pekerjaan, pendidikan, kunjungan keluarga, hingga wisata. Meskipun data tersebut tidak secara khusus menunjukkan jumlah wisatawan kuliner, angka tersebut menggambarkan aktivitas perjalanan pada layanan yang menghubungkan kota-kota dengan kekayaan gastronomi.
Selain menikmati hidangan khas, perjalanan kuliner juga memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk mengenal kehidupan masyarakat setempat. Pasar tradisional, warung keluarga, pedagang makanan khas, dan kawasan kuliner menjadi tempat bagi pengunjung untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat sekaligus memahami tradisi yang berkembang di suatu daerah.
Melalui layanan kereta api yang menghubungkan berbagai kota, pelanggan dapat merencanakan perjalanan untuk menikmati kuliner sekaligus mengeksplorasi budaya lokal. Pengalaman sederhana, seperti mencicipi resep keluarga yang telah diwariskan selama bertahun-tahun atau mengunjungi warung legendaris, dapat menjadi bagian berkesan dari perjalanan dan alasan untuk kembali menjelajahi Indonesia.